Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Ikut Bertamasya


__ADS_3

Pagi itu, Rafa sedang berkemas untuk menuju ke rumah Kim. Ia bangun pagi sekali, menurut versi dirinya yang selalu terlambat dan tidak tepat waktu.


Ia melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu, untuk berpamitan dengan ibunya tercinta.


Rafa melihat ibunya yang sedang duduk di kursi ruang makan, sembari mengoleskan selai pada selembar roti. Dengan segera, Rafa mengendap-endap, dan menerkam ibunya dengan cepat.


"Happ ...."


"Bunda!"


Rafa memeluk ibunya dari belakang, membuat ibunya yang sedang memegang pisau roti, terkejut dengan gerakan Rafa yang tiba-tiba.


"Aduh!" pekik ibunya, membuat Rafa mengerenyitkan dahinya karena takut dengan pisau yang sedang ibunya pegang saat ini.


"Rafa, ngagetin bunda aja!" pekik ibunya, membuat Rafa bergidik takut.


Rafa kembali tersenyum sembari tetap memeluk ibunya dari belakang, "Bun, Rafa mau pamit," gumam Rafa yang seperti anak kecil, membuat ibunya mendelik, dan menghentikan aktivitasnya.


"Pamit ke mana, kamu?" tanya ibunya dengan nada yang menyelidik.


Rafa segera duduk di kursi sebelah ibunya, "Rafa mau ke Korea, Bun," jawab Rafa, membuat ibunya mendelik tak percaya dengan yang anak semata wayangnya katakan itu.


"Apa?! Mau apa kamu ke Korea?" tanya ibunya sinis, membuat Rafa mengerutkan dahinya karena takut dengan reaksi ibunya yang sepertinya tidak menyukainya.


Seorang pria paruh baya pun datang dari balik pintu kamarnya, sedang membawa papan catur di tangannya.


Ibunya yang melihat ayahnya keluar dengan membawa papan catur di tangannya, segera mendelik ke arahnya.


"Ayah, mau ke mana?" tanya ibunya dengan nada setengah sinis, karena terlalu terbawa suasana dengan masalah Rafa sebelumnya.


"Mau main catur, sama Pak RT," jawab ayahnya dengan nada yang tidak bersalah.


Ibunya mendelik, membuat ayah dan Rafa merasa ngeri dengan tatapannya.


"Anak sama ayah sama aja. Yang satu mau ke Korea, yang satu mau main catur. Kapan ada waktunya buat bunda, sih?" gumam ibu dengan sinis, membuat ayah mendelik kaget ke arah Rafa.


"Kamu mau pergi ke Korea? Mau apa di sana?" tanya ayah dengan nada yang menyelidik, membuat Rafa menyeringai ke arahnya.


"Anu, Yah ... aku mau ketemu sama calon mertua di sana. Aku mau minta--"

__ADS_1


"Setuju!"


Belum habis Rafa menyelesaikan perkataannya, ayahnya sudah memotongnya dengan nada yang sangat setuju dengan keinginan Rafa.


Mendengar hal itu, Rafa pun melongo kaget karena reaksi ayahnya yang sangat mendukung dirinya.


"Hah, maksudnya?" lirih Rafa yang kaget dengan reaksi ayahnya.


Ayahnya segera meletakkan papan catur di atas meja makan, dan segera merangkul Rafa, "anak ayah udah gede!" gumam ayahnya dengan sangat bangga.


Mendengar hal itu, ibunya seketika menitikkan air mata. Ia sangat terharu dengan yang Rafa katakan.


Ibu menoleh ke arah Rafa yang sedang duduk di sebelahnya, "bunda kira, kamu mau main-main aja. Ternyata kamu punya niat baik," gumam ibunya dengan lirih, membuat hati Rafa seketika tersentuh melihat ibunya sampai menitikkan air mata seperti itu.


"Iya, Bunda. Izinin Rafa untuk pergi ke sana, dan doakan semoga mereka bisa nerima niat baik Rafa," gumam Rafa membuat ibunya juga merangkul dirinya, sama seperti ayahnya.


"Pasti dong. Niat baik, pasti dipermudah. Jangan khawatir," ucap ibunya, membuat satu senyuman mengembang di pipi Rafa.


"Makasih, Yah, Bun," ucap Rafa.


