Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Wanita Penuh Dendam


__ADS_3

Ara membuka matanya secara perlahan, untuk memperhatikan keadaan sekelilingnya. Ia mengedarkan pandangannya sejauh mata memandang, dan terkejut karena dirinya tak bisa menemukan Morgan.


Morgan, ke mana dia? Pikir Ara, sembari mendelik kaget.


"Gan ...," pekik Ara.


Ara tak sengaja melihat ke arah tubuhnya, dan terkejut karena dirinya yang sudah memakai pakaian Morgan.


Ara mendelik, kenapa aku memakai kemeja Morgan? Pikir Ara, yang tidak terlalu menghiraukannya dan malah mencari Morgan.


Ara melihat ke seluruh ruangan kamarnya, namun Ara tidak bisa menemukan keberadaan Morgan. Ia pun melihat jam yang tertera di layar handphone-nya.


"Sudah pukul 7 pagi," lirih Ara tapi dia belum bisa menemukan keberadaan Morgan.


Handphone Ara tidak bisa dipakai menghubungi Morgan, karena Ara belum mengganti sim card di wilayah ini.


"Gimana, nih?" lirih Ara yang belum bisa mencerna keadaan.


"Apa aku tunggu aja kali, ya? Sekalian mandi juga," gumam Ara sembari berpikir.


Akhirnya, Ara memutuskan untuk menunggu Morgan sembari bersiap-siap. Ia membersihkan tubuhnya yang lengket, akibat perjalanan jauh dan ditambah lagi dengan ulah Morgan semalam.


Di sana, Morgan terlihat sedang membawa seikat bunga, yang baru saja ia beli. Morgan masuk menuju lift yang diperuntukan untuk pengunjung. Morgan pun berjalan sembari tersenyum memandang bunga yang akan ia berikan pada Ara itu.


Morgan pun masuk ke dalam lift, dan menekan tombol 10 pada lift itu, membuat pintu lift segera tertutup.


"Tas ...."


Seseorang menahan pintu lift. Morgan yang penasaran, segera memperhatikan dengan seksama.


Terlihat seorang wanita bertubuh jenjang dan atletis, mirip seperti tubuh ideal milik pramugari. Ia memaksa masuk ke dalam lift, membuat Morgan sedikit terkejut dengan perbuatannya itu.


Mengetahui siapa yang melakukannya, Morgan hanya diam tanpa berekspresi apa pun. Wanita itu pun berdiri di sebelah Morgan dengan postur yang sangat kaku kelihatannya.


Pintu lift tertutup, membuat mereka terpaksa harus menuju ke atas secara bersamaan.


"Sudah lama tidak bertemu," gumamnya santai, tanpa melihat ke arah Morgan.

__ADS_1


Ternyata, ini bukan kali pertama mereka bertemu. Bahkan, ia sudah bertemu dengan Morgan dan Ara, sejak mereka sampai di Jepang.


Mendengar ucapan wanita itu, Morgan hanya diam tak bergeming.


Mengetahui Morgan yang sama sekali tak menggubrisnya, wanita itu tak kehabisan akal, "sudah banyak perubahan dari kamu, Morgan," ucapnya, yang kali ini membuat Morgan terpancing rasa penasaran, dengan apa yang wanita itu inginkan.


Morgan mengerenyitkan dahinya, "apa yang kamu mau?" tanya Morgan langsung pada intinya, tanpa berbelit.


Wanita itu menoleh ke arah Morgan, sembari tersenyum miring menatapnya.


"Gak ada yang berubah. Kamu tetap Morgan yang dulu saya kenal," ucapnya dengan sedikit mengulur waktu.


Morgan sangat tidak suka dengan basa-basinya itu.


Morgan menoleh ke arahnya, "cepat katakan, apa yang kamu mau dari saya?" tanya Morgan yang tidak sabaran.


Wanita itu melangkah dan mengunci Morgan di sudut lift. Morgan tak bergeming sembari melihat apa yang akan wanita itu perbuat selanjutnya.


"Kamu bahkan tidak menegur saya, saat saya membangunkan kamu di pesawat kemarin," gumamnya.


Merasa tak dihiraukan, wanita itu pun menoleh ke arah bunga yang Morgan pegang, "oh ... manis juga hadiah kamu untuk calon istri kamu itu," gumamnya yang memperhatikan seikat bunga yang Morgan bawa.


