
Mereka pun mencari tempat untuk mereka duduk.
Ara melihat ada kursi kosong, yang baru saja ditinggalkan oleh mereka, yang duduk di kursi itu sebelumnya.
“Di situ aja!” tunjuk Ara ke arah kursi kosong itu, dengan bersemangat.
Fla dan yang lainnya melihat ke arah yang Ara tunjuk, membuat mereka menyetujui ucapan yang Ara ucapakan.
Ara menduduki tempat duduk yang ia lihat dengan segera.
Tetapi Ara terkejut, karena tiba-tiba, gerombolan Jessline menyerobot tempat yang ingin Ara tempati bersama dengan teman-temannya itu.
Mereka langsung saja duduk dengan sengaja, mendahului Ara, sampai Ara menahan kesal karenanya.
“Upsss ... sorry ya, kita duluan yang duduk di sini,” ucap salah seorang murid, sekaligus rival bagi Ara.
Callista, gadis yang lebih akrab dipanggil Aca, yang pada saat itu sedang bermasalah dengan Ara, karena dia yang sudah memberikan gelang kepada Morgan.
Gadis ini yang juga ikut serta mem-bully Fla waktu itu.
Dia terlihat sangat sombong hari ini. Dia mungkin sengaja ingin membuat gara-gara dengan Ara karena urusan mereka waktu itu yang belum selesai.
Karena Ara sudah mengetahui tentang hubungan Jess dengan kakaknya, Jess nampak lebih diam dari sebelumnya. Ia malah hampir tidak berani menatap ke arah Ara, dengan durasi yang lama.
Ray mendelik, “eh … jangan ngadi-ngadi deh ya loe pada,” bantah Ray.
Aca membalas tatapan Ray dengan lebih sengit, “ngadi-ngadi gimana? Kenyataannya, memang bener kok, gue sama temen-temen gue yang duduk duluan di sini,” ucap Aca kemudian menoleh ke arah teman-temannya, “ya kan, girls?” tanya Aca, Yusfira, dan gadis lainnya yang bernama Lisa, mengangguk setuju pada Aca.
Ara memperhatikan mereka dengan tatapan tajam menusuk.
Rafa pun mendekat ke arah Aca.
“Brak ….”
Rafa menggebrak meja di hadapan Aca, tapi itu semua tidak membuat Aca gentar dengan gertakkannya.
“Jelas-jelas Ara duluan yang liat, loe jangan cari masalah deh sama kita,” bantah Rafa dengan lirih, namun menusuk.
Aca dan dua teman lainnya, terkecuali Jess tersenyum jahat ke arah semua teman Ara.
“Ara? Yang katanya berbuat mesum di kampus itu?” ledek Aca.
“Iyuhh … gak ada moral!” ucap Yusfira.
“Yap, akhlakness banget! Kayak gak punya tempat buat ena’ena aja,” sambung Lisa.
__ADS_1
Ara geram mendengar semua tuduhan mereka, sehingga tak sadar ia mengepal tangan kanannya, sembari tetep menahan amarahnya.
‘Sialan,’ batin Ara yang hampir tidak bisa menahan emosinya.
Fla hanya bisa diam, karena memang permasalahan waktu itu, masih membekas di hati Fla, membuat Fla sedikit mengalami traumatik.
“Gak usah sok paling bener, kalo loe sendiri gak ada di tempat kejadian! Ara cuma difitnah aja!” bela Rafa.
Aca, Yusfira dan Lisa hanya tertawa jahat, mendengar perkataan Rafa.
Ara tidak tahu akan bisa atau tidak menahan rasa kesal itu.
Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka yang terus menerus mem-bully orang yang lemah, pikir Ara.
Farha yang mendengar perkataan mereka sejak tadi, hanya bisa diam, sembari memandangi mereka bergantian, dengan rasa penasaran yang sedari tadi memacunya.
“Ara? Mesum?” tanya Farha yang masih terlihat bingung.
Ray dan Rafa menoleh ke arah Farha.
Ara paham, Farha adalah anak baru yang tidak mengetahui apa pun. Maka dari itu, Ara hanya diam dan tidak menoleh ke arah Farha.