"Apa perlu, ayah sama bunda ikut ke sana?" tanya ayah, membuat Rafa mendelik.


"Jangan, Yah. Biar Rafa sendiri dulu. Sekalian urus data-data yang dibutuhin," tolak Rafa, membuat ayah ibunya sedih.


"Boleh, dong! Malah bagus, biar nanti ada yang bisa pegang bisnis ayah, kalau ayah udah gak ada," gumam ayah, membuat ibunya makin sendu mendengarnya.


"Jangan ngomong gitu terus!" bentak ibunya, membuat ayahnya bergidik ngeri.


Rafa menunduk, "masalahnya, calon istri Rafa itu ... dosen di kampus Rafa," lirih Rafa membuat mereka mendelik.


"Apa?!" pekik mereka bersamaan, dengan sangat terkejut.


Rafa memandang ekspresi mereka yang sepertinya sangat terkejut.


...***...


Saat ini, Arash sudah mempersiapkan barang-barang yang ingin ia bawa, untuk bertamasya bersama Ares, Bunga dan juga Fla.


"Brukk ...."

__ADS_1


Arash menutup bagasi mobilnya, setelah selesai meletakkan barang-barang seperti tikar, keranjang makanan dan lain-lain.


Dari arah pintu rumah, Bunga datang membawa plastik berisi beberapa minuman ringan. Matanya tak sengaja tertuju pada sebuah taksi yang hendak menuju ke arah sini.


Pandangannya mendadak tajam, karena ia tahu pasti itu adalah Fla.


Dengan cepat, Bunga segera menghampiri Arash, "Arash," pekik Bunga, Arash pun menoleh ke arahnya.


Bunga dengan segera meletakkan plastik di tangan Arash, dan segera membenarkan kerah kemeja Arash yang sedikit berantakan.


"Duh ... ini berantakan," gumam Bunga sembari membenarkan kerah kemeja Arash yang tidak pada posisinya.


Taksi itu berhenti tepat sebelum rumah Arash. Dari dalam sana, muncul seorang gadis yang tak asing bagi Arash.


Fla memandang adegan mesra mereka dengan sangat sendu, 'kenapa mereka mesra-mesraan seperti itu?' batin Fla yang bingung dengan keadaan.


Tapi karena sudah berjanji dan mengingat tentang ucapannya dengan Arash tadi malam, Fla hanya bisa menghela napas, dan bersikap seperti biasa, walau dalam hatinya selalu tak rela Arash seperti itu dengan wanita lain.


Arash pun menoleh ke arahnya, "Fla," pekik Arash dengan senyuman.


Fla pun bersikap sewajarnya saja, tanpa ada perasaan kesal terhadap Arash. Lebih tepatnya, ia sedang mencoba menahan perasaan cemburunya itu.


Arash meninggalkan Bunga di sana, dan menghampiri Fla. Perasaan Bunga saat ini sangat kesal, karena Arash yang sangat tidak mempedulikannya, dan malah mempedulikan Fla yang baru saja datang bak tuan putri.


Arash memeluk singkat Fla, "nanti saya jelasin," bisik Arash.


"Gak apa-apa, Kak. Aku paham kok," jawab Fla yang tentunya juga berbisik padanya.


Arash melepaskan pelukannya itu, "kenapa kamu ke sini? Saya baru mau jemput kamu di rumah?" tanya Arash, membuat Fla tersenyum.


"Aku gak sabar," jawab Fla dengan senyuman.


Arash menyipitkan matanya, "saya kelamaan, ya?" tanya Arash yang sadar dengan kesalahannya, membuat Fla tertawa kecil mendengarnya.


Bunga memandangnya dengan tatapan sinis, 'bisa-bisanya mereka bermesraan di hadapan saya,' batin Bunga yang sendu melihat kedekatan mereka.


Ares yang sudah masuk di dalam mobil Arash, tiba-tiba saja membuka kaca mobilnya, "Kak Arash, ayo cepetan dong, nanti kesiangan!" pekik Ares, membuat Fla dan Arash menoleh ke arahnya.


"Gak sabaran nih," ledek Arash, membuat Fla tertawa kecil.

__ADS_1


"Ih Kakak mah!" lirih Ares yang sedikit kesal dengan Arash.


"Ayo, nanti Ares marah-marah lagi," lirih Fla, membuat Arash mengangguk kecil.


__ADS_2