Wanita itu dengan segera ingin mengambilnya, namun Morgan tak membiarkannya dan menghindari tangannya yang hendak menyentuh bunga yang ingin Morgan berikan untuk Ara.


Morgan menatapnya dengan tajam, aku tidak akan membiarkan dirinya menyentuh bungaku, pikir Morgan.


Ia terlihat seperti orang yang sedang tidak senang. Ia mendekat ke arah Morgan lagi, bahkan lebih dekat dari jaraknya sebelumnya.


Wanita itu terus memandangi Morgan, "entah apa bagusnya gadis itu, sampai kamu secara sadar memberikan seluruh yang kamu punya untuknya," ucapnya membuat Morgan terasa sangat terusik.


Ia sudah menjelek-jelekan Ara di hadapanku. Agak sedikit geram diriku mendengarnya, pikir Morgan yang sudah tidak bisa tenang lagi saat ini.


Morgan mendelik, "apa yang kamu mau?" tanya Morgan dengan jelas, membuat wanita itu membulatkan pandangannya ke arah Morgan.


"Apa yang saya mau? Ini tidak semudah yang kamu pikirkan!" ucapnya.


Morgan pun mengeluh dan menepuk keningnya cukup keras. Ia sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya terhadap wanita itu.

__ADS_1


"Aish ... sudahlah, ini sudah terjadi cukup lama. Jangan mempersulit saya dengan hal ini," gumam Morgan yang memperingatkannya, agar tidak mempersulit dirinya ke depannya.


Morgan dan wanita ini sudah cukup lama saling mengenal. Tapi, tidak disangka dendamnya pada Morgan, masih belum hilang juga sampai saat ini.


Wanita itu mendelik, "saya masih ingat saat kamu membunuh pacar saya, dengan tangan mulus kamu itu!" bentaknya.


Morgan tidak ingin siapa pun tahu mengenai ini. Ia tidak ingin, siapa pun salah sangka terhadapnya, hanya karena masalah yang tidak jelas kebenarannya seperti ini.


"Tingg ...."


Lift sudah berhenti. Pintu lift akhirnya sudah terbuka. Di sana, beberapa gadis Jepang sudah menunggu dengan malu-malu menutupi sebagian wajahnya, karena melihat adegan mesra Morgan yang terpojokkan oleh wanita maniak itu.


Morgan yang malu, segera mendorong pelan tubuhnya sehingga dirinya bisa dengan mudah lolos darinya.


"Sumimasen," gumam Morgan yang artinya permisi, kepada wanita itu dan juga gadis Jepang yang sedang menunggu lift.


Morgan pun melangkah dan meninggalkan wanita yang sama sekali tidak penting baginya.


Morgan menuju kamar tempat dirinya dan Ara singgah sementara. Di belakangnya, ia merasakan wanita itu yang terus menguntit dirinya dari belakang, tapi Morgan tak menghiraukannya.


Morgan segera membuka kamar dengan kartu yang ia punya. Morgan melirik sedikit wanita itu yang ternyata, ia singgah tepat di sebelah kamar Morgan.


Morgan tidak mempedulikannya, dan malah segera masuk ke dalam kamar untuk bertemu dengan Ara.


Morgan mencari keberadaan Ara. Samar terdengar suara tangisan yang tak asing baginya.


Morgan mendelik, "Ara!!" pekik Morgan yang segera menghampiri Ara, yang terlihat sedih sembari menangis di atas ranjang.


Morgan sangat khawatir dengan keadaan Ara. Ia pun berhambur memeluknya dengan cepat, sampai ia melepaskan bunga yang sedang ia bawa di tangannya.


Mengetahui kedatangan Morgan, Ara pun menoleh ke arahnya.


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Morgan pada Ara, yang masih saja menangis.


Ara berusaha menatap Morgan, "aku pikir ... kamu ninggalin aku. Soalnya udah lama banget kamu gak pulang," jawab Ara yang sesegukan, Morgan sampai menghela napas panjang karena mendengar penjelasannya.


Aku baru saja keluar setengah jam, dan Ara pikir aku meninggalkan dia? Aku tidak akan sejahat itu meninggalkan orang yang aku sayang di Negeri orang, pikir Morgan yang langsung memeluk dirinya dengan sangat erat.

__ADS_1


__ADS_2