Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Tidak Salah Pilih!


__ADS_3

“Apa-apaan ini Ara?” tanya Kaprodi dengan sinis.


Kaprodi yang hampir tidak punya rambut itu, nyaris membuat Ara tertawa, karena melihat kepalanya yang jarang terdapat rambut.


‘Anjrit jadi ngakak gini,’ batin Ara yang hanya diam menunduk, tanpa mau melihat ke arahnya.


“Kamu dititipin di sini tuh untuk kuliah, bukan untuk berkelahi! Memangnya kamu tidak malu, sama teman-teman yang lain?” ujarnya.


Ara masih saja hanya menunduk, sembari tersenyum kecil untuk menahan tawanya.


Perhatian Ara hanya tertuju pada rambutnya, bukan pada ucapannya.


Morgan menoleh ke arah Ara, dan memperhatikan sikap Ara yang sepertinya tidak bisa serius. Padahal saat ini, Ara sedang berhadapan dengan Kepala program studi di kampus ini.


Morgan mencubit Ara.


“Aws ....”


Ara mengaduh lirih, karena Morgan yang mencubit tangannya. Ara melirik kecil ke arah Morgan, yang hanya memandangnya dengan tatapan datar.


Mungkin dia memberi signal code agar aku tidak tertawa. Tapi justru aku malah semakin tidak bisa menahan tawaku, pikir Ara.


“Kamu paham tidak, apa yang saya ucapkan?” tanyanya.


Ara mengangguk kecil, masih saja menahan tawanya sembari menunduk.


Kaprodi yang menyadari hal itu, membuatnya menggeleng sembari mendecap.


“Arasha!” pekiknya.


Ara spontan menoleh ke arahnya, dengan sangat terkejut.


“I-iya, Pak!” pekik Ara.


“Kamu paham tidak, yang saya ucapkan tadi?” tanyanya lagi.


Ara hanya diam bengong, dan tidak tahu dengan apa yang baru saja ia ucapkan, karena Ara yang memang sejak tadi tidak menyimaknya.

__ADS_1


Kaprodi itu lagi-lagi menggelengkan kepalanya sembari mendecap.


Mungkin ia sudah kesal dengan kelakuanku? Pikir Ara.


“Karena kamu yang sudah berbuat macam-macam di kampus ini, kamu saya skors selama dua minggu!” ucapnya, Ara menganga kaget ketika mendengar keputusannya itu.


Ara tentu saja tidak bisa menerima keputusannya itu.


“Lho … gak bisa gitu dong, Pak! Nanti saya gak bisa ikut ujian dong kalau gitu? Satu minggu lagi kan, saya ujian kenaikan semester, Pak!” bantah Ara.


Kalau bukan karena ujian kenaikan semester, aku juga pasti sudah senang karena harus berdiam diri di rumah saja, pikir Ara.


“Kamu ikut susulan! Dan otomatis, nilai kamu E selama satu semester ini,” ucapnya sinis.


Pikiran bapak ini, sungguh di luar nalarku! Aku sama sekali tidak bisa mencerna maksud dan tujuannya, pikir Ara.


“Pak ... gak bisa gitu dong, Pak. Mengikuti ujian kenaikan semester adalah hak seluruh mahasiswa. Bahkan yang sedang mempunyai trouble sekali pun, tetap harus mengikutinya. Entah bagaimana caranya, di rumah atau di sekolah, tetap harus mengerjakan,” bela Morgan.


Ara mulai bisa bernapas lega setelah Morgan membelanya.


“Tapi Pak Morgan, saya melakukan ini demi membuat seluruh mahasiswa menjadi tertib dengan peraturan kampus,” sangkalnya membuat Ara semakin bertambah gondok.


Morgan mendelik dan mengubah posisinya, “pastinya akan ada nilai-nilai lainnya yang mendapat nilai E. Jika di semester tujuh dan delapan nanti, mereka tidak bisa mengejar target revisi karena kelebihan mata kuliah yang harus direvisi, mereka harus menunggu semester berikutnya. Belum lagi kalau mata kuliah yang mereka ingin revisi sudah tidak tersedia atau penuh? Mau tidak mau mereka harus menunggu di semester berikutnya. Otomatis mereka akan menunda wisuda mereka, demi mengejar target nilai yang harus mereka capai lebih dulu,” jelas Morgan panjang lebar.


