
Pikiran Morgan menjadi semakin tidak tenang. Ingin rasanya aku meluapkan semuanya, pikir Morgan bertambah resah dengan keadaan.
Morgan memandangnya dengan bingung, "jadi menurut kamu, saya harus gimana? Saya harus melakukan apa lagi?" tanya Morgan yang terdengar seperti sudah pasrah dengan keadaan.
Dicky memandangnya lekat, "melakukan apa?" tanya Dicky yang tak paham dengan yang Morgan ucapkan.
"Ya ... apa saya harus menarik ulur perasaannya? Atau terang-terangan bilang kalau saya tidak menyukai yang sedang dia rasakan saat ini?" tanya Morgan kembali.
Dicky terlihat diam sembari menatap ke arah depan, mungkin saat ini, dia sedang berpikir bagaimana cara agar bisa mengungkap semuanya, pikir Morgan yang masih menunggu dirinya berbicara.
Dicky memandang Morgan, "kalau seandainya dengan cara mendekat dia selalu menjaga jarak dengan kamu, dan selalu acuh sama kamu, lebih baik saat ini kamu jaga jarak sama dia dulu deh! Biar dia berpikir, dan coba kamu kasih waktu dulu ke dia buat nerima semua keadaan yang sudah terjadi," ucap Dicky, membuat Morgan berpikir sejenak tentang konsekuensinya.
Morgan menatap Dicky dengan tajam, "apa kamu yakin?" tanya Morgan, membuat Dicky mengangguk mantap.
"Ya, saya yakin! Kita sebagai laki-laki, harus bisa mengambil pilihan. Menjalin hubungan dengan seorang gadis remaja memang sangat memuakkan. Anggap saja sedang gamebling, harus mengambil satu pilihan yang sulit. Gak bisa kita tentuin semuanya, dan mengambil semua opsi yang ada. Hidup itu pilihan," ucap Dicky, membuat Morgan mendelik bingung mendengar yang Dicky katakan.
"Tapi gimana? Saya gak bisa ambil satu pilihan. Jauh dari dia saja saya gak sanggup. Ditambah lagi sebentar lagi saya akan pergi ke tempat yang sangat jauh, dan juga cukup lama. Saya gak akan bisa ngelakuin itu ke dia," bantah Morgan yang tidak sanggup menerima perkataan Dicky yang menyuruhnya untuk mengulur hatinya.
"Hmm ... balik lagi ke hukum alam, hidup itu pilihan, gak bisa kita mengambil semua opsi. Paling tidak, harus merelakan salah satu hal," ucap Dicky yang berusaha untuk meyakini Morgan, kalau di dalam hidup ini memang harus memilih kedua hal yang berbeda.
__ADS_1
Mendengar pernyataan Dicky, Morgan terdiam untuk meyakini dirinya sendiri, jangan sampai saya salah ambil langkah, pikir Morgan yang menekankan pada dirinya sendiri.
"Apa benar seperti ini?" tanya Morgan yang masih belum yakin dengan keputusannya.
Dicky mengangguk kecil, "ya ... paling tidak, biarin dia milih yang mana yang terbaik buat dia, apakah yang sedang dia jalani sekarang atau laki-laki lain yang sama sekali kita nggak tahu itu siapa. Nanti pada akhirnya, dia pasti akan merasa kesepian sih, yang biasanya mungkin kamu nelepon dia, ngajak jalan dia, terus biasanya kamu ngajak dia makan, terus sekarang tiba-tiba menjauh. Mungkin ada perasaan kehilangan di saat itu. Dan kamu juga harus tahu, kapan saatnya menarik hati dia lagi. Jangan sampai dia berpaling ke lain hati, cuma gara-gara sikap dingin kamu ini yang sedang mengulur hati dia," ucap Dicky panjang lebar, membuat Morgan kembali berpikir sejenak.
"Kalau misal tidak berhasil, bagaimana?" tanya Morgan, membuat Dicky menghela napasnya.
