Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Jarum di Dalam Tumpukan Jerami


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Rafael sudah berada di kampusnya. Ia hanya perlu menunggu Morgan untuk masuk ke ruangannya, dan menjalankan rencana yang diberikan oleh Ara, untuk ia jalani.


Rafa menunggu Morgan di depan ruang dosen, sembari sesekali meliat ke arah handphone-nya.


Pagi ini, adalah pagi untuk melangsungkan acara tour guide untuk seluruh guru ekstra kulikuler yang baru saja datang ke kampus ini.


Salah satu teman Rafa, sekaligus kakak tingkatnya di kampus ini, menjabat sebagai ketua HIMA di kampus. Dengan susah payah ia membujuknya, untuk bisa menggantikannya menjadi pendamping Morgan, saat acara yang diselenggarakan pagi ini, dimulai.


Akhirnya, aku bisa dengan mudah menggantikannya, pikir Rafa yang sudah risau jika kakak tingkatnya menolaknya.


Rafa memperhatikan jam yang berada di tangan kanannya, untuk memastikan kedatangan Morgan. Ia sengaja datang lebih pagi, agar ia tidak terlambat untuk acara ini.


“Tringgg ....”


Satu pesan masuk, di kotak masuk handphone-nya. Rafa segera melihat dan membuka pesan itu.


“Gimana? Morgan udah dateng belum?” isi pesan singkat, yang ternyata dari Ara.


Ternyata, Ara yang mengirimkan pesan kepada Rafa. Buru-buru ia membalas pesannya, karena kalau tidak, pasti Ara akan mengamuk nantinya.


Rafa sudah sering membuat Ara mengamuk, karena terlalu lama membalas pesan singkatnya.


“Belum ada tanda-tanda,” jawab Rafa.


Ia mengirim pesan pada Ara. Seketika, pesan yang Rafa kirim tadi, langsung berubah warna menjadi biru, membuat Rafa menjadi menganga kaget.


Cepat sekali ia membaca pesan yang berhubungan dengan Morgan, pikir Rafael.


“Pokoknya loe tungguin aja. Biasanya Morgan dateng jam setengah 07.20.”


Balasan pesannya membuat Rafa kesal. Pasalnya, saat ini saja baru sekitar pukul 06.30 pagi.


Apa aku harus menunggu lebih lama lagi di sini? Pikir Rafa.


“Ah, kesel banget gue!” teriak Rafa dengan lirih, saking kesalnya karena harus menunggu lebih lama lagi.


Mau tidak mau, aku harus menunggu lagi, pikir Rafa.


“Permisi,” sapa seseorang secara tiba-tiba.


Rafa terkejut, dan langsung menoleh ke sumber suara.


Terlihat sosok wanita asing yang sangat cantik, sedang berdiri di hadapan Rafa saat ini, membuat Rafa sampai terkesima melihatnya.

__ADS_1


Rafa memandangnya dengan lekat, “iya, mmm ... mau cari siapa, ya?” tanya Rafa yang sampai tak bisa berkata apa pun.


Wanita itu memandang Rafa dengan tatapan malu. Rafa memperhatikan, setiap sisi dari wajahnya.


Wajahnya sangat mirip dengan idol Korea. Ditambah lagi, riasan di wajahnya yang tidak terlalu mencolok, membuat dirinya tampak lebih mirip dengan orang Korea.


Apa aku sedang berhadapan dengan artis Korea? Pikir Rafa yang sudah terlanjur terkesima dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini.


“I am looking for a lecturer office. Do you know?” tanyanya.


Rafa menjadi bingung, karena mungkin memang benar yang ia pikirkan, bahwa dirinya sedang berhadapan dengan orang asing.


Tingginya saja, hampir menyamai tinggi Rafa. Tubuhnya yang sangat ramping, membuat Rafa semakin terkesima dan jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya.


Rafa tersenyum melihat ke arahnya, yang sedang berdiri tegak di hadapan Rafa.


Ah … aku pasti sudah bermimpi! Tidak sia-sia aku melakukan tugas ini. Aku mendapatkan imbalan yang setimpal kali ini, pikir Rafa tanpa berkedip sedikit pun.


Wanita itu pun menatap Rafa dengan heran, karena Rafa sama sekali tidak menghiraukan pertanyaannya.


“Hallo?” pekiknya.


Rafa mendengar suara wanita ini yang indah, sembari membayangkan jika mereka berdua nanti akan bersama.


