
Pagi hari menyapa, Arash masih saja belum membuka matanya. Ilham menunggu dengan setia, tanpa beristirahat sedikit pun sejak saat ia menjemput Arash di bandara kemarin.
Wajahnya kini terlihat sangat pucat, karena ia tidak bisa sekalipun memejamkan matanya, untuk sekedar beristirahat.
Ilham terus-menerus melirik ke arah jam tangannya, untuk melihat waktu yang sepertinya terasa sangat lama. Ilham harus menjemput Ara, untuk mengantarkannya ke kampusnya, karena ia tahu, Ara pasti akan sangat terkejut kalau Arash belum juga pulang sampai saat ini. Ditambah lagi, Ares yang sendirian di sana, juga pasti sangat khawatir karena Arash yang belum pulang sejak semalam.
Ilham tidak mempunyai nomor telepon Ara, membuatnya tidak bisa menghubungi Ara untuk memberi kabar tentang Arash padanya.
"Huft ...."
Ilham menghela napasnya dengan panjang.
"Untungnya, Fla sudah dibawa pulang bersama Jessline semalam. Kalau tidak, pekerjaan saya akan menumpuk," gumam Ilham yang bersyukur karena bertemu dengan Jessline semalam.
Jika ia tidak bertemu dengan Jessline, ia benar-benar akan kesulitan menghadapi permasalahan yang Arash derita.
"Krukkk ...."
Terdengar suara yang lumayan keras dari perut Ilham. Sepertinya, ia mulai tidak menjaga pola makannya dengan benar, karena terus mengurus tugas dan keperluan Arash selama beberapa hari ini.
Ilham memegang perutnya, "duh ... sepertinya harus makan cepat nih, kalau enggak bisa-bisa drop nantinya," gumam Ilham lirih, yang menghawatirkan keadaan dirinya sendiri.
Ilham kembali melihat ke arah jam tangannya. Meskipun jam masih menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh, Ilham masih saja ingin cepat-cepat bertemu dengan Ara.
Entah kenapa, setelah beberapa saat tidak melihatnya, Ilham jadi sedikit rindu padanya. Meskipun ia juga harus secepatnya memasak untuk Ares, tapi ia juga merasa sedikit rindu dengan Ara.
"Apa aku sekarang aja ya ke sana?" gumam Ilham lagi.
Ilham pun menoleh ke arah Arash, yang masih belum sadarkan diri juga, sampai saat ini.
Ilham pun bersiap menuju ke rumah Ara, dan meninggalkan Arash di sana.
...***...
Pagi itu, Ara ternyata bangun lebih awal, karena ia tidak bisa beristirahat dengan tenang, akibat Arash yang tidak pulang ke rumah malam tadi.
Ara berusaha keras untuk beristirahat, tapi rasa khawatirnya pada Arash, membuatnya tidak bisa lebih lama lagi memejamkan matanya.
Ara berdiri di depan cermin, sembari memakai dasinya. Ia tidak mau dihukum kembali, hanya karena tidak memakai atribut dengan lengkap.
__ADS_1
"Tuh, gue udah pake!" gumam Ara dengan nada yang sedikit kesal, karena tiba-tiba saja teringat tentang kejadian kemarin, yang terpaksa harus membuatnya menerima hukuman dari Morgan.
"Awas aja dia sampe hukum gue lagi!" gumam Ara lagi, yang masih belum bisa menerima tentang kejadian kemarin.
Ara sudah selesai memakai dasi, dan segera memeriksa handphone-nya, khawatir ada notifikasi yang belum sempat terbaca olehnya.
Namun sayang sekali, tidak ada notifikasi apa pun di handphone-nya, membuat Ara sedikit geram.
"Kenapa gak ada notif, sih?" gumamnya dengan nada geram, karena ia berharap kalau Morgan bisa memberinya kabar, tapi ternyata ia sama sekali tidak memberi Ara kabar.
"Mati aja loe sana!" geram Ara, yang sudah tidak sabaran lagi menghadapi sikap Morgan yang kadang acuh, kadang juga lembut.
Seperti punya kepribadian ganda.
Ara segera menekan nomor Morgan, untuk menghubunginya.
"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif."
Terdengar suara pemberitahuan, kalau telepon Morgan, masih belum aktif sampai saat ini. Itu cukup membuat Ara bertambah kesal.
