Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pernyataan Rafa


__ADS_3

Saat ini, Rafa sudah berada di depan rumah wanita idamannya. Di tangannya kini, sudah ada seikat bunga mawar merah yang indah, dan juga sebuah coklat yang cukup panjang.


Rafa mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam rumah wanita pujaannya.


Dengan perasaan canggung dan tegang, ia pun memencet bel yang ada di sudut dinding depan pintu masuk rumah.


“Teng ....”


Rafa menunggu sebentar, agar seseorang bisa membukakan pintu untuknya.


“Gak ada yang bukain,” lirih Rafa yang kebingungan, karena tidak ada yang menjawab bel pertamanya.


“Ting ....”


Ia pun menekan kembali bel kedua, dan kembali menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.


“Ckrekk ....”


Seseorang tiba-tiba saja membuka pintu, membuat Rafa memperhatikan dirinya dengan tatapan yang dalam.


‘Cantiknya ...,” batin Rafa yang terkesima dengan penampilan Kim, yang baginya terlihat selalu cantik.


Saat Rafa menghampiri Kim yang melintas di koridor kelasnya waktu itu, ia berhasil mendapatkan nomor telepon Kim, dan segera melancarkan aksi pendekatan terhadap Kim.


Dengan perjuangan yang ekstra, akhirnya saat ini Rafa bisa berada di rumah Kim, untuk mendekatinya lebih serius lagi. Bahkan Rafa sudah berniat untuk menyatakan perasaannya pada Kim, malam ini juga.


Kim melontarkan senyumannya ke arah Rafa, “halo,” sapa Kim, membuat Rafa melebarkan senyumannya.


Rafa menafikan wajahnya karena malu, kemudian segera memandang ke arahnya kembali, “halo, Kak Kim,” lirih Rafa yang malu-malu menjawab sapaan Kim.


“Silakan masuk,” ucap Kim dengan nada yang masih terdengar kaku dalam mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia.


Seperti yang kita semua ketahui, Kim adalah wanita asli import-an dari Korea, yang singgah di Indonesia, karena beberapa alasan. Hal itu yang membuat Kim masih belum sepenuhnya lancar berbahasa Indonesia.

__ADS_1


“Terima kasih,” jawab Rafa.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Kim, yang masih ia sewa itu.


Ya, dengan keadaan Kim yang hanya memiliki visa izin tinggal di tanah air selama dua tahun, dan memang kebijakan di Indonesia yang tidak memperbolehkan Warga Negara Asing untuk memiliki properti di Negara ini, membuatnya harus tinggal di rumah sewaan yang kecil ini.


Karena untuk tinggal di sebuah rusun atau rumah susun, mungkin akan membuatnya merasa risih dan terganggu. Apalagi aturan di Negara ini, warga asing tidak boleh tinggal lebih dari enam tahun, membuatnya berpikir dua kali jika harus membeli rusun di Negara ini.


Kecuali jika ia memutuskan harus berpindah kewarganegaraan menjadi WNI, memungkinkan dirinya bisa membeli rumah di Negara ini.


Rafa duduk di atas lantai, karena rumah sewaan itu yang tidak terdapat kursi satu pun, apalagi sofa.


Sedikit banyaknya, Rafa merasa sangat iba dengan keadaan Kim, yang sangat sederhana ini.


Kim datang, membawakan sebotol minuman ringan, dan juga beberapa cemilan yang ia beli di mini market. Rafa yang melihat kedatangannya, segera melontarkan senyum ke arahnya.


“Hanya ada ini,” lirih Kim, membuat Rafa tersenyum, seakan ia tidak memikirkan apa pun tentang Kim.


“No problem, thank you, Kim,” ucap Rafa, membuat Kim mendelik kaget.


“Oh ya, this is for you,” ucap Rafa, sembari menyodorkan bunga dan coklat yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


Kim tersenyum, karena melihat Rafa yang bersikap sangat romantis seperti ini padanya. Dengan perasaan bahagia, Kim mengambil semua yang Rafa sodorkan padanya.


