Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Akhirnya Mereka Jadian!


__ADS_3

Mereka berdua saling memanggil satu sama lain. Terjadi kecanggungan di antara mereka saat ini. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan, hanya terdiam, dan tidak melihat satu sama lain.


Morgan yang masih menindih di atas Ara, pun tidak bisa berkata apa pun lagi. Mereka sudah sama-sama tidak bisa berkutik karena suasana yang sudah tidak terbendung.


Ara berdeham, “loe dulu aja,” ucap Ara mempersilakan Morgan untuk berbicara lebih dulu.


Morgan pun menoleh ke arah Ara,“kamu aja dulu, gak papa kok,” lemparnya kembali.


Ara menjadi bingung dengan yang baru saja ingin Ara utarakan pada Morgan. Ara sampai lupa dengan niatnya sendiri.


“Lho … kok jadi gue sih? Loe aja dulu! Gue lupa,” ucap Ara asal.


Morgan hanya tertawa kecil, melihat ekspresi Ara yang menurutnya sangat aneh. Ara yang merasa dipermainkan oleh Morgan, pun menatapnya dengan sinis.


Ara mendelik, “apaan sih loe! Kok malah ketawa gitu sih?” bentak Ara.


Morgan menyentuh hidung Ara dengan hidungnya yang mancung itu, membuat Ara menjadi tak keruan kembali.


Setiap satu sentuhan dari Morgan membuat Ara merasa sangat bahagia. Entah kenapa perasaan Ara pada Morgan menjadi semakin rumit saat ini.


Apa dia juga merasakan hal yang sama denganku? Pikir Ara.


“Yaudah. Saya dulu, ya,” ucap Morgan.


Suasana langsung berubah kembali menjadi tegang dan mencekam. Ara tidak tahu apa yang akan Morgan katakan.


Dalam hati kecilnya, Ara berharap sekali, Morgan dapat menyatakan perasaannya kembali, agar dirinya tidak malu dan tidak disangka seperti wanita yang murahan, karena menyatakan cinta lebih dulu kepada seorang laki-laki.


Morgan menatap Ara lekat, “gimana ... kamu ... mau ...,” nada ucapannya selalu terpotong dan membuat Ara terus-menerus penasaran.


Mudah-mudahan aku tidak mati dalam rasa penasaran karena harus terus-menerus menghadapi orang idiot ini, pikir Ara.


Ara menatapnya dengan tatapan yang sangat serius. Ara sudah tidak sabar mendengar pernyataan cintanya itu.


“Mau ... apa?” tanya Ara, yang sedikit memberikan kode pada Morgan, supaya ia berbicara agak cepat lagi.


Ara tidak tahan dengan rasa penasaran yang selalu mengganggunya ini.


“Mau ....”


“Mau ....” Morgan merogoh kantung celananya.

__ADS_1


“Permen?” lirih Morgan, sembari menyodorkan permen ke arah Ara, sama seperti saat itu.


Ara tidak menyangka, Morgan akan mengulangi jokes yang sudah ia berikan waktu itu padanya.


Apa dia tidak paham juga? Aku butuh ia menyatakan cintanya! Aku tidak butuh permennya itu! Idiot sekali dia, pikir Ara.


Ara menatap Morgan dengan sinis, sembari menahan rasa kesalnya yang hampir saja meledak itu.


Morgan terlihat tertawa kecil, membuat Ara menjadi mendelik kesal padanya.


“Gak lucu!!” bentak Ara dengan sinis, tetapi Morgan justru semakin mengencangkan tawanya itu.


Morgan kemudian memandang Ara dengan penuh kelembutan, sembari menyentuh lembut wajahnya.


“Saya memang mau menyatakan perasaan saya waktu itu, saat saya ngasih kamu permen ini. Dan saya juga tahu kok, apa yang mau kamu dengar waktu itu,” ucap Morgan membuat Ara agak sedikit malu, “saat itu, saya belum siap untuk menyatakannya sama kamu. Tapi, pada dasarnya saya mau kamu tahu perasaan saya secepatnya,” tambahnya.


Ara memandangnya dengan lekat.


