Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Fitnah Lucknut 3


__ADS_3

Ara hanya tertawa karena jahilnya Morgan, yang sudah membuat Dicky ketakutan setengah mati seperti itu.


Ara sudah tahu, Morgan yang sedang menahan amarahnya di balik itu semua.


Tapi aku salut padanya yang bisa menyembunyikan semua rasa kesalnya dan rasa cemburunya itu, pikir Ara.


Morgan menoleh ke arah Ara, “gak usah ketawa,” ucap Morgan dengan ketus.


Ara menghentikan tawanya, dan langsung memandang Morgan dengan sinis.


“Apa ...,” tantang Ara, sembari memelototi Morgan dengan sinis.


Morgan berbalik memandang Ara dengan tajam, seolah meminta Ara untuk menjelaskan kembali apa yang terjadi.


Ara menyedekapkan tangannya.


“Apa benar yang dibilang Pak Dicky tadi?” tanya Morgan, yang rupanya masih belum mempercayai Ara, membuat Ara kesal bukan main.


“Ya beneran lah!” bentak Ara, dengan sangat percaya diri, bahwa dirinya tidak seperti yang Morgan tuduhkan.


Morgan memandangnya dengan sengit, membuat Ara penasaran dengan orang yang sudah memberikan berita sampah seperti ini pada Morgan.


“Emangnya siapa sih orang yang kurang ajar, yang udah kasih tau berita hoax begitu?” tanya Ara kesal.


“Ada,” jawab Morgan dengan singkat.


Ara mendelik, “kalau loe lebih percaya sama dia, loe pilih aja dia! Gak usah loe percaya sama gue!” bentak Ara yang sudah terlanjur kesal, lalu mengambil tasnya dan bangkit dari tempat duduknya.


Heran, kenapa dia selalu membuatku kesal seperti ini? Aku pun tidak mengenal siapa pria yang menolongku itu? Kenapa aku dituduh seolah-olah memang benar adanya? Pikir Ara yang masih tidak percaya dengan yang Morgan tuduhkan padanya.


“Grepp ....”


Morgan menahan tangan Ara, supaya Ara tidak bisa pergi kemana pun.


Ara hanya diam, sembari berusaha untuk tidak meluapkan emosinya lagi. Karena, Ara sudah cukup meluapkan banyak emosi pada Morgan.


“Aku cuma khawatir, kamu berpaling,” lirih Morgan, membuat wajah Ara terasa panas.


Sudah sedekat ini pun, Ara masih saja dibuat mabuk dengan perkataannya. Padahal, harusnya ia sudah terbiasa dengan hal manis yang Morgan lakukan padanya itu.

__ADS_1


Ara melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Morgan, “tenang aja. Loe urus aja para fans loe itu dulu. Kalau di kampus, kita bukan pacar. Kita bebas dekat dengan siapa pun. Gue juga gak akan maksa loe buat jaga perasaan gue kok,” ucap Ara dengan sinis, tetapi ragu dengan yang ia ucapkan sekarang pada Morgan.


Aku heran, kenapa aku bisa sampai hati mengucapkan kalimat seperti itu pada Morgan? Mungkin, itu akan sangat membuat hatinya terluka, pikir Ara yang tidak selaras dengan logikanya.


“Belum genap sehari kita pacaran aja, loe udah buat masalah begini. Please ... jangan bikin gue gak betah sama loe!” Ara memandangnya dengan pandangan yang miris.


Morgan terlihat hanya diam sembari menatap Ara dengan dingin. Mungkin sifat dinginnya itu tidak akan bisa hilang dengan mudahnya.


Mereka terdiam sejenak, sama-sama merenungkan tentang permasalahan yang terjadi kali ini, yang mungkin saja bisa membuat hubungan mereka menjadi terpecah.


Morgan melirik ke arahnya, “kamu gak nyaman sama aku?” tanya Morgan, membuat Ara menjadi merasa bersalah, karena sudah mengucapkan kalimat itu.


Ara memandangnya dengan sendu.


Apa yang sudah aku katakan padanya? Pikir Ara.


Ara menarik napasnya dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya.


“Dengan cara begini, itu cuma bikin gue ngerasa ilfeel ke loe. Gue juga punya masa lalu yang hampir sama kayak loe. Dan … gue gak mau kejadian yang lalu terulang lagi,” jelas Ara, membuat Morgan berpikir tentang masa lalu yang ada.


