
Sudah selarut ini, tapi belum juga pulang. Ke mana sih kakak? Tidak biasanya dia seperti ini. Handphone-nya tidak bisa dihubungi, asisten dan juga manajernya pun tidak ada yang bisa dihubungi. Aku jadi semakin khawatir, ditambah Morgan yang sejak tadi siang tidak membalas pesan singkatku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan mereka di luar sana. Apa mereka sedang bersama sekarang? Pikir Ara, yang sedari tadi sangat khawatir dengan keadaan mereka.
"Duh ... kakak sama Morgan kenapa gak bisa dihubungin, sih? Kenapa mereka jadi pada sok ngartis begini?" gumam Ara dengan lirih, saking khawatirnya pada mereka.
Kesal, cemas, gelisah, khawatir, rasanya semuanya jadi campur aduk saat ini.
Ara mondar-mandir tidak keruan di pelataran rumah. Akhirnya, ia memutuskan untuk duduk di pelataran sembari menunggu kakaknya untuk kembali.
"Gimana gak kesel, handphone gak diaktifin. Gak kasih kabar sama sekali!" gerutu Ara yang sangat kesal dengan keadaan.
Ara menekuk wajahnya, seperti pakaian yang belum digosok. Saat sedang berdiam diri, tiba-tiba saja ia teringat mimpinya waktu tentang Reza.
Mengingat mimpi buruk itu, seketika Ara menjadi mellow. Saat ini, ia sedang dilanda bingung, aku betul merindukannya atau tidak bisa berpindah hati darinya? Pikir Ara.
Ara menghela napasnya panjang, "huft ...."
Ara memandang ke arah langit, "Reza ... gimana ya kabarnya?" gumam Ara lirih, yang tiba-tiba saja teringat sepenggal kisahnya bersama sang mantan.
Kalau dipikir kembali, saat ulang tahunnya waktu itu, aku langsung pergi saja tanpa mendengar penjelasannya. Jadi, aku tidak tahu kebenarannya seperti apa, pikir Ara yang mulai berpikir kembali dengan apa yang harusnya ia lakukan kala itu.
Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal di kasih kecap dan kerupuk, biar menjadi bertambah nikmat.
"Ah ... apanya yang harus dijelasin lagi? Semua yang gue lihat waktu itu, udah cukup membuktikan kalau dia tuh salah! Gue gak harus bersikap melembut kayak gini ke dia," tepis Ara pada batin yang terus-menerus melembut.
Untuk penghianatan semacam itu, sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan, apalagi dipertimbangkan.
Karena sedikit merindukannya, Ara pun langsung melihat akun media sosial milik Reza.
Apakah aku akan kuat setelah melihat beranda sosmednya? Pikir Ara, sembari memandangi akun yang sudah muncul di layar handphone-nya.
__ADS_1
"Tinggal diklik aja," gumam Ara dengan lirih, yang berusaha menguatkan hatinya.
Aku hanya ingin tahu keadaan Reza sekarang. Apakah Dia baik-baik saja tanpa aku? Atau justru sebaliknya? Pikir Ara, yang masih bimbang dengan keadaan.
"Ah, tapi kalau gue ngeliat ternyata dia baik-baik aja, dan malah bahagia sama cewek yang waktu itu, gimana?" Ara mempertimbangkan kembali untuk men-stalk Reza.
Bimbang di hatinya terus menggelayuti.
Aku belum siap menerima kenyataan kalau Reza baik-baik saja tanpa aku. Tapi, aku ingin tahu kabar dirinya, pikir Ara yang tidak selaras dengan nuraninya.
Ara mengintip sedikit ke arah layar ponselnya, "dikit aja, gak papa kali ya?" Ara berusaha meyakinkan kembali hatinya.
Akhirnya dengan segala pertimbangan yang ada, Ara pun melihat isi profile dari akun sosmednya.
Terlihat hanya beberapa foto saja yang ada di berandanya. Padahal, dulu Reza sangat suka fotografi, dan malah menyuruh Ara untuk menjadi modelnya.
