Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kado Dari Mantan 3


__ADS_3

Morgan lagi-lagi menarik tangan Ara, dan langsung memeluknya dengan erat. Ara memberontak keras, namun Morgan memaksa pelukannya itu.


“Lepasin!” bentak Ara dengan kasar.


“Seperti biasa, kamu selalu pergi,” ucap Morgan yang tidak menghiraukan ucapan Ara.


Ara mendelik, “seperti biasa, loe juga selalu begini! Selalu gak jelas, tiba-tiba meluk, tiba-tiba juga bikin gue gondok!” timpal Ara kepada Morgan.


Ara sudah tidak bisa mengelak lagi. Ia menangis di pelukan Morgan karena ucapan Morgan yang tadi itu, masih terngiang di telinganya.


“Jangan nangis. Nanti saya sedih,” ucap Morgan, dengan nada yang seperti biasa.


Cuek dan dingin, tapi hatinya tidak mencerminkan sikapnya yang saat ini.


Hatinya hangat.


Membuat Ara sejenak melupakan masalah yang terjadi pada mereka.


Ara tidak sengaja melihat ke arah mejanya. Terlihat sebuah handphone yang sangat bagus dan terlihat baru. Matanya seketika membulat, membelalak heran, kenapa Morgan tidak memberi kabar kepada Ara saat sudah punya handphone baru?


Ara sangat kesal saat mengetahuinya. Ia langsung melepaskan pelukan Morgan itu.


“Itu apa?” tanya Ara sinis, sembari mendelik dan menunjuk ke arah yang bisa merebut perhatian Ara.


Morgan melihat ke arah yang sedang Ara tunjuk. Setelah melihatnya, ia kembali melihat ke arah Ara.


“Handphone.”


Singkat, padat, dan jelas!


Itulah sikap Morgan yang sebenarnya.


“Ya gue tau itu handphone, terus kenapa loe gak ngabarin gue, ha?” tanya Ara kesal, dengan mata yang membelalak sinis ke arah Morgan.


Morgan terlihat seperti sedang menahan tawanya.


Apakah ada yang aneh? Pikir Ara.


“Plis, deh! Ini bukan sekali dua kali loe begini!” bentak Ara, lalu segera berlalu meninggalkan Morgan.


Ara tidak mengerti dengan jalan pikiran Morgan. Dia bilang, pacarnya memberinya sebuah mobil, dan Ara melihat dia mempunyai handphone baru.


Siapa orang yang disebut sebagai pacarnya itu?


Apa, orang yang sama yang sudah membelikan Morgan handphone juga?


Entah bagaimana pikiran Morgan, Ara menjadi sangat kesal karena Morgan tak memberinya kabar, setelah memiliki handphone baru.


Ara kembali menuju ke ruang kelasnya. Langkahnya terhenti, saat mendengar handphone-nya yang seketika berdering, tanda adanya pesan masuk.

__ADS_1


Ara sudah tidak lagi menyimpan handphone-nya kepada yayasan, seperti yang ia lakukan kemarin-kemarin. Ia tersiksa, karena tidak bisa menghubungi siapa pun jika ada keperluan. Ia memaksa untuk tidak melakukannya, terserah bagaimana respon dari kakaknya.


Ara melihat ke arah layar handphone-nya itu. Di sana, tidak tertera nama kontak, dan itu merupakan nomor baru yang tidak Ara ketahui.


Ara mendelik kaget, “hah? Siapa nih ngirim pesan ke gue?” lirih Ara, bingung dengan yang ia lihat.


Buru-buru ia membuka pesan itu.


“Berhubung ada yang jutek, karena tidak diberi kabar, jadi … saya pastikan tiga kali sehari untuk mengirim pesan untuk kamu. Morgan,” isi pesan singkat, yang ternyata dari Morgan.


Wajah Ara memerah karena malu. Morgan berhasil membuat Ara tidak bisa berbuat apa pun lagi.


“Ih … apaan sih dia? Kenapa cuma tiga kali sehari coba? Udah kayak makan aja!” gumam Ara dengan kemarahan yang membeludak.


Dirinya kesal sendiri, sampai ia tersadar dengan apa yang baru saja ia pikirkan.


Ara membulatkan matanya, “gue mikir apa sih? Gak seharusnya gue mikir gini! Bodo amat, mau ngabarin kek, mau enggak kek,” ucap Ara kesal dengan yang ia pikirkan.


Tapi ketika Ara mengingat kejadian di ruangan Morgan tadi, Morgan terlihat sedang menahan tawanya.


“Hah!”


Mata Ara membulat sempurna, karena sudah mengetahui apa yang Morgan pikirkan kala itu.


Ara sangat malu, ketika mengingat respon dari Morgan tadi.


“Morgan rese!!” geram Ara tak bisa menerimanya.


Lain di mulut, lain di hati.


“Sedikit lagi,” lirih Morgan, kemudian berlalu meninggalkan Ara di sana.