Ara memandang Morgan dengan tatapan yang lebih berani, “tapi gak ngekang juga dong caranya? Itu malah bikin siapa pun yang dekat sama loe jadi gak betah. Sadarin itu, Gan!” bentak Ara, mencoba membuat Morgan mengerti dengan yang ia maksud.


“Gak perlu ada mata-mata, gak perlu ada apa pun buat bikin loe yakin. Kalau loe gak percaya sama gue, loe gak harus pilih gue, Gan,” tambah Ara, membuat mata Morgan seketika langsung berkaca-kaca.


Ara sampai sedih melihatnya.


Morgan terdiam, karena merasa bersalah dengan keadaan yang terjadi.


Morgan menoleh ke arah Ara dengan ragu, “boleh peluk?” tanya Morgan lirih.


Ara merasa tak enak dengan dirinya. Ara harus mengirim kembali kepercayaan dirinya itu.


Morgan bergerak perlahan ke arah Ara, untuk bersiap memeluknya, walaupun Ara sama sekali tidak menjawab permintaan Morgan tadi.


‘Apa boleh buat,’ batin Ara yang sudah pasrah dengan keadaan.


“Greppp ....” Morgan memeluk Ara dengan sangat erat.


Erat sekali, hingga membuat dada Ara menjadi sangat sesak. Ara merasakan rasa sakit hatinya saat ini.

__ADS_1


Tapi sejujurnya, dirinya tidak bermaksud untuk membuat Morgan seperti ini, Ara hanya ingin membuat Morgan mengerti, dengan yang sedang Ara rasakan.


Pikiran Ara kalut, dalam situasi rancu seperti ini. Ia hanya tidak ingin, Morgan sampai harus menyewa seseorang untuk memata-mata seluruh kegiatannya, jika ia tidak berada di samping Morgan.


“Maaf ....”


Mereka serempak mengucapkan kata maaf, satu sama lain, membuat Ara tersenyum mendengarnya.


Ara membalas pelukannya itu, dan seketika mereka larut dalam suasana ini, sampai Ara melupakan sesuatu yang penting.


Ara mendelik, “ini ada CCTV-nya gak?” tanya Ara dengan nada yang seperti orang yang sedang terkejut.


Morgan masih menikmati peluk erat tubuh Ara, “ada,” jawab Morgan.


Ara langsung melepaskan diri dari pelukan Morgan itu.


Jadi, dari tadi sampai sekarang semua aktivitas kami, semuanya direkam dengan CCTV? Pikir Ara.


Ara mendelik, “wah … gila loe ya! Kenapa baru bilang sekarang kalau ada CCTV di sini?” tanya Ara dengan kesal.


Morgan hanya tersenyum mendengar ocehan Ara, yang sudah terbiasa ia dengar itu.


“Tenang aja. CCTV-nya mati kok. Udah lama rusak, karena korsleting listrik,” jawab Morgan, yang mampu membuat Ara semakin kesal saja.


Ara menatap Morgan dengan sinis, dan dengan tatapan kesal sembari menahan amarahnya yang hampir ingin meledak-ledak itu.


Melihat kekesalan Ara, yang sudah jelas terlihat itu, membuat Morgan memandangnya dengan polos.


“Lho, kenapa?” tanya Morgan dengan polosnya.


Ara langsung saja memukul dada bidang Morgan tanpa ragu, dan Morgan yang mengetahui hal itu, berusaha mengelak dari pukulan Ara, sehingga pukulan Ara jadi meleset.


“Lho? Aku salah apa emang?” tanya Morgan, yang masih saja tidak mengerti dengan kesalahan yang ia perbuat.


“Harusnya jelasinnya gak usah setengah-setengah begitu, bikin orang kesel tau gak!” bentak Ara, membuat Morgan melontarkan senyuman tipis ke arahnya.


“Kan kamu cuma nanya, Ada CCTV gak di sini. Ya jawabannya ada. Kamu gak nanya kan, CCTV-nya berfungsi atau tidak?” ucap Morgan dengan nada yang membuat Ara semakin geram.


Saking geramnya, Ara pun segera meninggalkannya, khawatir emosinya yang akan meledak-ledak nantinya.

__ADS_1


__ADS_2