Ternyata, di balik sikap Morgan yang selalu seenaknya seperti itu, terselip rasa tanggung jawab terhadap para mahasiswa yang ia pegang, terutama Ara.


Ara tidak salah pilih pasangan!


Morgan membelanya mati-matian, meskipun dia tahu, Ara memang betul menghajar Aca tadi. Tapi Ara tidak sepenuhnya salah dalam kasus ini.


Tidak akan ada asap, kalau tidak ada api.


Biar bagaimanapun juga, Morgan adalah pacar Ara. Mau tidak mau, dia harus memihak pada Ara. Terlebih lagi ini bukan sepenuhnya kesalahan Ara.


Aku menang kali ini, pikir Ara.


“Bapak paham tidak, dengan keputusan yang bapak ambil ini? Apa bapak mau generasi anak bangsa jadi lamban berkembang, akibat keputusan sepihak ini? Kita tidak akan pernah tahu ke depannya, nasib mahasiswa kita itu seperti apa. Tapi setidaknya, dengan menyelamatkan satu orang di masa kini, mungkin akan berdampak besar terhadap masa depan nanti,” cecar Morgan, yang mulai membuat sudut pandang Kaprodi menjadi melemah.

__ADS_1


“Siapa tahu, orang yang sedang duduk di hadapan bapak ini, adalah calon orang sukses?” tambah Morgan.


Pak Kaprodi pun hanya memandang tajam Morgan, sembari membenarkan kaca matanya yang ia kenakan itu.


Ara hanya pura-pura tidak melihatnya, karena Ara meyakini, Kaprodi masih akan tetap dengan keputusannya.


“Lantas, kenapa anda membela yang salah? Bukannya itu tidak patut dilakukan seorang dosen andal seperti Pak Morgan ini?” tanya Kaprodi, membuat Morgan mengubah posisi duduknya dengan benar.


Morgan mendelik, “tidak akan ada api, jika tidak ada asap,” ucap Morgan, membuat mata Kaprodi berbinar.


Kaprodi itu mulai merenung, dan berpikir kembali tentang keputusan sepihaknya itu.


Ia membenarkan dasinya yang sudah benar, “ehmm ... setelah saya menimbang dengan saksama, ada benarnya juga ucapan dari Pak Morgan ini. Keputusan saya, akan saya ringankan menjadi satu minggu saja. Saya harap, kamu tidak akan mengulangi hal semacam ini lagi. Dan saya ingin, kamu bisa mempertanggungjawabkan pendirian kamu dengan menandatangani perjanjian di atas materai,” jelasnya.


Ara yang mendengar semua yang ia katakan, masih merasa keberatan dengan hal itu.


‘What? Harus pake perjanjian segala? Ribet amat sih!’ batin Ara kesal.


Ara melihat ke arah Morgan, yang sedang memperhatikan bapak Kaprodi.


Mata cokelatnya mengalihkan perhatian Ara, dan mendadak mabuk dibuatnya.


Untungnya, saat ini dia sudah menjadi milikku. Aku tidak lagi merasa kesal karena tidak bisa menumpahkan perasaanku, pikir Ara.


Tiba-tiba saja Morgan menoleh ke arah Ara.


Tatapan mereka bertemu satu sama lain. Keheningan terjadi seketika, sesaat setelah Morgan mulai memandang wajah Ara.


Ara sedikit terkejut, karena Morgan yang melihat Ara dengan tatapan yang berbeda kali ini.


Seperti sedang mengatakan, ‘aku rindu!’


Bapak Kaprodi melihat keanehan di antara staff-nya dan juga mahasiswinya itu. Ia pun mendelik ke arah Ara dan juga Morgan.


“Ekhmmmm ....”


Ia berdehem keras, membuat Ara dan Morgan sadar dari lamunannya.

__ADS_1


Ara yang terkejut, langsung gelagapan, dan membuang pandangannya dari Morgan, begitu pun Morgan.


Ara melihat ke arah Kaprodi, yang sedang menggeleng kecil sembari mendecap.


__ADS_2