
Anggun memelototinya tak kalah sinis, “Hans memang brengsek. Lantas, apa bedanya sama kamu yang juga sudah menghamili sekretaris yang namanya Bunga, si wanita ****** itu!” teriak Anggun, membuat Arash membelalak tak percaya dengan kebenaran yang baru saja ia dengar itu.
Ara semakin takut dengan keadaan yang mencekam, membuatnya harus bersembunyi di balik punggung kakaknya itu.
“Kalau Ara merasa takut, ayo kakak antar Ara ke kamar,” lirih Arash, tapi Ara hanya menggeleng kecil saja, membuatnya mengerenyitkan dahinya.
“Kenapa?” tanya Arash.
“Aku khawatir sama keadaan ibu.”
Mendengar hal itu, membuat Arash menggelengkan kepala. Ternyata, mereka sama-sama mengkhawatirkan keadaan ibunya.
“Nonsense!” bentak Bram dengan kasar, membuat Ara terkejut mendengar ayahnya membentak ibunya seperti itu.
Seumur hidup Ara, ia tidak pernah melihat ayahnya membentak ibunya atau anak-anaknya seperti itu. Hal itu membuat Ara tidak bisa berkutik.
“Hans tidak pernah sama sekali menyentuh aku! Tidak seperti kamu, yang selalu menghabiskan waktu bersama dengan wanita ****** itu!” ucap Anggun, membuat Arash tercengang.
‘Pantas aja, akhir-akhir ini ayah jarang pulang, sampai ulang tahun pernikahan mereka pun, ayah gak pulang ke rumah,’ batin Arash, menyimpulkan permasalahan yang ada.
“Lagi pula, Hans sudah mempunyai istri dan anak seusia Arash, mana mungkin dia menyukai aku yang sudah tua seperti ini?” jelas Anggun dengan sinis, membuat Bram membuang pandangannya.
Bram memusatkan pandangannya lagi ke arah istrinya yang masih tersungkur di atas lantai, “jadi kamu mempermasalahkan tentang aku yang bermain cinta dengan wanita lain?” tanya Bram dengan sinis, “salahkan diri kamu, yang selalu menjaga kesucian kamu! Kenapa selalu tidak mau jika diajak berhubungan intim? Saya sudah tersiksa selama bertahun-tahun, karena kamu yang tidak mau melayani saya!” bentak Bram, membuat Arash merasa drama ini tidak cocok untuk dilihat oleh Ara.
“Kamu kan tahu, saya seperti ini karena lelah bekerja! Ditambah dengan kanker yang sudah menjalar di rahim, membuat saya tidak nyaman berhubungan intim lagi!”
“Duarrrrr ….”
Bak disambar petir, Arasha dan Arash kaget, saat mendengar ibunya yang mengidap penyakit kanker, yang sama sekali tidak mereka ketahui.
Air mata semakin bercucuran dari pelupuk mata Ara, membuat Arash merasa bimbang dengan keadaan.
“Ah … sudahlah! Saya tidak mau berdebat terlalu banyak dengan wanita murahan seperti kamu! Kenapa dengan saya, yang jelas-jelas suami sah kamu, kamu menolak ajakan saya untuk berhubungan intim. Tapi kenapa kamu malah bercengkerama mesra dengan laki-laki brengsek itu?” tanya sinis Bram, membuat Anggun tidak bisa berkata apa pun lagi.
“Itu lebih baik, daripada menghamili wanita ******!!” bentak Anggung, membuat Bram melotot kesal.
__ADS_1
“Kamu …,” omongan Bram terpotong, karena sudah tidak bisa berkata apa pun lagi pada istrinya.
Bram yang sudah kalap, membuat dirinya menghajar istrinya dengan cara yang tidak berprikemanusiaan. Bram memukuli Anggun, sama seperti cara laki-laki bertikai dengan lawannya. Hal itu membuat Arash merasa tidak terima dengan perlakuan kasar ayahnya.
“Berhenti!” pekik Arash, tapi ayahnya sama sekali tak menghiraukan ucapan Arash.
Arash dengan perasaan khawatir yang berlebihan terhadap ibunya, langsung melerai pertikaian mereka, dan meninggalkan Ara yang menangis, sendirian.
Arash menarik dengan kasar tangan ayahnya tersebut, membuat ayahnya terkejut, dan tak sengaja memukul Arash, hingga Arash terpental jauh ke belakang.
“Brukk ….”
