
“Aku, dosen kamu ....”
Ucapnya menyadarkan Ara dengan posisinya sekarang. Ara hampir lupa, kalau Morgan adalah dosen sekaligus teman kakaknya, kakak teman sekelasnya, dan orang yang ia benci karena sudah sering kali melecehkannya.
‘Gue benci banget sama loe, Gan,’ batin Ara merasa kesal.
“Dan saya ...,” ucapnya menggantung, “... orang yang akan menjadi suamimu nanti,” sambungnya.
“Pfftttt ....”
Ara tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat bodoh itu. Kenapa Morgan dengan percaya diri yang tinggi, berbicara seperti itu padanya?
“Haha. Gak lucu tau gak!” bentak Ara dengan kasar.
Morgan terlihat membelalak ke arahnya.
“Kenapa?” tanya Morgan yang nampak bingung dengan ucapan Ara.
“Loe udah punya orang yang loe suka!” jawab Ara spontan tanpa ada rasa ragu.
Ara tidak mau, semua orang dipermainkan oleh Morgan. Ara hanya kasihan dengan nasib wanita yang sedang Morgan kejar.
Morgan terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Ara menyunggingkan senyumnya.
“Kenapa? Gak bisa jawab, ha?” Matanya membelalak, merasa sudah menang dari Morgan.
“Iya. Orang itu adalah kamu,” jawab Morgan.
“Deg ....”
Morgan tiba-tiba saja mengucapkan kata-kata itu pada Ara, yang lantas membuat Ara kebingungan setengah mati.
Apa ucapan itu benar adanya? Pikir Ara.
‘Tuhan, jantung gue kok sakit, ya?’ batin Ara mengaduh.
“Ma-maksud loe apa?” tanya Ara yang masih bingung dengan ucapan Morgan.
“Yang kamu dengar waktu itu, ya kamu. Kakakmu berniat menjodohkan saya dan kamu,” jelas Morgan.
Woah!
Dunia seakan runtuh sekarang. Bisa-bisanya Arash melakukan ini, tanpa persetujuan Ara lebih dulu.
‘Hah? Kakak?’ batin Ara yang tak bisa berhenti terkejut.
“Kakak gue gak mungkin begitu!” Ara membentak Morgan, karena masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Demi bisnis, dia rela lho bikin keputusan, untuk nyerahin adik gadisnya ke orang lain,” Morgan menyeletuk demikian, membuat Ara kaget dan geram setelah mendengar ucapannya.
Amarahnya sudah tidak bisa tertahan lagi kali ini.
“Plak ....”
Satu tamparan mendarat di pipi halus Morgan.
‘Biar aja. Biar rasa,’ batin Ara yang sudah gemas dengan Morgan.
“Jaga ya, bicara loe!” ucap Ara memberinya peringatan, sembari menunjuk ke arah Morgan.
Morgan terlihat diam sembari menunduk. Sikapnya sepertinya tiba-tiba berubah.
Ia spontan menatap ke arah Arasha, membuat Ara agak takut dengan reaksinya itu.
“Kenapa sih, kamu senang banget bentak saya, bahkan nampar saya, di saat-saat seperti ini?!” bentak Morgan dengan keras, yang benar saja membuat tubuh Ara seketika gemetar.
__ADS_1
“Brakk ....”
Tak disangka, Morgan meninju tembok lagi. Bahkan kali ini, terdengar lebih kencang dari sebelumnya.
Ara merasa takut dengan sikap Morgan yang seperti ini. Apa ini sikap asli dari seorang yang selalu bersikap lembut terhadapnya?
Tangis Ara sudah tak bisa terbendung lagi. Ia menangis tersedu-sedu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Morgan yang mengetahuinya, langsung mendadak menghela napasnya untuk mengatur emosi yang ada pada dirinya.
“Saya bikin kamu takut lagi, ya?” tanya Morgan dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi halus sekali.
Berbeda dari sikap kasarnya tadi, Morgan memeluk Ara yang sedang menangis berlinang air mata, ke dalam pelukannya.
Hati Ara terasa hancur!
Ia tidak bisa melihat orang lain melukai dirinya sendiri. Ara tidak mau kejadian ibu dan ayahnya terulang lagi.
Ara tidak mau.
Morgan tiba-tiba membelai lembut rambut Ara dengan lembut.
Ia mencoba membuka kedua tangan Ara, yang menutupi wajahnya. Morgan mengusap air mata Ara yang sudah membanjiri wajahnya.
“Udah ... maafin saya, ya,” gumamnya sembari mengelap air mata Ara.
Ara masih saja menangis dan tak menghiraukannya.
“Dengerin aku ya ...” ucapnya membuat Ara terdiam sesaat.
Morgan sama sekali tidak berbicara apa pun. Pandangan mereka bertemu pada satu titik. Morgan merasakan gejolak yang aneh di dalam dirinya, membuatnya berusaha mendekat, untuk mencium Ara.
“Jangan--” lirih Ara yang tak dihiraukan oleh Morgan.
