Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Back To Home


__ADS_3

Sore itu, Arash sudah menuju arah kembali ke kediamannya. Setelah sekian waktu bersama-sama dengan Fla, hal itu membuat Arash menjadi semakin mencintainya, dan melupakan Jessline dalam beberapa waktu.


Arash tersenyum memandang ke ada hadapannya, 'ternyata obat move on itu, ya jatuh cinta lagi. Kalau putus lagi dan mau move on lagi, ya jatuh cinta lagi. Begitu seterusnya, sampai menemukan wanita yang cocok, untuk dijadikan sebagai istri,' batin Arash yang ternyata sudah bisa menemukan solusi dari setiap permasalahan hidupnya, mengenai cinta.


Arash memandang ke arah spion, yang terarah ke arah mereka, yang ternyata sudah tertidur pulas.


Perjalanan mereka sangat panjang, pantas saja mereka tertidur pulas seperti itu.


Arash membanting stir ke kanan, karena kini tujuannya sudah sampai di kediaman Bunga, karena letak pantai yang mereka kunjungi, lebih dulu sampai pada kediaman Bunga, dibandingkan kediaman Fla.


Arash pun masuk ke dalam, melewati pos security. Ia menuju blok rumah Bunga, dan kini mereka pun sudah sampai di depan rumah Bunga.


Arash memarkirkan mobilnya, begitu pun Ilham yang juga baru sampai di sana.


"Tujuan sampai," ucap Arash dengan sedikit berteriak, membuat mereka terpaksa harus bangun dari tidur nyenyaknya.


"Enghh ...."


Mereka membenarkan pandangan mereka yang kabur, karena masih terlalu lelah melakukan perjalanan kurang lebih 5 jam lamanya, karena jalanan yang terlalu macet.


"Udah sampe mana?" tanya Bunga yang terlihat masih setengah sadar.


"Rumahmu," jawab Arash, membuatnya mendelik, dan segera bangkit dari tempatnya.


"Bantu aku angkat barang," pinta Bunga, membuat Arash mengangguk kecil ke arahnya.


Arash dan Bunga pun keluar dari dalam mobil, untuk mengambil barang-barang Bunga yang ada di dalam bagasi mobil Arash. Di luar mobil sudah ada Ilham, yang menyandarkan tubuhnya di mobilnya, sembari membakar sebatang cerutu, kemudian menghisapnya.


"Brakk ...."


Arash mengambil barang-barang Bunga yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Arash memberikannya pada Bunga, yang terlihat masih lemas setelah terbangun dari tidurnya.


"Ini barang-barang kamu," lirih Arash, Bunga pun mengambil kopernya dari tangan Arash.

__ADS_1


Bunga memandangnya dengan lekat, "terima kasih ya, sudah ngajak jalan ke pantai," gumam Bunga, membuat Arash tersenyum tipis ke arahnya.


"Gak masalah," jawab Arash dengan simpel.


"Tolong jaga Ares di sana. Mungkin dua minggu sekali saya akan ke sana untuk berkunjung," ucap Bunga, membuat Arash mengangguk kecil.


Kiranya dirasa cukup, Arash pun pamit dari hadapan Bunga.


"Baiklah, saya pamit," ucap Arash pada Bunga, yang sebenarnya tidak rela Arash pergi darinya.


Ilham merasa napasnya kian sesak, aneh dan tidak bisa menghirup udara bebas. Tiba-tiba saja Ilham pun terbatuk, dan memegangi dadanya dengan sangat erat, membuat Arash dan Bunga mendelik kaget ke arahnya.


"Ham, kamu kenapa?" tanya Arash yang khawatir dengan keadaan Ilham saat ini.


Ilham segera membuang cerutu yang ia hisap sebelumnya, karena merasa sudah tidak kuat lagi untuk menghisapnya lebih dari itu. Pasalnya selama di pantai, Ilham sudah menghabiskan sebanyak tiga bungkus per harinya.


Ilham masih saja terbatuk, membuat Bunga berinisiatif mengambilkan air minum di dalam mobil Arash.


