
Tetapi, ia semakin memeluk Morgan dengan erat, membuat Morgan terasa nyaman sekali berada di pelukannya.
“Cuppss ....”
Ia mengecup Morgan secara tiba-tiba, membuat Morgan hampir kehabisan napas karenanya.
Tidak kusangka, dia akan sangat agresif seperti ini, pikir Morgan.
Beberapa saat kemudian, Morgan merasa seperti ada yang aneh darinya. Morgan pun menghentikan ciuman ini.
“Jangan tinggalin aku,” lirihnya.
Suaranya terdengar seperti bukan suara Ara, membuat Morgan mendelik, dan berusaha melihat dirinya dengan jelas.
Morgan tak bisa berkata apa pun lagi, ketika yang ia lihat ini bukanlah Ara.
“Farha!” Morgan terkejut dan setengah berteriak ke arahnya.
Morgan pun segera menjauhi diri darinya. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman antara dirinya dan juga Ara.
Morgan mendelik ke arah Farha, bisa-bisanya dia mengambil kesempatan seperti ini, pikir Morgan yang tidak menyangka dengan yang akan Farha lakukan.
Farha pun beranjak dari posisinya, dan sekarang berdiri di hadapan Morgan. Morgan hanya memandangnya dengan sinis.
“Kenapa, Gan? Loe kaget kalau ternyata ini gue?” tanyanya dengan sedikit mengambil nada tinggi.
Aku tidak suka dengan sikapnya yang terus-menerus seperti menekanku untuk tetap menerimanya. Aku tidak mencintainya, bahkan mencintai kakaknya saat itu, mungkin adalah suatu kesalahan, pikir Morgan yang sudah geram dengan Farha.
Farha bergerak maju ke arah Morgan dengan perlahan. Morgan yang refleks, segera bergerak mundur mengikuti gerakannya itu.
Dia terlihat sangat berani. Aku harus melihat ke sekelilingku, kalau saja ada yang melihat adegan tadi dan membuat aku dalam masalah besar nantinya, pikir Morgan.
“Jangan muncul lagi di hadapan saya!” ucap Morgan dengan nada datar.
__ADS_1
Farha membuang pandangannya itu, membuat Morgan semakin risih dengan perlakuannya.
Kenapa bisa ia berteman dengan kekasihku, sih? Dan kenapa dia bisa pindah ke kampus ini? Hidupku sudah sangat menderita dengan semua wanita yang terus-menerus mendekatiku. Aku merasa menjadi buron sekarang. Padahal, aku tidak seperti Dicky yang benar jelas mempermainkan perasaan wanita. Tapi sepertinya, malah hidupku yang tidak tenang karena gangguan para wanita itu, pikir Morgan.
“Loe gak akan bisa ngusir gue dari kehidupan loe. Karena sampai kapan pun, gue akan terus ngejar loe sampai loe jadi milik gue!”
Kata-katanya sangat mengusik ketentraman jiwaku. Aku tidak bebas, dan seperti terbelenggu saat ini, pikir Morgan.
Morgan mendelik, “kamu gak berhak untuk mengancam saya!” bantah Morgan lagi.
Farha terlihat santai, sembari menatap Morgan dengan pandangan meremehkan.
Entah apa lagi yang akan dia katakan, pikir Morgan.
Farha menyunggingkan senyumnya, “jangan salahin gue kalau nanti akan terjadi sesuatu dengan Ara,” ucapnya membuat Morgan spontan sangat marah padanya.
Morgan memelototinya dengan tatapan kesal dan benci, aku tidak ingin dia sampai menyentuh Ara sedikit pun! Pikir Morgan.
“Apa kamu bilang?” Morgan mendekat selangkah ke arahnya, membuat ia mundur selangkah menghindari Morgan.
Aku tidak ingin merendah di hadapan orang yang sama sekali tidak mempedulikan keselamatan dirinya sendiri itu, pikir Morgan.
“Kalau loe gak mau gue sampai nyentuh Ara ...,” Farha mendekat ke arah Morgan dengan langkah yang sangat manja, membuat Morgan terdiam sembari melihat apa yang akan ia lakukan.
“Kalau gitu ...,” ia melingkarkan kedua lengannya ke leher Morgan.
Morgan hanya diam tak bergeming.
