Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Ritual Lian


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Rafa dan yang lainnya masih saja berada di rumah Ara, karena memang tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain bermain di rumah Ara.


Rumah Ara bagaikan base camp bagi mereka.


Fla melihat pesan singkat dari adiknya, Lian.


“Kak, ditanyain ayah. Suruh pulang.” Isi pesan dari Lian, membuat Fla mendelik tak percaya dengan yang ia baca ini.


Ara yang sedang bermain game online bersama Rafa dan Ray, mendadak menoleh ke arah Fla, karena merasa terusik dengan sikap Fla yang aneh.


“Kenapa, Fla?” tanya Ara, membuat Fla menggigit ujung kukunya.


“Gue disuruh pulang sama ayah,” ucap Fla, membuat Ara menghentikan aktivitasnya.


“Yah ... gak seru, dong?” lirih Ara, membuat Fla terdiam sendu.


“Ya elah, Farha udah pulang, masa loe juga pulang juga sih, Fla?” tanya Ray, membuat Fla semakin tidak enak dengan mereka.


“Iya, mungkin ayah khawatir sama gue,” lirih Fla, membuat Ara menghela napasnya panjang.


“Ya udah, nanti Rafa yang anter, ya? Jangan pulang sendirian,” ucap Ara, membuat Fla mengangguk.


“Oke, gue siap-siap dulu, ya,” ucap Fla yang mendapat anggukan dari Ara, kemudian ia segera siap-siap untuk pulang ke rumahnya.


...***...


Fla sudah sampai di depan rumahnya, dengan diantar oleh Rafa menggunakan motor sport-nya. Fla pun turun dari motornya, dan segera melepas helm yang ia pakai.


“Makasih ya, Raf, udah nganterin gue balik,” ucap Fla membuat Rafa tersenyum.


“Santai aja, Fla. Gue juga sekalian mau ketemu sama orang juga, kok,” ucap Rafa.


“Oh, kirain mau balik lagi ke rumah Ara,” ucap Fla.


“Enggak kali, nyokap udah bawel nyuruh balik,” ucap Rafa, membuat Fla mengangguk kecil.


“Gue balik ya,” ucap Rafa.


“Hati-hati.”


Rafa pun pergi dari hadapan Fla, membuat Fla tersenyum.


Fla segera masuk dan menuju ke arah kamarnya.


Fla terkejut, ketika melewati kamar Lian, adiknya, karena ia tak sengaja mendengar sesuatu yang sangat aneh bila didengarkan dengan saksama.

__ADS_1


Fla mendekat perlahan, menuju ke arah pintu kamar Lian.


“Ugh ... Emh ....”


Fla mendelik, karena mendengar suara yang aneh dari dalam kamar Lian.


‘Lian lagi ngapain di kamar?’ batin Fla yang penasaran dengan yang adiknya lakukan.


Fla mempersiapkan dirinya dengan menghela napasnya panjang, dan segera memegang gagang pintu kamar Lian. Ia berhenti sejenak, dan akhirnya membuka pintu kamar Lian dengan segera.


“Brakk!!”


Pintu terbuka, membuat Lian menoleh ke arahnya dengan sangat kaget.


Fla menganga kaget melihat Lian yang sedang menonton video yang tidak untuk ditonton anak yang masih duduk di bangku setingkat Menengah Pertama, dengan tangan kirinya yang sedang memegang sesuatu yang ada di balik celananya, dan juga bekas tissue yang sudah berceceran di lantai.


Fla mendelik tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Dengan perasaan kaget setengah mati, Fla segera menutup kembali pintu kamar Lian, tanpa bersuara sedikit pun.


Ia tidak ingin ayah dan ibu sambungnya mengetahui hal yang Lian lakukan ini.


“Lain kali ketuk pintu, dong!” pekik Lian dari dalam kamar, membuat wajah Fla menjadi panas seketika.


‘Gila si Lian itu! Bisa-bisanya dia bersikap tenang, saat ketahuan berbuat seperti itu!’ batin Fla yang masih tidak percaya dengan yang ia lihat.


“Lain kali kunci pintu, dong!” pekik Fla tidak mau kalah, dan tidak mau terlihat salah di mata Lian.


Lian membuka pintu dengan cukup kasar, membuat Fla terkejut karenanya.