Ilham menghela napasnya panjang setelah menghabiskan langsung, satu botol air mineral berisi 600 ml air mineral. Batuknya berangsur hilang, dan dirinya kini sudah bisa bernapas dengan lega.


Ilham memandang ke arah Bunga, "terima kasih," ujar Ilham, membuat Bunga mengangguk kecil.


"Kamu kenapa, Ham?" tanya Arash, membuat Ilham bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun padanya.


"I am okay, no problem," jawab Ilham yang berusaha meyakinkan mereka dengan kondisinya saat ini.


"Kamu sakit? Mau ke rumah sakit? Dekat kok dari sini," ujar Bunga, membuat Ilham tersenyum.


"Gak perlu, sudah biasa kok seperti ini," tolak Ilham, membuat Arash dan Bunga saling memandang satu sama lain.


Arash kembali memandang ke arahnya, "kalau misalkan benar sakit, lebih baik ke rumah sakit aja. Yuk saya antar, biar Fla dan yang lainnya di sini," ujar Arash, membuat Ilham kembali tersenyum padanya.


"Tenang aja. Mending kita buru-buru pulang, karena hari juga udah mau gelap, khawatir kemalaman," usul Ilham, membuat Arash hanya bisa menghela napasnya saja.

__ADS_1


"Benar gak ada apa-apa?" tanya Arash kembali meyakinkan Ilham.


Ilham pun tersenyum, "iya benar, saya gak apa-apa, kok," jawab Ilham.


Arash mengangguk kecil, kemudian kembali memandang ke arah Bunga, "kalau gitu, saya pamit dulu," pamit Arash, membuat Bunga mengangguk kecil sembari melontarkan senyumannya.


"Bye," gumam Bunga.


Arash dan Ilham pun kembali ke mobilnya masing-masing, dan segera menuju ke kediaman mereka masing-masing.


...***...


Arash sudah sampai di depan rumah Fla. Ia melirik ke arah jam tangannya, "masih jam 8 malam. Syukurlah gak terlalu malam," lirih Arash, yang sudah khawatir sejak tadi, jika saja dia tidak bisa sampai tepat waktu di rumah Fla.


Arash menoleh ke arah Fla, "Fla, bangun ... kita sudah sampai di rumah kamu," lirih Arash, membuat Fla terbangun dari tidur nyenyaknya.


Arash pun tersenyum karena merasa heran dengan gadis yang satu ini, bangun siang, kok masih bisa tidur di mobil juga? Pikir Arash yang heran dengan Fla yang sangat kuat soal tidur.


Terbayang hal-hal aneh di benak Arash, jika mereka sudah berumahtangga nantinya, membuat Arash tertawa kecil karena hal yang tiba-tiba saja membayanginya.


Terbayang tentang Fla yang tidur terlalu awal sampai tak bisa melayaninya, dan Fla yang bangun terlalu siang dari dirinya, sehingga Arash mempersiapkan semua hal sendiri dari mulai sarapan, perlengkapan kerja, dan lain-lain.


"Udah ah, masih lama juga," gumam Arash, yang menafikan pandangan anehnya terhadap kebiasaan Fla yang berbeda jauh dengannya.


Fla memandang Arash dengan heran, "Kakak kenapa ketawa? Masih lama apanya, Kak?" tanya Fla yang heran dengan yang Arash ucapkan dengan tiba-tiba.


Arash membenarkan sikapnya, karena merasa kalau dirinya sendiri lah yang terlihat aneh di mata Fla. Arash bersikap seperti tidak ada apa-apa.


"Apanya? Kok nanya Kakak kenapa? Kamu ngigau, ya?" tanya Arash balik pada Fla, yang ingin memutar balikkan fakta.


Mendengar Arash yang mengatakan kalau dirinya mengigau, Fla mendelik bingung, dan malu dengan Arash yang mungkin saja sudah melihat sikap aneh dirinya saat ia mengigau tadi.


"Ih ... memang aku tadi beneran ngigau, Kak? Aku tadi ngigau apa?" tanya Fla, membuat Arash menahan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2