Rafa memperhatikan sekelilingnya, “boleh aku tahu alasan kamu tinggal di tempat seperti ini?” tanya Rafa, membuat Kim berubah menjadi murung ketika mendengar pertanyaan Rafa.


Rafa mendelik, karena merasa dirinya sudah salah bicara pada Kim.


“I am sorry, i don’t means, aku cuma mau tahu aja, alasan kamu pindah ke Indonesia dan tinggal di tempat seperti ini,” ucap Rafa yang merasa tidak enak pada Kim.


Kim memandang ke arahnya, “gak apa-apa. Maaf kalau rumahnya terlalu sempit dan tidak sesuai dengan yang kamu pikirkan. Saya selalu mensyukuri semua yang saya miliki. Karena keterbatasan seorang WNA yang tidak boleh membeli rumah di Negara ini, membuat saya harus tinggal di tempat seperti ini. Karena untuk tinggal di sebuah rumah susun, saya tidak merasa nyaman,” ucap Kim yang menjelaskan alasannya memilih tinggal di tempat seperti ini.


Mata Rafa membulat sempurna, “oh, jadi seperti itu alasannya,” lirih Rafa, yang akhirnya paham dengan keadaan Kim saat ini.

__ADS_1


“Lantas, apa yang membuat kamu bisa datang ke sini?” tanya Rafa lagi.


Sejujurnya Kim sangat ragu untuk mengatakannya pada Rafa, karena ia belum terlalu mengenal sosok Rafa dalam kehidupannya.


Suasana mendadak terasa mellow.


Kim menafikan pandangannya karena merasa sendu, “aku menghindari perjodohan,” jawab Kim, membuat Rafa mendelik sempat tak percaya dengan apa yang Kim katakan.


“Jadi, itu sebabnya kamu menghindari keluarga kamu?” tanya Rafa, membuat Kim mengangguk kecil.


“Sejujurnya, aku malu mengakui ini semua. Aku takut, kamu menjauhi aku, seperti mereka,” lirih Kim, membuat Rafa mendelik.


“Gak akan aku jauhin kamu lah! Lagian, aku bangga sama kamu, karena kesederhanaan kamu, kamu bisa bertahan hidup di Negara orang tanpa ada rasa malu,” tepis Rafa, membuat satu senyuman muncul di pipi Kim mengembang.


Rafa merasa sangat beruntung bisa kenal dan dekat dengan Kim, walakin ia juga sangat iba dengan keadaan Kim saat ini.


‘Ternyata, Rafa orang yang sangat pengertian,’ batin Kim, yang sudah merasa nyaman dengan sosok Rafa saat ini.


Meskipun belum terlalu mengenal sosok Rafa, senyampang Kim sudah begitu merasa nyaman dengan Rafa. Padahal, awalnya ia sangat menyukai sosok Morgan, yang baginya sangat perfect. Tapi ia sadar, Morgan belum tentu bisa menghargainya, seperti Rafa yang menghargainya saat ini.


Rafa melirik ke arah Kim, “apa ... kamu tidak ada niatan untuk menikah?” tanya Rafa dengan malu, dan dengan pipi yang sudah mulai merona.


Kim mendelik, “kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya balik Kim, membuat Rafa semakin malu.


“Terus-terang saja, aku merasa iba dengan keadaan kamu. Ditambah lagi, perasaan dan gejolak di hati ini, yang sudah tidak bisa menahan perasaan lagi,” lirih Rafa, membuat Kim mendelik tak percaya dengan perkataannya.


Walau malu, Rafa berusaha menguatkan dirinya untuk bersikap tegas pada Kim. Ia menghela napasnya dengan panjang.


Rafa meraih botol minuman ringan yang ada di hadapannya, “anggaplah ini adalah tangan kamu,” ucap Rafa, yang sangat malu menyentuh tangan Kim.


Kim semakin mendelik, karena perlakuan Rafa padanya, yang tidak ingin menyentuh sedikit pun dirinya.


Rafa menunduk dan memejamkan matanya, “Kak, menikahlah denganku. Aku janji, akan memberikan yang terbaik untuk kamu!”

__ADS_1


...***...


__ADS_2