“Haaaa ....”


“Haaaa ....”


Melihat Fla terkejut, membuat Lian sangat terkejut dibuatnya.


“Heh, ngagetin aja!” bentak Fla, membuat Lian menyorotkan tatapan sinis.


“Kakak yang bikin kaget! Ngapain masih di sini? Teriak-teriak pula!” sahut Lian, membuat Fla geram dengannya.


“Jangan mancing-mancing deh,” ucap Fla, membuat Lian bertolak pinggang.


“Siapa yang mancing-mancing? Kakak tuh yang gak jelas, tiba-tiba masuk ke kamar orang, gak pake ketuk pintu, habis itu masih nungguin aja di depan kamar,” ucap Lian, membuat Fla mendelik.


“Enak aja! Siapa suruh gak pakai headphone, pakai volume keras, ritual sore-sore gini lagi! Pintu gak dikunci, bikin orang salah paham aja!” bantah Fla, membuat Lian mendelik ke arahnya.


Melihat adik-adiknya yang sedang meributkan sesuatu, Morgan yang melintas dari arah pintu masuk, segera menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Ada apa sih ribut-ribut?” tanya Morgan, membuat Lian dan Fla menoleh ke arahnya.


Lian mendelik ke arah Fla, memberinya kode agar ia tidak memberitahu pada Morgan soal ritualnya tadi.


“Jangan ...,” lirih Lian sembari mendelik ke arah Fla, membuat Fla menyombongkan diri di hadapan Lian.


“Apa kamu ...,” tantang Fla, membuat Lian semakin mendelik ke arahnya.


“Kakak mah!” bentak Lian, yang sudah terpojok dengan keadaan, membuat Fla menjulurkan lidahnya ke arah Lian.


Mereka terdiam sesaat. Kemudian tak lama, datanglah Jessline dari arah kamarnya. Wajahnya terlihat sangat sembab, mungkin karena mabuk semalam, membuatnya terlihat seperti zombie.


Morgan mengerenyitkan dahinya, “kenapa wajah kamu?” tanya Morgan yang sudah memperhatikan Jess.


Jess terkejut, karena ini adalah kali pertama Morgan berbicara dengannya, setelah kasus Aca berhasil disingkap.


“Mmm ... kurang tidur semalam,” jawab Jess.


Fla dan Lian juga memperhatikan wajah Jess yang terlihat kusut itu.


‘Apa dia punya masalah serius?’ batin Fla yang bingung dengan keadaan Jessline.


“Kamu yakin, gak ada apa pun yang terjadi sama kamu? Wajah kamu pucat banget, lho. Kesehatan bagus, kan?” tanya Morgan.


“Beneran, Kak,” jawab Jessline dengan nada yang terdengar sangat lemas.


Morgan hanya mengangguk kecil mendengar ucapan Jessline padanya.


“Kak Morgan dari mana?” tanya Fla, yang penasaran.


“Dari kampus,” jawab Morgan dengan datar, membuat Fla mengangguk kecil ke arahnya.


Terlintas sesuatu di benak Lian, “kak Morgan, mau gak nemenin aku jalan-jalan ke mall?” tanya Lian, membuat Morgan terkejut ketika mendengar permintaan adik bungsunya itu.


‘Huft ... sepertinya saya kurang memberikan si bungsu waktu,’ batin Morgan.


“Hmm ... baiklah, kita ke mall nanti,” ucap Morgan, membuat Lian senang mendengarnya, tapi justru membuat Fla mengerucutkan bibir.


“Aku juga mau ikut!” ucap Fla yang tak terima dengan Lian yang sedang meledekinya itu.


Morgan memandang ke arah Fla, “ya, ikut,” ucap Morgan yang tidak bisa mengelak lagi dengan keinginan Fla.


Memandang mereka yang sepertinya sangat dekat, membuat Jess menunduk sendu. Hal itu juga yang membuat Morgan menoleh ke arah Jess yang terlihat seperti sedang sedih.


“Jess ...,” pekik Morgan, membuat Jessline menoleh ke arahnya, “apa kamu mau ikut juga?” tanya Morgan, yang tak sadar membuat satu senyuman di pipi Jessline mengembang sempurna.

__ADS_1


...***...


__ADS_2