Farha mendekatkan wajahnya ke arah telinga Morgan, “temenin gue malam ini ...,” bisiknya di telinga kiri Morgan, membuat Morgan sedikit terangsang dengan rayuannya.
Tidak bisa aku pungkiri, dia tak kalah cantik dengan Ara. Kelebihannya mungkin, badannya yang sedikit agak berisi dan sexy, pikir Morgan yang mulai melantur, akibat masih terpengaruh dengan alkohol yang ia minum tadi.
Morgan buru-buru menyadarkan dirinya kembali, “bagaimana bisa saya percaya sama omongan kamu yang gak masuk akal ini? Mana ada orang yang membiarkan keperawanannya direbut orang lain, dan rela memberikannya secara sukarela dengan orang yang tidak mencintainya?” tanya Morgan sembari berusaha menenangkan gejolak yang muncul dalam dirinya.
__ADS_1
Farha menyunggingkan senyumnya, “paling tidak, gue udah pernah ngerasain hal itu sama loe,” lirihnya dengan jahil, yang terus memaksa Morgan untuk melakukan hal yang tidak ia sukai.
Tak pernah aku memikirkan hal yang tak pantas aku lakukan, bersama dengan orang yang seharusnya tidak bersamaku, pikir Morgan menolak semuanya.
Morgan mendelik, “kamu gila, Far?!” Morgan kaget, dan spontan mendorong Farha ke arah ranjang.
“Brukk ....”
“Aws ....”
Farha pun jatuh tepat di atas ranjang tidur Arash.
Morgan membenarkan kemejanya yang kusut, akibat ulah Farha tadi.
Morgan pun bergegas pergi meninggalkannya, dengan sisa kemampuan yang ia punya.
Farha mendapati Morgan yang berusaha pergi dari hadapannya, “gak akan gue biarin loe pergi gitu aja!” lirih Farha.
Tiba-tiba saja, Farha bangkit dan menyusul Morgan ke arah pintu keluar kamar Arash. Ia menghalangi Morgan untuk keluar dari ruangan ini.
Morgan sangat kaget, karena dirinya dan gadis itu hampir saja bersenggolan. Kini, Morgan dan Farha hanya berjarak kurang dari 5 cm.
Morgan menatapnya dengan susah payah, karena pandangannya yang belum juga pulih. Dalam pandangan Morgan, Farha terlihat seperti hampir menangis. Hal itu yang membuat Morgan semakin membencinya.
“Minggir,” lirih Morgan yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
Farha menggeleng cepat dan malah menitikkan air mata. Morgan tak kuasa melihat wanita menangis. Itulah kelemahannya. Apalagi, kalau sampai dirinya melihat Ara menangis.
“Kenapa kamu nangis?” tanya Morgan terheran-heran padanya.
Farha terlihat berusaha tegar dan menyeka kedua matanya.
“Sejak kepergian kak Putri, gue cuma sendirian. Mama papa cerai, dan gak tau ada di mana sekarang. Mereka sama sekali gak peduli sama gue. Mereka cuma anggap gue sampah, karena gue beda sama kak Putri. Gue gak sepinter dia, gue gak sepadan sama dia. Cuma mungkin gue lebih cantik daripada dia. Tapi kenapa kecantikan gue masih kalah di mata orang-orang yang gue suka? Setiap cowok yang deket sama gue, pasti selalu suka sama kak Putri, karena cowok yang deket sama gue itu seumuran sama kak Putri. Mereka seneng sama dia, karena dia wanita yang susah didapetin. Beda dengan gue. Mereka nganggep gue tuh cewek murahan, yang gampang banget dideketin. Tapi bukan itu maksudnya, hikss ....”
__ADS_1
Farha menjelaskan panjang lebar tentang perasaan yang ada di hatinya. Tapi, Morgan belum tersentuh dengan ucapan yang ia katakan tadi. Morgan hanya diam tanpa berkata sedikit pun.
“Dari situ, mulai timbul rasa kesel, benci, marah, sama kak Putri. Tapi semua itu hanya bisa gue pendam sendiri aja. Gue gak mau memperkeruh keadaan dengan sifat egois dan kekanakkan gue. Karena situasi lagi kacau, papa mama mulai sering ribut pada saat itu. Gue gak mau mereka malah makin parah karena harus ngurusin masalah gue juga,” ucap Farha yang berusaha menahan isak tangisnya.