"Masih gak aktif juga nomornya!!" gumam Ara yang bertambah geram dengan keadaan.
Ara teringat dengan Dicky, yang mungkin saja saat ini masih bersama dengan Morgan. Ia segera menghubungi Dicky, dengan maksud untuk menanyakan keadaan Morgan padanya.
Ara menunggu Dicky mengangkat telepon darinya.
Di sisi sana, Dicky terkejut, karena mendapati handphone-nya yang berdering. Ia segera melihat ke arah layar handphone-nya itu.
Dicky mendelik, karena di layarnya tertera nama Arasha.
"Hah, Ara nih ...," lirih Dicky, yang sedang duduk di kantin bersama Morgan, untuk sekedar sarapan dan mengisi perutnya yang sudah lapar.
Morgan tak menghiraukannya, dan malah kembali menyantap sarapannya.
Dicky mengangkat telepon darinya, dan segera membuka loud speaker.
"Halo, Ra?" sapa Dicky.
"Halo, Pak Dicky. Lagi sama Pak Morgan, gak?" tanya Ara.
__ADS_1
Dicky yang bingung, segera menoleh ke arah Morgan, yang sedang asyik menyantap bubur. Morgan menggerakkan tangan kirinya, memberi kode kalau dirinya sedang tidak ada di sini.
"Oh, kebetulan Morgan lagi mandi, Ra. Ada apa ya, Ra?" tanya Dicky.
"Oh gitu. Gak ada apa-apa kok, Pak. Saya cuma khawatir sama dia, karena dari kemarin handphone-nya gak aktif. Sampai semalam saya kirim makanan aja, bingung mau hubungin dia gimana. Saya juga gak inget kalau saya nyimpan nomor Pak Dicky," jawab Ara, membuat Morgan mendelik.
"Uhuukk ...."
Morgan tersedak, membuat Dicky bingung harus bersikap seperti apa. Di sana, Ara mendengar ada suara batuk seseorang yang ada di dekat Dicky, membuatnya mengerenyitkan dahinya.
"Pak Dicky, siapa itu yang batuk?" tanya Ara yang penasaran dengan orang yang sedang bersama dengan Dicky.
Morgan segera menenggak minumannya hingga tak tersisa sedikit pun, membuat Dicky gelagapan saat ditanya seperti itu dengan Ara.
"Emm ... Pak Anwar yang batuk, Ra. Saya lagi di kantin, makan sama Pak Anwar," ucap Dicky membuat Ara mengangguk kecil.
"Oh gitu."
"Oh ya, btw, terima kasih ya makanannya semalam. Saya jadi ikut nyicip," ucap Dicky membuat Ara tersenyum.
"Sama-sama, Pak. Makasih juga udah mau bantuin Morgan," ucap Ara membuat Dicky tersenyum tak enak ke arah Morgan.
Morgan mendelik, "bilang sama dia, saya jemput dia sekarang," bisik Morgan, membuat Dicky mengacungkan jempolnya.
"Oh ya, tadi sebelum mandi, Morgan bilang, katanya dia mau jemput kamu sekarang," ucap Dicky, membuat Ara terkejut, dan sedikit senang mendengarnya.
"Wah ... oke deh, saya tunggu di rumah," ucap Ara lalu segera memutuskan sambungan teleponnya.
Dicky meletakkan kembali handphone-nya di atas meja, dan mendelik ke arah Morgan.
"Heh, makanya punya handphone tuh dipergunakan dengan baik dan benar! Jangan begini, bikin orang salah paham, seudzon sama orang, padahal yang ngasih makanan si Ara," cibir Dicky, membuat Morgan melontarkan tatapan kesal ke arahnya.
"Apa sih, pagi-pagi udah marah aja?" gumam Morgan yang sedikit kesal dengan Dicky.
Morgan terdiam, karena ternyata dia sudah salah mengira tentang makanan yang dikirimkan oleh kurir itu.
Itu semua karena Morgan terlalu ragu, dengan pengalaman kemarin tentang nasi goreng yang ia terima, yang ia kira adalah pemberian Ara, tapi ternyata itu adalah pemberian dari Farha.
"Yaudah, saya mau jemput Ara dulu ya," ucap Morgan.
__ADS_1
"Siap."
...***...