Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Ketika Rival Bertemu 2


__ADS_3

"Muach ...."


Morgan mengecup kening Ara, membuat Ilham yang melihatnya menjadi agak sedikit cemburu terhadap Morgan.


'Waktu di pemakaman orang tua Ara, dia berani gendong Ara. Sekarang, dia berani kecup kening Ara di hadapan saya. Apa dia tidak malu? Apalagi ada Ares di sini,' batin Ilham yang sedikit geram melihat Morgan yang sudah terlalu jauh bersikap.


Hal itu memang sangat ampuh membuat Ilham cemburu seperti sedang kebakaran jenggot, tapi hal itu berpengaruh sekali untuk mental Ares yang masih kecil.


Ara mendelik malu, "ada anak kecil, Gan ...," lirih Ara, yang berusaha melepaskan diri dari Morgan, hingga Morgan tidak bisa berkata apa pun lagi.


Ilham segera mengambil sikap tegas, "Ares, ikut kakak yuk, kak Arash nunggu Ares, lho ...," ucap Ilham, membuat Ares hanya bisa pasrah mengangguk.


Ilham memandang ke arah Ara, "saya ajak Ares ke tempat Arash, ya," ucap Ilham, membuat Ara mengangguk kecil ke arahnya.


Ilham menoleh ke arah Ares, "yuk, kita ke tempat kak Arash," ajak Ilham sembari menggandeng tangan Ares, membuat Ares terpaksa harus ikut dengan Ilham, meninggalkan Ara dan Morgan di sana.


Ketika Ilham dan Ares sudah pergi, Morgan kembali menoleh ke arah Ara, membuat Ara memperhatikan wajah Morgan yang kini sudah berubah menjadi kaku.


Ara menatapnya dengan tatapan bingung, "kenapa kamu? Kok tatapannya serius banget, sih?" tanya Ara, Morgan masih saja diam menatap Ara yang masih berada di pelukannya itu.


"Siapa cowok itu?" tanya Morgan secara to the point, membuat Ara mendelik, dan tak bisa menahan tawanya.


Morgan mendelik tak percaya dengan Ara yang tertawa, ketika Morgan sedang bertanya serius padanya.


"Hey, aku nanya serius! Kok kamu malah ketawa begitu, sih?" pekik Morgan, membuat Ara menghentikan tawanya, dan menatap Morgan dengan tatapan menggoda.


"Aduh, Gan. Kamu cemburu sama kak Ilham?" goda Ara, membuat Morgan menafikan wajahnya karena malu.


"Gak ada sejarahnya ya, saya cemburu sama orang rendahan," tepis Morgan, yang berusaha mengelak dari sesuatu yang Ara tuduhkan padanya.


Ara menatapnya dengan tatapan jahil, "oh ... pantesan kamu datang-datang langsung peluk cium gitu. Ternyata oh ternyata," goda Ara lagi, membuat Morgan semakin tersipu malu karenanya.


Morgan menoleh ke arahnya, "pokoknya, saya gak suka kalau dia terus-menerus bersama kamu, apalagi saat kemarin di taman, dan sore hari saat dia jemput kamu di kampus," ucap Morgan yang kelepasan, membuat Ara semakin tertawa geli mendengarnya.

__ADS_1


Morgan terkekeh dengan Ara yang terus-menerus menertawainya.


Morgan mengerenyitkan dahinya, "kalau kamu masih tetep tertawa seperti ini, saya tinggalin kamu, biar kamu jalan sendiri ke kampus," ancam Morgan, membuat Ara terpaksa harus menghentikan tawanya.


"Iya-iya, pak dosen ini ... gak bisa diajak bercanda sedikit," umpat Ara, membuat Morgan gemas, dan ingin sekali melahap bibir manis Ara.


"Pokoknya saya gak mau tahu ya, jangan dekat-dekat sama dia lagi," ancam Morgan, membuat Ara mengerenyitkan dahinya.


"Aku sama dia tuh gak ada apa-apa. Dia cuma karyawan kakak, gak lebih kok," ucap Ara yang berusaha menjelaskan ke Morgan, kalau tidak ada hubungan yang spesial di antara Ara dan juga Ilham.


Morgan menafikan wajahnya, "kamu bisa bilang seperti itu. Tapi, gimana dia? Kalau dia ada rasa sama kamu, gimana?" tanya Morgan, membuat Ara terdiam mendengar perkataannya.


