
Ara dan Morgan menikmati suasana di atas jembatan pelangi yang indah ini. Sejauh mata memandang, mereka melepaskannya dengan perasaan yang sangat bahagia.
Angin malam yang dingin berembus menusuk sampai ke dalam tulang, seakan tak Ara rasakan, padahal saat ini ia sama sekali tidak memakai mantel.
Aku sangat menikmatinya, apalagi bersama Morgan, pikir Ara yang melepaskan pandangan sejauh mata memandang.
"Pemandangannya indah," lirih Ara.
"Iya ... seperti kamu," sambar Morgan membuat Ara tersipu.
Ara menoleh ke arah Morgan, yang juga sedang menoleh ke arahnya. Ara tersenyum, begitu pun dirinya. Ia mendekap tubuh Ara, dan mendekatkan wajahnya ke arah Ara.
"Cuppp ...."
Morgan berhasil mendaratkan kecupan hangat di bibir Ara, membuat Ara sangat menikmati ciuman hangatnya, dan membalas ciumannya itu.
Suasana yang mendukung, menjadikan keromantisan mereka menjadi sangat nyata.
Aku suka gemerlap malam ini. Di sini, di tempat ini, aku bisa melepaskan segala rasa yang aku rasakan, pikir Ara.
Di sisi Arash, saat ini mereka sedang mempersiapkan pergantian tahun. Arash mengeluarkan bunga api yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Ia membawa satu dus bunga api itu, ke hadapan mereka yang berada di tepi pantai.
"Ares mana?" tanya Arash, yang tidak melihat keberadaan adiknya.
"Tidur, di gubuk," jawab Bunga, membuat Arash menggelengkan kepalanya karena sudah mengetahui kalau adiknya itu tidak akan kuat untuk terjaga semalaman.
Arash meletakkan semua bunga api itu di atas pasir pinggir pantai. Ia pun duduk di antara Fla dan Bunga, untuk memisahkan jarak antara mereka.
Dari sudut sana, Ilham terlihat sedang memandangi jam yang ada di tangannya.
"Sepuluh detik dari sekarang," gumam Ilham, membuat Arash segera merogoh saku celana untuk mengambil korek api.
Fla dan Bunga mengambil masing-masing bunga api yang akan mereka mainkan bersama.
Arash menyulutkan api ke sumbu bunga api yang Fla dan Bunga pegang, sekaligus.
"Satu."
"Srrsssss ...."
Bunga api itu menyala tepat setelah Ilham berbicara. Mereka saling tersenyum, memandang bunga api yang Fla dan Bunga pegang.
Arash mengambil petasan yang besar, dan langsung menyulutkan api pada sumbunya.
Duarrrrrrrrrrr ....
__ADS_1
Duarrrrrrrrrrr ....
Mereka memandang indah langit, di pesisir pantai yang sangat indah, bila dilihat pada malam hari.
Fla memandangnya dengan mata yang berbinar, 'indah banget. Pantainya juga sepi, serasa milik sendiri,' batin Fla yang terpukau melihat pemandangan langit yang ditembaki petasan oleh Arash.
"Happy new year," teriak Arash, membuat semua orang tertawa kecil melihat aksinya melakukan selebrasi.
Arash melepaskan jaket yang ia kenakan, dan segera memberikannya pada Fla, yang hanya mengenakan kaos lengan pendek, membuat Fla mendelik terkejut karenanya.
"Pakai jaket, nanti kamu masuk angin. Angin malam jahat, lho," gumam Arash, membuat Fla tersenyum tersipu malu.
"Nggak apa-apa angin malam jahat, asal jangan Kak Arash yang jahatin aku," lirih Fla, membuat Arash tersipu mendengar jawaban dari Fla.
Bunga yang berada di sebelah Arash, hanya memandangi kedekatan mereka saja, tanpa bisa berkata apa pun.
Ilham mengarahkan sebuah kamera ke arah Arash, Fla dan Bunga.
"Ckrekk ...."
Satu jepretan tercipta dari kamera yang Ilham pegang, membuat Arash terkejut karenanya.
"Hey, ayo kita foto bareng, kenapa cuma bertiga aja?" pekik Arash, membuat Ilham mendekat ke arahnya.
Ilham pun duduk di hadapan Arash, dan mengarahkan kamera handphone-nya untuk mengambil gambar selfie.
Ilham melihat hasil dari jepretannya, namun hanya terlihat buram, karena penerangan yang minim.