Betapa bahagianya aku, pikir Rafa yang masih belum sadar dengan keadaannya.


Nadanya terdengar lebih keras daripada sebelumnya. Rafa sampai melompat kaget karenanya.


Ternyata, aku sedang melamun, pikir Rafa.


Rafa membenarkan pandangannya terhadap wanita ini, “oh, i am sorry. You came at the right place. This is the lecturer's office,” ucap Rafa dengan nada tak enak.


Mungkin, aku sudah membuatnya tak nyaman saat ini. Aku harus bersikap tenang. Tak boleh menyia-nyiakan jarum di dalam jerami, pikir Rafa yang berusaha mengatur sikapnya.


Ia mengerenyitkan dahinya sembari melontarkan senyum,“oh, nice. Thank you for your information,” jawabnya sembari tersenyum.


Rafa hanya diam, lalu tertawa kecil karena damage senyumannya yang membuat hati Rafa menjadi seperti, terpesona.


Wanita itu meninggalkan Rafa, dan masuk ke dalam ruang dosen.


Rafa sampai tak bisa berkata-kata lagi. Ia melihat kepergian wanita itu, yang bersikap malu-malu, dan menghilang di balik pintu ruangan.


Mata Rafa membulat, “astaga!” gumam Rafa yang terkejut, sembari menepuk keras keningnya.

__ADS_1


Sepertinya ia melupakan sesuatu.


“Gue lupa nanya namanya!” lirihnya.


Rafa terburu-buru ingin memasuki ruangan dosen. Tapi, langkahnya terhenti karena mengingat Morgan yang sampai saat ini belum juga sampai.


“Haduh! Mana sih Pak Morgan!” gumam Rafa, karena terlalu tergesa-gesa.


Ia khawatir jika dirinya tidak akan bisa bertemu dengan wanita itu lagi, karena ia harus menunggu sampai Morgan benar-benar datang, dan ia juga harus memberikan beberapa file yang dititipkan untuk acara ini.


“Permisi,” sapa seseorang dengan aksen yang sangat berat.


Terdengar suara asing lagi dari arah belakangnya. Rafa terkejut, dan segera menoleh, berbalik badan ke sumber suara.


Kali ini, sosok laki-laki lumayan tampan, sedang berdiri di hadapannya, membuatnya bingung tak keruan.


“Iya?” ucap Rafa yang sudah bingung harus menjawab apa lagi.


“Ruang dosen, di mana, ya?” tanyanya.


Rafa mulai menjadi bingung.


Kenapa harus bertanya ruang dosen terus? Aku kan jadi semakin ingin masuk ke ruang dosen itu! Pikir Rafa yang sudah tidak tahan ingin berbincang dengan wanita itu.


“Emm ... di sebelah sini ...,” Rafa menunjukkan pintunya, namun ia bingung ingin menyebutnya dengan panggilan yang seperti apa.


Laki-laki itu peka sekali terhadap Rafa, “panggil aja saya Abang,” ucapnya.


Rafa terdiam sesaat, lalu tertawa kecil ke arahnya sembari mengangguk.


“Oh … iya, Bang,” gumam Rafa yang tak enak.


Laki-laki bertubuh besar itu, tersenyum kecil ke arah Rafa.


“Makasih, ya,” lirihnya sembari membuka pintu ruangan itu.


Rafa mengangguk ke arahnya, “siap, Bang,” jawab Rafa.


Sudah dua orang yang menanyakan letak ruangan dosen. Bersemangat sekali mereka datang ke kampus ini. Pak Morgan saja belum datang. Mereka yang terlalu pagi, atau para dosen yang memang malas datang awal waktu? Pikir Rafael, sembari menggelengkan kecil kepalanya.


Rafa menunggu dengan sangat sabar, sambil sesekali membuka beranda handphone-nya untuk sekedar scroll media sosialnya.


Wajahnya terlihat lemas sekali, karena saking terburu-burunya, ia sampai tidak sempat untuk sekedar sarapan pagi. Yang ada di pikirannya hanyalah cara supaya ia bisa datang lebih pagi daripada Morgan, supaya tidak terjadi bentrok waktu, atau keterlambatan, dan tidak membuat Morgan salah sangka terhadap kakak tingkatnya itu.

__ADS_1


Rafa juga harus menjaga nama baik kakak tingkatnya.


“Duh ... pelan-pelan dong ….”


__ADS_2