Aca tersenyum jahil, “iya! Temen loe yang satu ini tuh, baru aja berbuat mesum di kampus ini! Coba aja loe lihat di berita terkini yang ada di papan mading hari ini,” sahut Aca.
“Hah? Masa sih?” tanya Farha yang masih tidak percaya.
“Diam,” lirih Fla, membuat Farha terdiam ngeri.
Ara merasa, kalau dirinya sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Ara mendelik ke arah Aca, “loe boleh benci gue, tapi jangan loe hasut temen-temen gue supaya jadi benci juga!” lirih Ara sembari tetap menahan kesal.
Mereka bertiga hanya menyeleneh, ketika mendengar ucapan Ara, tapi Ara masih tetap tenang sembari mengatur napasnya.
Aca dan yang lainnya, terkecuali Jess, hanya tertawa ketika mendengar perkataan Ara.
‘Akhirnya dia kepancing juga,’ batin Aca yang bahagia melihat emosi Ara yang meluap-luap itu.
“Haha, males ngomong sama pel*cur murahan kayak loe,” ucap Ara, membuat Ara seketika mendelik, dan menghampiri Aca dengan cepat.
“Braakkk ....”
Ara refleks menghajar wajah Aca, dengan segala kekuatan dan emosi yang ia miliki, membuat Aca tersungkur jauh ke belakang.
Menyadari dirinya yang sudah melakukan hal ini pada Aca, membuat Ara sedikit tersadar dari sesuatu yang sudah merasukinya.
__ADS_1
Aku tidak menyangka akan kelepasan seperti ini, pikir Ara.
“Aaaww ....”
Aca pun merintih kesakitan karena Ara yang tidak sengaja memukulnya.
Siapa yang tidak kesal, jika dirinya disebut sebagai ‘pelacur murahan’ dan sampai membuat teman-temannya memusuhinya.
Ara sudah benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.
“Aca!” pekik kedua temannya itu, yang langsung menghampiri Aca yang sedang tergeletak di atas lantai kantin.
Ray dan Rafa segera menahan Ara, yang kelihatannya sudah melewati batas kesabarannya.
“Udah, Ra, jangan diterusin,” ucap Rafa, yang diindahkan oleh Ara.
Fla yang melihat kejadian itu, seketika mendelik kaget, karena baru kali ini Ara memperlihatkan hal semacam ini pada Fla.
Farha juga terkejut, namun satu senyuman tipis terukir di wajahnya.
Semua orang seketika berkumpul mengelilingi mereka. Ara sama sekali tidak mempedulikan pandangan mereka, karena dirinya yang masih tersulut dengan emosi.
“Denger ya ...,” ucap Ara dengan kasar, sembari menunjuk-nunjuk ke arah wajah Aca.
Aca memperhatikan Ara sembari mengaduh kesakitan. Ia menyadari, pukulan Ara tadi mampu membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.
“Kalo loe gak bisa jaga mulut loe, gue gak akan segan-segan buat ngerobek mulut loe, dengan mukul berulang kali!” ancam Ara dengan nada yang sudah mencapai klimaksnya.
Amarahnya memuncak, seakan sudah tidak peduli dengan apa pun dan siapa pun lagi.
Ara menoleh ke arah Jess yang terlihat sedang memperhatikan temannya dari jauh.
Pandangan mereka pun saling bertemu. Ara menatapnya dengan sinis, dan dia membuang pandangannya dengan rasa takut.
Paling tidak, itu cukup untuk menggertak Jess, jika ia ingin macam-macam dengan Ara nantinya.
Seseorang tiba-tiba terlihat berada di hadapan Ara sekarang.
Ara yang menyadarinya, pun langsung melihat ke arahnya, disusul Fla, Ray, dan Rafa, tak terkecuali Farha yang sedang mendelik.
Terlihat Morgan yang sedang menatap Ara dengan tatapan datar, sembari terus-menerus menghela napas.
Ara merasa, dirinya kini sedang berada di ujung tanduk.
Morgan menangkap basah Ara, membuat dirinya sudah tidak bisa berkata apa pun lagi.
__ADS_1
Walaupun pada dasarnya Aca yang memulai peperangan ini, tapi Ara lah yang salah, karena sudah memukulnya lebih dulu.
***