Arash melihatnya sembari menahan tawanya, "kok gak kelihatan sih?" tanya Arash, yang langsung mengeluarkan handphone-nya.
Arash memberikan handphone-nya ke arah Ilham, "nih pakai punya saya aja," ucap Arash.
Mereka pun melanjutkan berfoto bersama, dan menikmati malam pergantian tahun dengan sangat bahagia.
Di sisi Rafael yang baru saja sampai di Korea bersama dengan Kim, juga melihat ke sekeliling langit indah di sana. Malam pergantian tahun juga di rasakan di seluruh belahan dunia, tidak penting di mana mereka merayakan, yang terpenting adalah bersama siapa mereka merayakannya.
Rafa menoleh ke arah Kim yang sedang memegang es krim yang baru saja ia beli, "happy new year," gumam Rafa sembari tersenyum.
Kim pun tersenyum memandang ke arah Rafa, "happy new year," jawab Kim membuat Rafa semakin sumringah mendengar jawabannya.
"Tahun baru, perasaan baru, bersama orang yang baru, dan juga hubungan yang baru," lirih Rafa membuat Kim tersenyum.
"Aku sayang kamu," lirih Kim.
Rafa tersenyum, "aku lebih menyayangi kamu," jawab Rafa, yang hanya bisa tersenyum, tanpa bisa menyentuh Kim.
Ara dan Morgan juga merasakan hal yang sama. Mereka seketika mengalihkan pandangannya ke arah langit malam ini, yang sudah dipenuhi oleh bunga api yang sangat indah.
__ADS_1
Mata Ara berbinar, melihat bunga api yang sangat indah di hadapannya saat ini.
"Waw ... kembang api," lirih Ara, membuat Morgan menoleh ke arahnya.
"Happy new year," gumam Morgan, membuat Ara mendelik dan menoleh ke arah Morgan.
Ara sampai lupa, kalau malam ini adalah malam pergantian tahun.
Satu senyuman mengembang di pipi Ara, "happy new year," jawab Ara dengan senyuman bahagianya.
'Gak nyangka, kita udah setengah tahun bersama,' batin Ara yang memandang Morgan dengan tatapan bahagia.
Morgan menoleh ke arah jam tangan yang sedang ia pakai, "kita harus pulang. Karena sudah malam," ucapnya.
Ara mengangguk setuju padanya. Morgan berlutut membelakangi Ara, membuat Ara terkejut karena Morgan yang seperti hendak menggendongnya.
Apa sikap dia aslinya hangat seperti ini? Aku bisa jatuh cinta berulang kali kalau begini caranya, pikir Ara yang tersenyum bahagia melihat Morgan yang seperti itu.
"Ayo naik," ucapnya.
Ara tersadar dari lamunannya, dan mengambil posisi di atasnya. Morgan berdiri dan benar-benar menggendong Ara.
Morgan mulai berjalan dengan kaki yang kekar. Cintanya sungguh berlebihan menurut Ara, sampai Ara tersenyum dan menyandarkan dagunya ke bahu kekar Morgan.
"Boleh gak, aku jatuh cinta sama kamu?" tanya Ara yang masih memikirkan soal perkataan Morgan, yang selalu melarangnya untuk suka padanya.
Morgan terdiam sesaat, sembari menghentikan langkahnya.
"Bodoh, saya sepenuhnya milik kamu," lirihnya membuat Ara senang dan kembali memeluknya dengan erat.
"Jangan sok dingin lagi ...," lirih Ara, membuat Morgan tersenyum, dan kembali melangkah menuju hotel.
Ara melihat pemandangan sepanjang perjalanannya menuju hotel. Kini, ia telah menemukan jati dirinya. Yaitu, mencintai Morgan dengan tulus.
Ara hanya belum bisa berpikir dewasa untuk bisa mencintai Morgan sepenuhnya. Ia tahu, semua hal yang Morgan lakukan adalah untuk kebaikannya juga.
"Muachh ...."
Ara.mengecup singkat pipi Morgan, namun Morgan hanya terdiam.
Entah apa yang sedang ia pikirkan. Tapi aku cukup bahagia malam ini, meskipun aku harus kembali mengingat mendiang ibuku yang sudah lama tiada, pikir Ara yang mendadak sendu mengingat percakapan dirinya bersama Hatake.
Ara menyenderkan pipinya ke pipi Morgan. Tak terasa, ia menjadi sangat ngantuk.
Memejamkan mata sebentar saja, tidak apa-apa mungkin, pikir Ara.
...***...
__ADS_1