Morgan mencium bibir Ara. Morgan mulai memainkan permainannya, untuk menikmati setiap sisi bibir Ara. Ara menjerit takut, karena tangan Morgan yang sudah mulai menggerayangi semua bagian leher Ara.
Ara berusaha melepaskan diri dari Morgan. Tapi, biar bagaimana pun juga, tubuhnya lebih besar dari tubuh Ara, membuat Ara tidak bisa sama sekali menggeser tubuh Morgan itu.
“Enyah lah!” Ara berteriak kasar, saking takutnya dengan sesuatu yang sedang Morgan lakukan.
Perlahan Morgan mulai membuka kancing atas kemeja Ara. Ara ternyata sudah dibuat mabuk dengan permainannya itu.
Sudahlah.
Ara tidak bisa mengelak kali ini.
‘Gue harus gimana?’ batin Ara yang masih sedikit merasa tidak rela.
Ara terdiam, sembari sedikit menikmati permainannya.
‘Ah, lagian gue juga udah ga ada harga dirinya di mata dia,’ batin Ara berpikir akan bagaimana jadinya ia nanti.
Morgan melepaskan diri darinya.
“Hmm ....” Morgan terlihat tersenyum tipis di hadapan Ara.
Ara tidak tahu Morgan sedang berpikir apa. Morgan melanjutkan permainannya. Kancing ke-2 telah berhasil ia tanggalkan. Kemudian kancing ke-3.
Morgan berhenti untuk memandang Ara sejenak. Perasaan takut Ara, mulai muncul kembali saat ini.
“Saya mau, kamu jadi milik saya,” lirih Morgan.
Ara tak bisa berbuat apa pun. Ia menatapnya dengan pandangan yang mengatakan, “jangan ....”
“Aku akan jaga kamu, kok,” lanjutnya sembari membuka kancing ke-4 dan kancing ke-5 kemejanya.
__ADS_1
Kini kemeja Ara tidak lagi terpasang kancing.
“Maaf ... saya harus begini,” ucapnya, “saya sayang banget sama kamu,” sambungnya.
Ara hanya diam. Otak dan keadaannya sudah tidak sinkron sekarang. Ara tidak bisa berbuat apa pun. Seperti beku, tak bisa berkutik.
“Saya janji, saya pasti menjaga kamu.” Morgan melepaskan kaos polos yang sedang ia kenakan.
Dadanya yang bidang, dengan bentuk otot sixpack, terlihat sangat sexy dan cocok untuk style Morgan ini.
Ini merupakan kali kedua, Ara melihat tubuh Morgan tanpa busana.
Aliran darah seketika naik ke otak Ara. Ia ternyata sudah lepas kendali, dan tidak bisa lagi menahan semuanya.
“Ini akan terasa menyakitkan. Tapi ... tahan, ya,” ucap Morgan dengan senyuman hangatnya.
Ara mulai gugup dan tubuhnya berubah suhu menjadi panas dingin.
“Jangan ...,” lirih Ara, tapi Morgan tak menghiraukan apa pun lagi yang Ara katakan.
Malam ini berlalu begitu saja. Dengan perasaan yang Ara sendiri tak tahu itu apa.
Dasar Morgan idiot!
***
Sinar mentari menyorot kembali ke arah wajah Ara.
Perlahan, Ara membuka matanya.
Ara menoleh ke sekelilingnya, dan tak sengaja melihat wajah polos Morgan yang sedang tidur di sampingnya.
Seperti De javu, Ara melihat Morgan di sana.
“Apa gue cuma mimpi, ya?” lirih Ara.
Ia bangkit dan melihat sekelilingnya.
“Aws ….”
Bagian bawahnya terasa sangat sakit. Pandangannya tertuju pada satu titik.
Ara mendelik, “kenapa ada darah?” lirihnya melihat sprei putih ini, yang sudah berlumuran dengan darah.
Ara mencoba mengingat kembali, tentang kejadian yang terjadi.
“Astaga! Jadi ini bukan mimpi?” Ara berteriak, karena teringat kejadian mereka tadi.
Ara merenung dan mulai meratapi nasibnya. Ara mulai menangis, menyesali perbuatannya tadi itu.
‘Gue udah gak virgin!’ batin Ara menyesali semua kejadian yang di luar batas dirinya.
Ara sudah mengecewakan kakaknya.
‘Maafin Ara, Kak.’ batinnya.
Siang itu, Ara hanya bisa menangis meringkuk dan bersandar pada dinding ranjang.
“Kenapa gue bego banget, sih?” Ara memaki dirinya sendiri, karena merasa sudah terlalu bodoh, sudah memberikan seluruh yang ia punya pada orang yang belum tentu akan menjadi miliknya nanti.
Morgan tersadar, dan berusaha membuka matanya. Ia melihat Ara yang sedang duduk meringkuk di sudut ranjang.
“Selamat siang,” sapa Morgan yang langsung bangkit menemaninya duduk.
Ara tak menghiraukannya. Ia tidak mau berbicara pada Morgan.
__ADS_1
“Kamu kenapa?” tanya Morgan dengan polosnya.