Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Happy Ending


__ADS_3

Ara memandang ke arah Morgan, "Ilham baik banget," gumam Ara, membuat Morgan mengangguk kecil sembari tersenyum paksa.


Ara pun segera mencari benda-benda lainnya. Ia juga menemukan buku diary Ilham, yang sudah ia tulis sejak ia kecil. Separuh kisahnya sudah Ara ketahui. Hanya tinggal perasaan Ilham setelah menikah dengannya saja, yang belum Ara ketahui.


Ara membuka buku tersebut. Lembar demi lembar, ia buka dengan saksama, sembari ia membaca semua itu dengan air mata yang terus berjatuhan. Ia sangat terpukul melihat lembar demi lembar yang tertoreh perasaan Ilham di sana.


"Akhirnya, saya bahagia."


Lembar terakhir yang sangat membuat hati Ara terpukul. Ara sangat sedih, tetapi juga sangat bahagia dengan kepergian Ilham. Ia sedih kehilangan suami yang sangat menyayanginya, tetapi juga senang karena Ilham tidak harus merasakan sakit sendiri lagi.


Ara meletakkan buku catatan itu, dan mencari sesuatu lagi dari dalam laci.


Ara tak sengaja menemukan sebuah kamera. Dengan sangat penasaran, Ara pun segera melihatnya.


Terlihat video yang sepertinya Ilham rekam. Dengan rasa penasaran yang ada, Ara segera memutar video itu.


Terlihat Ilham yang sedang membenarkan kamera, kemudian duduk di sebuah kursi dan menatap ke arah kamera.


"Halo, cantik. Istriku tercinta, yang saat ini sudah mengandung anak-anakku."


Mendengar perkataan awal Ilham, sudah membuat jantung Ara terpacu dengan sangat cepat.


"Semoga kamu sehat selalu, dan terus bahagia. Aku cuma mau bilang, kalau aku sayang banget sama kamu. Ya ... walaupun kamu kadang bikin gemes, tapi gak akan mengubah rasa sayang aku sama kamu, kok!"


"Jangan sia-siakan waktu. Waktu itu segalanya. Tolong jaga Ardi dan Ardan ya. Kamu sudah lihat asuransi yang ada di amplop? Itu semua murni kerja keras aku selama ini. Kalau aku gak beli rokok sih, mungkin bisa lebih dari itu. Hehe," ujar Ilham dengan menyeleneh.


"Ilham sialan ini, masih bisa bercanda," gumam Ara yang semakin sedih melihat rekaman itu.


Morgan memandang Ara dengan sangat lekat, mencoba mengusap bahu Ara, untuk memberikan energi positif pada Ara.


"Jangan lupa, terima takdir. Jangan ikut menghilang, kalau aku menghilang. Kasian Ardi dan Ardan, kalau harus kehilangan bunda sekuat kamu. Kata terakhir untuk anak-anakku. Halo Ardi Ardan, ini ayah. Kalian pasti udah besar ya saat melihat ini? Gimana, ayah kalian ganteng, gak? Pasti kalian sudah tumbuh ganteng seperti ayah, ya? Jangan ngelawan sama bunda, ya. Tolong teruskan impian ayah untuk menjaga bunda," gumam Ilham dengan air mata yang sudah menetes dari pelupuknya.


"Duh ... mata ayah kelilipan nih."


Mendengar reaksi Ilham yang seperti itu, membuat Ara sedikit tertawa sembari menangis.

__ADS_1


"Ilham bodoh," gumam Ara, yang sedikit kesal dengan sikap Ilham yang masih terlihat tegar, bahkan saat membuat video terakhir ini.


Ilham terlihat sedang memegangi dadanya. Sepertinya, Ilham tengah merasakan sakit pada jantungnya, membuat Ara mendelik.


"Ayah pengen banget lho, kalian jenguk ayah sering-sering, ke rumah baru ayah. Oh ya, ayah suka bunga yang cantik, jangan lupa bawa ya! Ayah sayang Ardi Ardan, juga bunda."


Ilham melambaikan tangannya, kemudian mengakhiri video tersebut.


Melihat video itu, Ara hanya bisa membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.


Morgan segera merengkuh Ara ke dalam pelukannya. Morgan sama sekali tidak ingin membuat Ara bersedih lagi.


"Izinkan saya menjaga Ardi dan Ardan, sama seperti Ilham menjaga anak saya," ucap Morgan, membuat Ara berpikir sejenak mendengarnya.


Morgan semakin mempererat pelukannya, "Saya akan bersikap sama seperti cara Ilham memperlakukan kamu. Kali ini, saya benar-benar berjanji."


