Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Tegang, Seperti Sidang Skripsi


__ADS_3

"Cklekk ...."


Seorang dokter yang menangani Ara pun keluar dari dalam ruangan Ara. Ia berpapasan dengan Ilham, yang memang sedari tadi menunggunya di luar ruangan Ara.


"Bapak suaminya mbak yang di dalam?" tanya dokter, membuat Ilham mendelik kaget mendengar pertanyaan dokter.


'Memangnya kelihatannya begitu, ya?' batin Ilham yang tak percaya dengan pertanyaan sang dokter.


Sang dokter pun menatap tajam ke arah Ilham, "Bisa ikut ke ruangan saya?" tanyanya, membuat Ilham tersadar dari lamunannya.


"Bi-bisa, dok," jawab Ilham, yang segera mengikuti sang dokter untuk menuju ke arah ruangan sang dokter.


Sesampainya di sana, Ilham pun menarik kursi untuk dirinya sendiri.


"Silakan duduk," gumam sang dokter, membuat Ilham melontarkan senyum formalitas ke arahnya.


Ilham dan sang dokter pun duduk pada kursi kosong yang mereka tempati.


Sang dokter menyatukan kedua telapak tangannya, dan meletakkannya di atas meja kerjanya. Ilham memandangnya dengan tatapan tegang.


'Rasanya sama seperti saat sidang skripsi waktu itu,' batin Ilham, yang merasa sangat kaku berhadapan dengan seseorang yang mengenakan jas putih dengan mengalungkan alat pengukur detak jantung itu di lehernya.


"Glekk ...."


Ilham tak sengaja menelan salivanya, saking terlalu gugup, hingga membuat tenggorokannya kering.


Pandangan sang dokter, semakin membuat Ilham sesak, padahal ruangan ini ber-AC, tetapi Ilham sangat kepanasan hanya dengan menatap tatapan dokter yang sangat sengit itu.


Seperti seekor elang yang hendak memangsa buruannya.


"Kenapa baru dibawa ke rumah sakit sekarang?" tanya dokter dengan sinis, membuat Ilham mendelik bingung.


"Sa-saya baru tahu kalau dia sakit, dok," jawab Ilham dengan nada yang sangat panik, karena dari nada sang dokter yang sinis seperti ini, mungkin saja terjadi sesuatu yang buruk pada Ara.

__ADS_1


"Gimana bisa? Kalian kan tinggal di atap yang sama, tidur pun di ranjang yang sama, kenapa istri sakit, kamu baru tahu sekarang?" tanya dokter yang sepertinya sudah salah paham lebih dalam dengan Ilham.


Ilham hanya melongo tak percaya dengan apa yang dokter katakan padanya. Ia mengerenyitkan dahinya ke arah sang dokter.


"Tapi dok--"


"Tidak usah beralibi. Mulai sekarang, anda harus jaga kondisi istri!" potong sang dokter, membuat Ilham merasa agak kesal dengan dokter ini.


Ilham pun menunduk sendu karena merasa sudah dimarahi oleh orang asing, "I-iya, dok," gumam Ilham yang mengalah dengan sang dokter yang usianya mungkin juga sudah lebih tua daripada ayahnya.


Tidak ada alasan bagi Ilham untuk membantah ucapan dokter, karena baginya, dokter paruh baya ini hanya salah paham dengan keadaan.


"Selamat, istri bapak ... hamil!" gumam sang dokter, membuat Ilham seketika mendelik kaget ke arahnya.


Jantung Ilham sudah tidak bisa terkontrol. Ilham tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan dokter yang sudah salah paham ini dengannya.


Sebagai seorang suami, seperti yang dokter itu pikirkan, seharunya Ilham bereaksi sangat senang ketika mendengar istrinya hamil. Namun, kenyataannya berbeda. Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun. Ilham juga tidak mengerti harus berbuat apa lagi setelah ini.


"Ada apa? Kamu tidak suka kalau istri kamu hamil?" tanya dokter, membuat Ilham menganga kaget, tak mengerti harus berbuat apa.


"Hah? I-iya, dok. Saya senang, kok," gumam Ilham dengan nada yang agak ragu, membuat sang dokter lebih tidak percaya lagi melihat sikapnya.