Tapi ternyata sekarang, dia sudah menghapus seluruh foto Ara yang sempat bertengger di beranda media sosialnya, dan seluruh kenangan mereka.
Ara mulai melihat kembali foto-foto yang ada di akun Reza itu. Ia melihatnya dari awal, dan terlihat foto kelulusan Reza, yang mengenakan jas hitam dengan kemeja putih, beserta dasi yang terpasang rapi.
Saat itu, memang mereka sudah tidak ada hubungan apa pun lagi. Karena tragedi di hari ulang tahunnya itu, yang sampai sekarang pun masih Ara ingat dengan jelas dalam benaknya.
Ara memandang foto Reza dengan sendu, "gue bahkan gak foto bareng dia waktu itu," gumam lirih Ara sembari menahan perasaan kesalnya.
Ia mengganti pada slide foto yang berikutnya. Terlihat Reza yang sedang berada di bandara dengan membawa kopernya, membuat Ara terkejut melihat foto ini.
Ara mendelik, ternyata selama ini, Reza tidak ada di Indonesia? Pikir Ara yang kaget mengetahui faktanya.
Setelah putus dari Ara, mereka sama sekali tidak pernah saling berhubungan satu sama lain. Ara pun sudah tidak aktif di media sosial, karena terlalu banyak luka dan kenangan yang ada di dalamnya, membuatnya menonaktifkan sementara akun miliknya.
__ADS_1
Ara mendelik tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Selamat tinggal Indonesia."
Caption yang membuat Ara sangat terkejut.
Kenapa dia sampai pergi meninggalkan Indonesia? Apa karena keinginannya, atau karena paksaan dari keluarganya? Pikir Ara yang masih menjadi misteri baginya.
"Ternyata selama ini, loe nggak di Indonesia," lirih Ara yang merasa agak sedih saat mengetahuinya.
Terjadi konflik batin di sini. Batin yang sebelah pun tak kalah bergejolaknya.
Kenapa aku malah merasa sedih? Justru bagus, aku jadi tidak harus berpapasan lagi dengannya, pikir Ara.
Ara melanjutkan melihat slide selanjutnya. Terlihat Reza yang sedang memegang secangkir kopi. Dari postingannya kali ini, ia sangat menikmati kehidupannya di luar Negeri. Berbeda dengan Ara, yang saat itu dengan susah payah meninggalkan bayangannya dan melupakan kenangan indah bersamanya.
Ara mendelik, aku menyesal melihat beranda akun sosial medianya. Ternyata, dia baik-baik saja tanpa aku, pikir Ara.
Slide selanjutnya, Ara melihat foto Reza yang sedang bermain basket, membuat satu pertanyaan muncul di benak Ara.
Apa dia sudah berganti hobi? Selama ini bahkan aku tidak pernah melihat Reza bermain basket, pikir Ara.
"Dia curang banget! Kenapa pas masih sama gue, dia enggak pernah main basket. Tapi pas sudah putus sama gue, dia mulai main basket," lirih Ara yang merasa jengkel dengannya.
"Tapi buat apa lagi sih gue kesel sama loe? Loe aja udah baik-baik aja kok tanpa gue di sisi loe. Kenapa gue harus kesel sama loe?" bantah Ara.
Perasaan Ara sungguh aneh! Kadang kala kesal, kadang sedih dan kadang juga rindu.
Ara menatap foto Reza dengan dalam. Ia memposisikan dirinya, yang sedang berhadapan dengan dirinya sendiri di hadapannya.
__ADS_1
Sikap aneh Ara muncul kembali, karena dirinya yang mempunyai kepribadian ganda, membuat Ara mempunyai dunianya sendiri. Bukan sengaja Ara melakukan ini, melainkan karena rasa traumanya yang membuatnya menjadi terbayang-bayang dengan sosok tak kasat mata, yang ia lihat mirip dengan dirinya sendiri.