Ternyata, ia sampai seperti itu ya? Belum siap menyatakan perasaan padaku? Padahal sudah masuk tahap seperti itu. Dan semua suasana mendukungnya untuk menyatakan perasaan padaku. Tapi memang dasarnya dia yang tidak bisa peka terhadap suasana. Makanya, ia jadi tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik dan benar, pikir Ara.


“Ra, would you be my girl?” tanya Morgan membuat hati Ara sedikit terguncang kembali.


Ara sudah tahu, Morgan akan berkata demikian. Tapi, kenapa setiap Morgan mengatakan itu, hati Ara selalu tidak bisa mencernanya?


Ara menarik napas panjang dan berusaha untuk menenangkan pikirannya. Mata Ara sampai terlihat berbinar. Ara ingin mencerna setiap perkataan, yang nantinya akan ia ucapkan pada Morgan.


Morgan menaikkan kedua alisnya, “masih gak mau jawab?” tanya Morgan, yang terdengar seperti berusaha mendesak Ara.


Ara tersenyum simpul padanya, “yes, i would,” ucap Ara dengan nada yang terbata-bata.


Terlihat wajah yang sumringah dari wajah Morgan, yang Ara lihat saat ini. Morgan mungkin saja bahagia, karena Ara telah menerimanya dengan sepenuh hati. Tidak seperti biasanya, yang tidak bisa menerima Morgan, walau sedikit pun.


Morgan tak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya memancarkan sorot kebahagiaan yang tidak bisa terbendung.


Morgan memeluk Ara dengan erat, saking bahagianya dirinya, membuat Ara tertawa kecil melihat perlakuannya dan tingkahnya yang sangat aneh itu.


“Yeaaayy … yuhuuu … huhh ….”


Morgan bersorak ria, seperti sedang melakukan selebrasi, sama seperti yang ia lakukan saat itu.


“Pelan-pelan dong …,” lirih Ara, yang agak terganggu dengan aksi selebrasinya itu.

__ADS_1


Morgan merenggangkan pelukannya, “akhirnya, kamu mau menerima saya,” ucap Morgan dengan nada yang sangat senang, kedengarannya.


Morgan pun memeluk kembali Ara dengan eratnya.


“Ets ... jangan seneng dulu loe!” Ucap ku yang berhasil membuatnya menghentikan aksi selebrasinya itu.


Ingin sekali aku menjahilinya. Maaf ya, hihi. Pikir Ara.


“Lho, kenapa saya gak boleh seneng?” tanyanya.


Ara mengerenyitkan dahinya.


“Kalo loe mau jadi pacar gue, gak semudah yang loe bayangin!” ucap Ara.


Morgan malah terdiam, saat Ara berkata seperti itu.


Haduh, niatku kan hanya mau bercanda, dan ingin menjahili kamu tahu, pikir Ara.


“Kok loe diem sih?” tanya Ara.


Morgan pun membaringkan tubuhnya di sebelah Ara.


Aku merasa jahat sekali karena sudah mempermainkan perasaannya seperti itu. Aku jadi sedikit sedih, pikir Ara.


“Apa syaratnya?” tanya Morgan, sembari menutup matanya dengan lengannya.


Ara menoleh ke arah Morgan, ‘eh, dia mau ngejalanin persyaratan dari gue?’ batin Ara yang bingung dengan tindakan Morgan yang tidak ia mengerti.


“Cepet, keburu saya tidur …,” lirih Morgan, membuat Ara tersadar dari lamunannya.


“Satu, loe gak boleh pake bahasa yang rumit, yang gak gue mengerti,” Ara menjelaskan.


Morgan hanya diam. Ara merasa, ia tidak bisa menjahilinya kali ini.


“Kok diem sih! Denger gak?” tanya Ara.


“Iya, dengar kok. Jadi, mulai sekarang, saya harus pakai bahasa yang biasa aja begitu?” tanyanya balik tanpa membuka lengannya, dan tanpa melihat ke arah Ara.


“Yap! Betul. Terus yang kedua, loe harus janji jangan pernah macem-macem sama gue. Kalau gue gak mau, loe gak boleh maksa gue buat berhubungan intim sama loe!” jawab Ara.


Morgan masih tidak bergerak dari posisinya.

__ADS_1


“Hmm ...,” Morgan hanya berdeham saja, membuat Ara sedikit kesal karena sikapnya yang masih sama seperti biasanya.


__ADS_2