"Percaya aja, semua orang pasti butuh waktu dan mungkin sekarang mentalnya Ara sedang terganggu. Mengingat jarak antara umur kamu sama Ara yang juga jauh banget. Kamu gak bisa nyamain persepsi antara pikiran kamu dan pikiran dia. Terlebih lagi, hampir semua laki-laki menggunakan logika, berbeda dengan wanita yang lebih banyak memakai perasaan," jawab Dicky panjang lebar.
Morgan hanya diam sembari merenungkan ucapan Dicky.
"Kalau gitu, terima kasih atas sarannya, Dik. Saya pasti dengerin saran dari kamu. Saya juga nggak mau terlalu memusingkan hal yang belum saya ketahui dengan pasti," ucap Morgan membuat Dicky menyeringai.
"Nah, gitu dong. Memendam masalah gak akan menyelesaikannya. Yang ada malah muncul masalah yang baru lagi," ucap Dicky, membuat Morgan tersenyum tipis.
"That's true," gumam Morgan membenarkan ucapan Dicky.
"Kalau dari segi sudut pandang kamu, Ara kira-kira akan memilih siapa? Kamu atau Reza?" tanya Dicky, membuat Morgan terdiam sejenak.
__ADS_1
"Menurut saya, itu hal yang masih rancu dan belum bisa saya jawab, karena memang salah dari saya juga yang belum sempat mengetahui masa lalunya Ara. Tapi saya dengan PD-nya mendekati dia. Walaupun saya sudah mengenal Ara jauh sebelum akhirnya saya bertemu lagi dengan dia, tapi selama kami berpisah dan tidak bertemu lagi, saya nggak tahu kejadian apa yang terjadi sama dia dan saat itu juga, saya juga masih deket sama Putri. Mungkin saja laki-laki yang bernama Reza itu adalah masa lalunya dia. Namanya saja cinta monyet. Jangankan Ara yang masih berusia 18 tahun, saya yang sudah seusia ini saja masih mengingat cinta pertama saya," ucap Morgan panjang lebar.
Dicky terlihat sedang menahan tawanya, membuat Morgan menatapnya dengan tatapan datar.
Aku tahu apa yang dia maksud, pikir Morgan.
"Enggak usah ketawa deh, saya tahu apa yang kamu maksud," tukas Morgan dengan malas, membuat Dicky semakin tidak bisa menahan tawanya.
"Ya ampun, santai aja kali, Gan. Kamu sama saya kan seumuran," tawanya pecah karena membahas soal usia, membuat Morgan mendadak menjadi kesal.
"Gak usah ngeledek. Saya 3 tahun lebih tua dari kamu," ucap Morgan, membuat mata Dicky membelalak, dan terlihat sangat kaget.
"Hah? Jadi, usia kamu 28 tahun?" tanya Dicky.
Nadanya terdengar begitu terkejut. Morgan hanya memandangnya sinis, melirik ke arah jam tangannya, lalu bangkit dan merapikan kancing jasnya.
"Saya mau siap-siap. Sebentar lagi rapat dimulai. Kamu kalau mau di sini, silakan saja," ucap Morgan dan langsung pergi dengan dingin, dan lagi-lagi meninggalkan Dicky di sana.
Apa aku terlalu kejam? Padahal Dicky sudah membantuku memberikan solusi atas masalahku, dan juga untuk mendengarkanku bercerita. Tapi mau bagaimana lagi, aku kesal saat dia menertawakanku seperti itu. Memang, sejak dulu dia kurang bisa menjaga perkataan dan tindakannya, sehingga seringkali membuatku jengkel dan kesal atas semua ulah yang dia lakukan. Tapi disisi lain, dia selalu membantu diriku di saat aku susah. Apa lagi kejadian waktu itu yang sampai melibatkan Ara dan juga pria brengsek itu, dan juga kasus bullying Fla. Kalau tidak ada dia, mungkin aku tidak akan bisa menemukan di mana Ara saat itu. Aku harus memberikan sesuatu untuk Dicky sebagai balasan dan rasa terima kasihku, pikir Morgan sembari berlalu pergi menuju ke arah ruangan pertemuan.
__ADS_1
...***...