Ara terdiam sesaat. Tak sengaja, Ara melihat teman-temannya. Di sana, sudah ada Rafa, Fla, dan Ray. Ara yang penasaran, langsung bergegas menghampiri mereka, yang sedari tadi mungkin saja menunggunya.


Ya ampun, percaya diri sekali.


Ara bergegas untuk menghampiri mereka semua.


“Hai!” sapa Ara, mereka spontan menoleh ke arah Ara dan tersenyum.


“Pagi, Ra!”


“Pagi!” Mereka menyapa Ara secara bergantian.


Ara melihat ke arah Rafa dan Ray, yang nampaknya sudah baik-baik saja sejak awal mereka bertengkar. Ara tersenyum simpul, karena memandang mereka yang sudah mulai akrab kembali.


“Lho ... udah pada akur, nih?” tanya Ara dengan sedikit ledekan yang tertuang.


Ray dan Rafa saling berpandangan, satu sama lain. Suasana menjadi sangat hangat saat ini. Tidak ada pertikaian, tidak ada permusuhan, yang bisa merugikan Ara, dan juga yang lainnya.

__ADS_1


“Ya … mau gimana lagi? Toh gue udah gak sama Putri,” jawab Rafa dengan nada yang terdengar pasrah.


Apa yang dia maksud? Ara tidak mengerti.


“Ah? Gimana? Bisa tolong jelasin gak? Bukannya kemaren loe bilang ke gue kalau loe kesel sama Ray, karena dia kasar sama cewe?” tanya Ara yang bertubi-tubi pada Rafa.


Ia terlihat menghela napas dengan berat. Sepertinya, agak berat ia menceritakan tentang masalah ini.


Apa boleh buat? Ara sudah penasaran, dan tidak boleh menunda semua yang ingin dia ketahui. Ara harus segera mengetahuinya, kalau tidak ingin mati penasaran.


“Lho ... bukannya yang kasar itu loe ya, Raf? Loe kan yang sengaja nyakitin Fla pake pesawat kertas itu?” tambah Ara.


Mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain, membuat suasana menjadi sangat canggung.


Ara memandangi mereka secara bergantian.


Apakah ada yang salah dari ucapanku? Pikir Ara.


“Eh gimana sih? Gue beneran gak paham sumpah!” Ara berteriak karena kesal, tidak memahami situasi dan kondisi yang sebenarnya terjadi antara mereka.


“Gini lho ... awalnya sebelum ada kejadian masalah sama Fla, gue sama Ray memang udah ada dendam pribadi, Ra. Karena cewe gue itu bekas pacarnya dia. Singkat cerita, dia kasar gitu ke cewe yang udah jadi mantan gue, gue gak bisa terima lah!” jawab Rafa dengan ragu.


Ara jadi mengerti, selama ini mereka sudah saling kenal jauh sebelum ia mengenal mereka. Makanya, mereka bisa melakukan hal-hal yang tidak habis ia pikirkan.


Fla hanya diam, sembari menyeringai mereka. Ara mendecap sembari menggelengkan kepalanya.


“Tapi sekarang, gue udah gak sama dia. Jadi gue pikir, untuk apa musuhan lagi kan?” tanya Rafa.


Ara mengangguk setuju dengan Rafa. Perkataannya, ada benarnya juga.


“Iya dong! Buat apa kita pecah, cuma gara-gara cowok atau cewek doang? Masih banyak kok, cowok di dunia ini yang mau nerima kalian. Gak harus rebutan gitu. Dan buat loe Ray, jangan pernah kasarin cewe! Karena kalau bukan cewe yang ngelahirin kita, siapa lagi? Emangnya cowok bisa ngelahirin?” omel Ara panjang lebar, Ray menunduk malu sembari tertawa kecil.


Nampaknya, ia terlihat tidak enak dengan Ara dan yang lainnya.


“Cowok memang gak bisa ngelahirin, karena cowok hanya kebagian investasinya--” ucap Rafa menyeleneh, yang terpotong karena Fla yang tiba-tiba saja membekap mulutnya.


“Diem, gak?” bentak Fla dengan tegas.


Suasana yang mellow, seketika berubah menjadi panas.


“Tampol!” suruh Ara yang sudah gemas dengan tingkah Rafa.


“Maaf, ih.”


“Iya, Ra! Gue udah taubat kok. Makanya pas gue ngeliat Rafa ngejailin Fla, gue jadi gak bisa tinggal diem,” ucap Ray, membenarkan.


“Iya, gue juga mau minta maaf ya Fla, atas kejadian waktu itu. Karena gue pikir itu biasa aja, gak akan berpengaruh apapun. Eh malah ujungnya gue dipanggil ke Kaprodi sama Pak Morgan,” tukas Rafa.


Fla menyeringainya. Entah kenapa, Fla hanya menyengir saja dari tadi.

__ADS_1


“Pantes lah dibelain! Orang Fla sama Morgan itu--” ucap Ara terpotong.


__ADS_2