“Arash!!” teriak Anggun dengan amarah, dan dengan rasa khawatir terhadap anaknya yang terluka akibat menolong dirinya.
“Dasar, anak tidak tahu diri!” bentak ayahnya, lalu ia menghampiri Arash yang sudah tersungkur lemas di atas lantai.
Kejadian itu, membuat Ara semakin menangis, tapi ia yang masih belum mengerti apa-apa, tidak bisa berbuat apa pun.
Bram segera memukuli Arash tanpa ampun, membuat Anggun merasa sangat kesal. Anggun dengan sisa kekuatan yang ia miliki, segera melindungi Arash dengan menggunakan tubuhnya, sehingga membuat dirinya terkena pukulan dan tendangan dari ayahnya yang tidak manusiawi itu.
Kiranya dirasa sudah cukup puas untuk menghabisi istri dan anaknya, Bram pun berhenti sejenak. Melihat luka lebam dan darah akibat keganasannya atas keluarganya, membuat jiwa psikopatnya memberontak.
“Mampus kalian!” bentak Bram, lalu meninggalkan Arash dan ibunya yang sudah tergolek lemas, dengan darah yang sudah keluar dari hidung ibunya.
Ara hanya bisa membelalak, tak tahu harus berbuat apa. Ia sangat ketakutan, saat melihat ayahnya yang mendekatinya dengan perlahan.
Tubuhnya gemetar, bahkan sudah tak sanggup Ara menopang tubuhnya sendiri.
Pandangan mereka bertemu pada satu titik, membuat Ara semakin gemetaran melihat sorot mata ayahnya yang sangat kejam itu.
Perlahan, ayahnya mendekat, dan berdiri di hadapannya.
“Kamu, pilih siapa? Ibumu, atau … ayahmu?” tanya Bram dengan dingin dan menusuk, membuat lidah Ara menjadi kelu.
Tak pernah Ara melihat kejadian ini seumur hidupnya. Ternyata, seperti ini sifat asli dari ayahnya. Ayahnya yang baginya lembut, dan selalu mengabulkan permintaan Ara, saat ini berbanding terbalik dengan yang ia lihat.
__ADS_1
Mata Bram mendelik, “Jawab!” bentaknya, membuat Ara menunduk, saking takutnya.
Ia mencengkeram pipi Ara dengan kasar, membuat Ara terpaksa harus menuruti semua keinginan ayahnya yang kejam itu.
“Tass ….”
Tiba-tiba saja Arash menepuk bahu Bram, membuat Bram segera menoleh ke arahnya.
“Jangan ganggu adikku!” geram Arash dengan tatapan tajam dan menusuk, membuat Bram sedikit gentar melihatnya.
Bram melepaskan tangannya dengan kasar, sehingga membuat Ara jatuh tersungkur dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Bram menghampiri Arash yang baginya sudah tidak tahu diri.
“Tidak seharusnya ayah berbuat seperti itu sama ibu dan Ara!” bentak Arash, “oh … apa masih pantas, saya menyebut anda dengan sebutan ayah?” sambung Arash, membuat Bram meledak-ledak seperti sedia kala.
“Dasar anak tidak tahu diri!” bentak Bram.
Terjadi perang di antara mereka, membuat seisi rumah hancur lebur karena Arash yang selalu melemparkan barang-barang yang ada di hadapannya. Bram juga selalu memukul Arash, sehingga Arash harus terpental beberapa kali ke belakang.
“Brakk ….”
Arash terjatuh dan membuat seluruh peralatan makan berjatuhan. Bram yang masih belum puas, segera menarik kerah kemeja anak sulungnya itu, lalu berusaha menghajarnya lagi dengan sisa kekuatan yang ia miliki.
“Brakk ….”
Arash membalas ayahnya dan tidak mau kalah dengan keadaan.
“Orang tua macam apa kamu, tega sekali membuat keluarga ini jadi seperti ini!!” bentak Arash, lalu sebisa mungkin menambah kekuatannya untuk membuat suatu ******* yang akan mengakhiri perang ini.
“Ahh ….”
“Uhuk ….”
Bram melayang, dan terjatuh tepat menancap sebuah benda tajam di punggungnya, membuatnya harus kehilangan banyak darah, yang keluar dari hidung dan mulutnya.
__ADS_1
Ara yang melihat ada darah, langsung menjerit histeris.
“Ayah!” pekik Ara, namun ayahnya sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi.