
Setelah beberapa saat, akhirnya Ara mendengar suara deheman dari Morgan. Ara menoleh ke arahnya. Nampaknya, ia berusaha mempersiapkan sesuatu sampai mengambil jeda yang lumayan lama.
Morgan terlihat mengambil napas panjang.
“Grebb ….”
Morgan tiba-tiba saja menggenggam tangan Ara, meskipun lembut, tapi itu cukup membuat Ara terkejut. Mereka pun kini saling berhadapan.
“Boleh saya tanya sesuatu?” tanya Morgan.
Ara tanpa sadar, mengangguk kecil merespon pertanyaan dari Morgan. Morgan terlihat seperti sedang berusaha menguatkan dirinya. Ara penasaran dengan apa yang ingin Morgan tanyakan padanya.
“Apa kamu bisa melakukan satu hal?” tanya Morgan.
Ara semakin penasaran, tapi terpaksa harus diam, untuk beberapa saat.
“Kamu bisa menolak, kalau kamu merasa keberatan,” ucap Morgan.
Apa yang akan Morgan tanyakan padaku? Aku sama sekali tidak paham dengan kondisi perasaanku saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sendiri tidak tahu, pikir Ara.
Suasana menjadi lebih canggung dari suasana awal. Ara sudah kehabisan kata, padahal sejak tadi ia sama sekali tidak berkata apapun. Entah apa lagi yang akan Morgan lakukan. Perasaan Ara tidak menolak, dan logikanya pun sedang pro dengan perasaan. Ara sama sekali tidak membenci Morgan.
“Kamu ....”
“Kamu ....”
“Mau ....”
Apa yang akan ia katakan? Pikir Ara.
Ara ingin sekali memukul kepalanya itu. Kenapa dia mendadak jadi gagap seperti ini?
‘Aduh ... kenapa saya jadi panas dingin begini, sih? Tinggal ngomong aja susah banget!’ batin Morgan merasa terganggu dengan sikap idiotnya itu.
Sikap rancu ini muncul lagi. Morgan tidak pernah seperti ini lagi sejak saat itu. Saat ia menyatakan perasaannya pada Meygumi dan juga Putri. Sudah lama waktu berlalu. Sudah sekitar 10 tahun yang lalu.
‘Ungkapin aja sih! Dia juga belum tentu terima,’ batin Morgan merasa kesal dengan perasaannya sendiri.
“Kamu … mau ....” Morgan yang canggung, langsung merogoh saku celananya untuk mengeluarkan beberapa permen, lalu menyodorkannya pada Ara, “permen?” sambungnya dengan polos.
‘Aduh, apa-apaan sih?’ batin Morgan seperti merasa malu dengan keadaannya saat ini.
Terlihat wajah Ara yang langsung bersemu menjadi merah. Auranya langsung berubah menjadi seram. Sepertinya, ia sangat marah pada Morgan. Kenapa Morgan harus menawarkan permen padanya?
Omong kosong apa ini?
Morgan ke sini untuk menyatakan perasaannya pada Ara. Tapi kenyataannya, dia malah mempermainkan perasaan Ara saja.
“Gue benci sama loe!” teriak Ara dengan keras, kemudian berlari pergi ke arah pintu kamarnya, membuka kunci dan berhambur ke luar ruangan.
Morgan tidak bisa berbuat apa-apa. Morgan tidak mampu menahan perasaan kesal terhadap dirinya itu. Ia tidak bisa menyatakan perasaannya pada Ara.
__ADS_1
‘Tapi jika diamati, kenapa Ara seperti marah sama saya? Saya sudah bilang padanya, untuk menolaknya jika dia tidak mau. Bukan berarti untuk marah dan meninggalkan saya di sini, bukan?’ batin Morgan, tetap tegas dengan apa yang ia rasakan.
Morgan tidak mengerti dengan yang wanita pikirkan.
‘Memangnya, saya salah apa? Apa yang dia tunggu, sehingga membuat saya merasa serba salah seperti ini?’ batin Morgan, masih tidak mengerti dengan yang Ara rasakan.
***
Ara berhamburan ke luar ruangan, sembari tetap menahan perasaan kesalnya terhadap Morgan.
‘Tega banget dia ngomong gitu ke gue!’ batin Ara yang terus-menerus meluapkan emosinya.
Entah kenapa, ucapan Morgan itu membuat Ara merasa sangat kesal.
Bukan itu yang aku harapkan! Bukan ucapan itu yang aku ingin dengar, pikir Ara.
Ara berjalan cepat menuju ruang tamu.
“Grebb ….”
Seseorang menahan tangan Ara. Ia melihat, memanglah Morgan yang menahannya.
“Ish, lepasin gue!” bentak Ara yang berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Morgan.
Arash yang melihat pemandangan ini, langsung mengubah fokusnya ke arah mereka.
“Eh, kenapa nih?” tanya Arash tiba-tiba, yang memang sudah daritadi menunggu mereka di ruang tamu.
Jika mampu.
“Lepasin!” bentak Ara dengan kasar.
Morgan melepaskan tangan Ara seketika. Ara lalu melipat kedua tangannya, khawatir Morgan menarik tangannya lagi nanti.
“Apa si nih? Kenapa coba kalian?” tanya Arash.
Ara mendengus kesal, jika mengingat kejadian di dalam kamar tadi.
“Kakak tanya aja noh sama DOSEN yang satu ini,” jawab Ara dengan menekankan kata ‘dosen’, sembari membelalak ke arah Morgan.
Ara membuang pandangannya karena merasa kesal dengan mereka.
“Kenapa sih, Gan, kenapa?” tanya Arash, pada Morgan.
“Lho ... coba tanya adikmu deh. Kenapa dia marah pas saya tawarin permen? Kan awalnya sudah saya tekankan, kalau dia gak suka, dia boleh nolak. Tapi bukan berarti dia harus marah sama saya dong?” jelas Morgan panjang lebar.
Ara masih saja kesal dengan ucapan Morgan.
Ara menatapnya sinis, seperti ingin mengajaknya perang.
“Ya tapi loe gak harus gitu dong! Bukan itu yang gue mau denger. Gue udah serius dengerin apa yang mau loe bicarain, eh loe malah nawarin permen! Nonsense tau gak!” jelas Ara, tak mau kalah dengan yang diutarakan dengan Morgan.
__ADS_1
Ya. Memang seperti ini sifat Ara. Tidak ingin kalah dengan siapa pun, meski ia salah sekali pun.
“Terus, yang mau kamu dengar itu apa?” tanya Morgan, mencoba bertanya pada Ara.
Ara yang semula kesal, berubah menjadi bingung.
Sebetulnya Ara kenapa?
‘Gue ini kenapa?’ batin Ara bingung.
Ara merasa malu pada mereka. Wajahnya seketika berubah menjadi panas.
“Ih, udah ah! Katanya mao nonton? Ayo! Nanti gue berubah pikiran lagi, nih!” ucap Ara asal, kemudian langsung berlari menuju mobil Morgan yang sudah terparkir di depan rumahnya.
“Dia kenapa?” tanya Morgan yang bingung dengan perubahan sikap Ara yang tiba-tiba.
Arash terlihat sedang berusaha menahan tawanya.
Morgan menoleh kea rah Arash, “loe kenapa?” tanya Morgan lagi padanya.
Dia malah tertawa semakin kencang. Ada yang aneh dari orang ini. Morgan sampai mengerenyitkan dahinya.
“Loe itu idiot atau gimana sih, Gan?” tanya Arash, membuat Morgan makin bingung.
“Hah, gimana maksudnya?” Morgan menatap manik mata laki-laki yang kelak akan menjadi bagian dari keluarganya itu.
Semoga.
“Kalo cewek udah begitu, itu tandanya dia nunggu loe buat nyatain perasaan ke dia!” jelas Arash.
“Deg ....”
Aku ... deg-degan, pikir Morgan.
‘Hmm ... Ara itu imut banget, ya,’ batin Morgan yang berusaha menyembunyikan senyumnya di hadapan Arash.
Sebetulnya, Morgan memang hendak menyatakan perasaan pada Ara. Tapi, entah kenapa rasa idiotnya ini, membuatnya tidak bisa mengatakannya dengan benar. Morgan jadi merasa mempermainkan perasaan Ara, padahal ia tidak bermaksud untuk itu.
Apalagi, Morgan juga masih tidak bisa bergerak bebas. Meygumi masih terus mengawasinya, sampai detik ini. Morgan jadi tidak semegah mendekati Ara.
Untung saja Meygumi sekarang sedang melakukan perjalanan ke Jepang. Jadi, Morgan bisa mendekati Ara kembali, untuk sementara waktu ini.
Ya! Memang, dia adalah gadis yang tinggal di Jepang. Morgan bertemu dengannya saat ia melanjutkan S-2 di salah satu Universitas terbaik di Tokyo. Saat itu, tidak sengaja Morgan memanfaatkan Meygumi untuk bisa hidup di sana secara cuma-cuma. Tapi lama-kelamaan, mungkin ia merasa iba dengan Meygumi. Mey sama sekali tidak keberatan saat Morgan memberitahunya, bahwa ia memanfaatkannya. Mey adalah orang yang tulus, pada waktu itu.
Ah ... sudahlah.
Morgan tidak ingin membahas tentang latar belakang Meygumi. Ia sudah cukup terlambat untuk menonton film bersama gadis pujaan hatinya, yang nantinya akan menjadi istrinya.
Semoga saja.
***
__ADS_1