Ara merenggangkan pelukannya dan menatap dalam ke arah Morgan.


"Apa hati kamu gak akan patah?" tanya Ara, membuat Morgan tersenyum.


Mereka pun saling berpelukan, dan saling meleburkan kasih sayang yang sempat tertunda.


***


Hari ini, adalah hari paling membahagiakan untuk Fla dan juga Arash. Tak hanya mereka, Morgan dan Ara pun menggelar upacara pernikahan mereka, pada waktu yang bersamaan.


Ara dan Fla sama-sama bergandeng dengan ayah mereka masing-masing. Ara menggandeng lengan ayah Ilham, dan Fla menggandeng lengan ayahnya. Mereka melewati karpet merah, menuju ke arah Arash dan Morgan yang sudah berada di atas altar.


Dengan sangat anggun, keduanya berjalan menuju altar, dengan pandangan Ara yang terus-menerus tertuju pada Morgan, yang hari ini terlihat sangat berkilauan di matanya.


Ara melihat Morgan tersenyum di hadapannya, hingga teringat dengan sosok Ilham di saat mereka melangsungkan pernikahan.


'Hari ini, aku akan bersatu kembali dengan orang yang memang seharusnya bersamaku sejak awal. Namun, aku tidak pernah menyesal menikah dengan Ilham. Aku juga tidak menyesal saat itu Morgan tinggalkan. Mereka mempunyai peran masing-masing di hidupku. Mereka sama-sama penting, saking pentingnya mereka ternyata sudah menjadi bagian dari kehidupanku sejak lama. Laki-laki yang selalu ada bersamaku sejak kecil, yang kini akan bersama denganku dalam ikatan pernikahan. Ilham dan Morgan, keduanya sama-sama memiliki arti bagiku,' batin Ara, tanpa melepaskan sedikit pun pandangannya dari Morgan.


Kebahagiaan juga dirasakan Arash dan juga Fla saat ini. Mereka juga sama-sama saling menyayangi, tanpa menyentuh lebih dari batas. Kini, mereka sudah bisa meleburkan hasrat yang selama ini tertahan.

__ADS_1


Janji suci keduanya sudah terucap. Mereka kini sama-sama sudah sah menjadi sepasang suami istri yang sangat berbahagia di hari ini.


Ara menatap dalam ke arah Morgan, "Pada akhirnya, kita bisa bersama kembali," gumam Ara, membuat Morgan tersenyum.


"Tapi kali ini, saya gak akan pernah mengulang kesalahan yang sama," tambah Morgan pada ucapan Ara sebelumnya.


Arash menatap Fla dengan penuh kebahagiaan yang terpancar, "Akhirnya, kamu yang menjadi istriku. Terima kasih atas dukungan yang selalu kamu berikan," ujar Arash dengan sangat bahagia, membuat Fla tersenyum mendengarnya.


"Akhirnya, kamu bisa menahan semua hasrat kamu selama ini," gumam Fla, membuat Arash mengangguk bahagia mendengarnya.


Selama mereka berpacaran, Arash tidak pernah melakukan hal yang lebih dari batas. Ia mengingat janjinya, yang tidak akan pernah menyentuh wanita yang akan ia nikahi.


Sorak ramai tamu membuat dua pasang mempelai ini menjadi sangat menggelora. Ini adalah hari bahagia mereka.


Mereka pun saling mencium pasangannya masing-masing, membuat Ara menitikkan air mata.


'Ciuman ini, akhirnya aku rasakan kembali bersama orang yang semestinya bersamaku,' batin Ara yang sangat senang bisa mencium Morgan kembali, seperti saat pertama mereka bertemu.


Ini adalah takdir, yang tidak bisa manusia tebak. Terkadang kita tidak bisa menolak takdir. Namun, sejauh apa pun kita melangkah, jika Tuhan sudah mentakdirkan seseorang untuk bersama kita, maka bagaimana pun jalan ceritanya, ujungnya pasti akan bersama kembali.


Setiap yang baik punya masa lalu, dan yang jahat pun punya masa depan. Kita manusia, tidak boleh menghakimi manusia lain yang kita jumpai. Karena di balik rahasia, ada rahasia.


"Ayo, semua pemeran merapatkan barisan untuk berfoto bersama," ujar othor yang sangat terharu dengan ending yang membagongkan ini.


Mereka pun merapatkan barisan, dan segera menempati posisinya masing-masing.


"1 ... 2 ... 3."


"Cheers!!"


...***...


...**Happy Ending 🌻...


...Terjerat Cinta Dosen Idiot**...

__ADS_1


__ADS_2