Ara merenungkan perkataan Morgan, membuatnya berpikir tentang Ilham.


Kini, Ilham pun pergi bersama dengan Ares, menuju ke rumah sakit tempat Arash dirawat.


Ilham mengemudikan mobilnya dengan keadaan setengah kesal, karena ia melihat Morgan yang melakukan hal itu dengan Ara, di hadapannya.


'Rupanya Morgan tidak main-main. Sedikit-sedikit, dia berusaha untuk menjauhkan saya dengan Ara. Lagi-lagi saya kalah dengannya,' batin Ilham yang sedikit tidak bisa menerima perlakuan Morgan itu.


Ares menoleh ke arah Ilham, dan mendapati kondisi Ilham yang sepertinya sedang tidak baik kali ini. Sepanjang perjalanan mereka menuju tempat tujuan, Ares terus memandangi Ilham dengan tatapan kebingungan.


Ares mengerenyitkan dahinya, 'Kak Ilham kenapa, sih? Kok mukanya ditekuk gitu?' batin Ares yang sepertinya sudah mulai merasa tidak nyaman dengan Ilham.


"Kak Ilham," pekik Ares, yang memberanikan diri untuk menyapanya, Ilham pun menoleh ke arahnya.


"Ada apa, Ares?" tanya Ilham, yang sesekali kembali melihat ke arah jalan, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Kita sebenarnya mau ke mana, Kak?" tanya Ares membuat Ilham melontarkan senyuman ke arahnya.


'Sepertinya saya membuatnya takut,' batin Ilham yang menyadari keadaan Ares saat ini.


"Kita mau ke tempat kak Arash," jawab Ilham dengan nada yang sangat lembut.

__ADS_1


Ia tidak ingin membuat Ares merasa takut atau khawatir, karena ia menyadari sepanjang perjalanan, dirinya sama sekali tidak berbincang dengan Ares.


"Memangnya kak Arash bilang begitu, ya?" tanya Ares yang penasaran dengan keadaan Arash.


"Iya, katanya kakak disuruh jemput Ares, buat ketemu sama kak Arash di sana," jawab Ilham seadanya, agar Ares tidak bertanya lagi.


Mendengar penjelasan Ilham, Ares pun menunduk, "terus, yang tadi sama kak Ara, siapa?" tanya Ares lagi.


Kali ini Ilham benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan Ares. Ia hanya bisa melontarkan senyuman ke arah Ares.


...***...


Pagi itu, Fla sedang bersiap untuk berangkat ke kampus. Karena kondisinya yang masih belum memungkinkan, ia jadi agak terlambat bangun, sehingga ia tidak sempat membantu ibunya, untuk menyiapkan sarapan.


"Ckleekk ...."


Fla menoleh ke arah pintu kamarnya, yang tiba-tiba saja terbuka, seperti ada seseorang yang membukanya.


Dari arah pintu masuk, muncul lah Jessline yang sudah berseragam lengkap.


Fla mendelik, tak tahu harus berkata apa saat melihat Jess yang sudah mampir ke kamarnya.


Jessline menatap Fla dengan dingin, "ada yang mau gue omongin sama loe," gumam Jessline.


"Glekk ...."


Tak sadar, Fla menelan spontan salivanya, saking gugupnya mendengar ucapan Jessline yang tidak seperti biasanya itu.


Saat ini, mereka sudah duduk bersebelahan di atas ranjang Fla, membuat Fla agak canggung dibuatnya. Pasalnya, Fla sama sekali tidak pernah berbincang dengan tenang seperti ini bersama Jessline. Selalu ada keributan dan pertikaian antara keduanya, membuat mereka dijuluki sebagai air dan minyak, yang tak akan pernah bisa menyatu.


Fla menoleh ke arah Jessline, yang hanya diam sejak tadi. Fla tidak menyangka, perbincangan kali ini, akan terasa sangat tegang seperti ini.


Jessline pun menoleh ke arah Fla, dan mendapati Fla yang ternyata sudah menatapnya sejak tadi. Jessline mendelik kaget, membuat Fla segera menafikan wajahnya.

__ADS_1


"Ada hubungan apa loe sama Arash?" tanya Jessline.


"Degg ...."


__ADS_2