Ilham memandangnya dengan tatapan bingung, "Kira-kira, sudah berapa lama usia kandungan dia, dok?" tanya Ilham yang agak penasaran dengan kehamilan Ara.


"Sudah memasuki minggu ke delapan," jawab sang dokter, membuat Ilham tercengang.


"Hah? Minggu ke-8?" gumam Ilham yang tak percaya dengan apa yang dokter katakan.


"Ya! Harus dijaga! Kandungannya sangat lemah, karena kondisi dirinya yang sangat lemah, akibat anemia dan mempunyai penyakit bawaan lainnya, jadi hal sekecil apa pun harus dijaga dengan semaksimal mungkin. Pola makan juga dijaga, karena dia punya penyakit lambung juga," gumam sang dokter membuat Ilham tak mengerti dengan yang harus ia lakukan.


Ilham hanya diam, sembari memikirkan bagaimana ke depannya nanti tentang Ara.


Melihat Ilham yang kelihatannya bingung, sang dokter pun sepertinya merasakan hal yang mungkin dirinya sudah terlalu keras berbicara pada pemuda yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Sang dokter pun menghela napasnya, "Maaf, saya punya anak seusia kamu. Jadi, saya terlalu sensitif mengenai hati. Maaf saya sudah terlalu ikut campur dengan permasalahan rumah tangga kalian. Kamu boleh bawa pulang istri kamu. Jangan lupa, dijaga pola makan karena trimester pertama pasti akan lebih sulit masuk makanan, karena mengalami mual yang berlebihan," gumam dokter, membuat Ilham tak henti-hentinya mendelikkan matanya.


'Apa katanya? Trimester?' batin Ilham, yang sama sekali tidak mengerti dengan istilah mengenai ibu hamil.


"Jangan lupa harus dicek berkala untuk melihat kondisi perkembangan si janin. Karena akan ada banyak vitamin yang nantinya akan diberikan," ucap sang dokter mengingatkan.


Ilham menunduk, tak tahu harus berkata apa. Ia sama sekali belum memiliki pengalaman mengenai ibu hamil, dan dirinya dipaksa mengerti dengan keadaan yang aneh seperti ini.


Ilham kembali memandang ke arah sang dokter, "Terima kasih, dok," gumam Ilham, yang lalu segera meninggalkan ruangan sang dokter.


...***...


Setelah menunggu Ara sadarkan diri, Ilham pun segera membawanya pulang ke rumahnya. Dengan sangat hati-hati, Ilham mengemudikan mobilnya, khawatir terjadi sesuatu dengan kandungan Ara saat ini, mengingat sang dokter sudah mengatakan bahwa kandungan Ara sangatlah lemah. Itu membuat Ilham semakin takut mengemudikan mobil.


'Pelan-pelan,' batin Ilham yang tidak mau membuat satu kesalahan terhadap Ara.


Sesampainya di rumah, Ilham segera turun dari mobil, dan membukakan pintu untuk Ara.


Ilham menatap Ara dengan sendu, "Mau saya bantu?" tanya Ilham, tapi Ara hanya memandang kosong arah hadapannya.


Ara melangkah ke luar mobil, dan karena kondisinya terlalu lemas, Ara pun tak sengaja hampir jatuh ke atas aspal.


Beruntung Ilham ada di sana, sehingga ia bisa secepatnya menangkap Ara yang hampir saja terjatuh.


"Hati-hati," gumam Ilham, sembari memegangi kedua tangan Ara.


Jantung Ilham terpompa sangat kencang. Ia sangat takut dan khawatir dengan keadaan Ara yang hampir saja terjatuh tadi.


'Apa yang terjadi, kalau saya tidak ada tadi?' pikir Ilham, yang sangat menyesali jika dirinya tidak ada di samping Ara, saat kejadian itu terjadi.


Ilham membantu Ara untuk berjalan menuju ke arah kamarnya.


Ilham menuntunnya untuk melangkah ke tangga, dan menuju ke kamarnya. Ia harus ekstra hati-hati, agar tidak terjadi sesuatu dengan Ara saat ini.

__ADS_1


__ADS_2