
Ilham menatap Ara dengan pandangan menggoda, "Mmm ... tapi sebelumnya, kita ubah dulu panggilan kamu untuk saya," ucap Ilham, membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.
'Iya yah, masa aku manggil dia terus-menerus dengan kata kakak, sih? Kan gak lucu?' batin Ara yang setuju dengan usul Ilham.
Ara menatap Ilham dengan dalam, "Memangnya mau dipanggil apa? Suamiku, Sayangku, Babe, Cintaku, Manisku, Yayang, Bebeb, atau ... Sayang?" tanya Ara dengan sedikit menggoda Ilham, membuat Ilham menjadi tertegun mendengarnya.
Ilham menafikan pandangannya, "Ya-yang terakhir juga boleh," jawab Ilham dengan wajah yang sudah memerah karena ucapan Ara.
Ara memandangnya dengan sendu, karena melihat reaksi Ilham yang baru ia sadari, ternyata sangat manis dipandang.
'Darimana aja aku? Kenapa baru sadar, kalau dia manis?' batin Ara, membuat dirinya tersenyum memandang Ilham yang terlihat malu-malu.
"Sayang ...," pekik Ara dengan manja, membuat Ilham tertegun, dan seketika menoleh ke arah Ara.
'Ini kali pertama kamu panggil saya dengan sebutan itu,' batin Ilham yang sangat senang dibuatnya.
Ara pun tersenyum, dan menyandarkan dirinya di dada bidang Ilham.
"Sekarang, boleh aku tau semua hal yang terjadi di masa lalu kamu?" tanya Ara, yang ingin sekali mengenal Ilham lebih jauh lagi.
Ilham menelan salivanya, membuat dirinya sadar dengan keadaan yang sangat romantis baginya.
"Baiklah. A-aku cerita mulai dari awal," jawab Ilham, yang sudah mulai memakai bahasa yang membuat jarak mereka lebih dekat dari sebelumnya.
Ilham menyodorkan handphone-nya ke arah Ara, membuat Ara mendelik heran dengan yang ia lakukan.
Ara tercengang melihat foto seorang yang sepertinya sangat tidak asing baginya.
"Eh, itu ...," gumam Ara yang terkejut melihat foto yang Ilham tunjukkan.
Ilham teriring senyum yang sumringah, memeluk mesra Ara dari belakang. Ia sangat senang karena akhirnya cintanya kini sudah terbalas.
__ADS_1
"Iya, ini foto istriku waktu usianya masih 8 tahun," gumam Ilham, membuat wajah Ara seketika memerah karena malu.
"Fo-foto aku?" tanya Ara, membuat Ilham mengangguk.
Ilham membenamkan wajahnya di punggung Ara, saking tidak keruan dirinya saat ini.
Ilham sedang meredam gejolak kebahagiaannya dengan sangat kuat.
"Aku belum mandi," gumam Ara yang malu dengan Ilham yang membenamkan wajahnya di punggung Ara.
Ilham malah mempererat pelukannya, "Bagi aku, kamu selalu harum," bantah Ilham.
Cinta selain membutakan, bisa menyumbat hidung Ilham juga.
Ajaib.
Ara tersadar dengan foto yang Ilham tunjukkan, "Oh ya, kenapa foto aku bisa ada di kamu?" tanya Ara, yang terkejut melihatnya.
Ilham menghela napasnya panjang, namun tetap dalam posisi seperti itu.
"Dulu, aku dan Arash teman sepermainan. Karena ayah dekat dengan ibu kamu dulu, akhirnya ayah ngajak aku ke rumah kamu, untuk nemenin Arash main," ucap Ilham, membuat Ara terdiam mendengarkan penjelasan Ilham.
"Itulah awal dari pertemanan aku dan Arash. Awalnya aku sama sekali gak mau berhubungan sama orang lain, saking terlalu takutnya aku terhadap orang lain. Ya tapi, Arash mengubah segalanya. Cuma dia yang bisa bikin aku bicara lepas. Arash selalu melakukan hal bodoh, demi bisa terlihat keren di mata orang yang dia suka," gumam Ilham, membuat Ara mendadak heran.
"Orang yang kakak suka? Siapa?" tanya Ara kebingungan.
"Bunga," jawab Ilham singkat, membuat pupil mata Ara membulat.
"Bu-bunga, ibu dari Ares?" tanya Ara, yang tak menyangka tentang hal itu.
"Iya. Dulu, karena Arash terlalu berambisi untuk menjadi seorang polisi, dia sampai selalu bersikap seperti super hero, yang selalu menyelamatkan Bunga dari bullying yang terjadi sama dia," ucap Ilham, membuat Ara menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sampai kamu lahir ke dunia, dan aku dengan sangat senang berlarian dari luar pagar rumah sakit, sampai masuk ke ruangan ibu kamu melahirkan. Aku dan Arash memaksa masuk, karena anak kecil saat itu dilarang masuk ke dalam ruangan. Ya tapi aku sama Arash nekat, supaya bisa melihat kamu lahir ke dunia," gumam Ilham, membuat mata Ara seketika berbinar mendengarnya.
Ara melepaskan diri dari Ilham, dan berusaha melihat ekspresi Ilham di sana. Wajahnya Ilham terasa sangat panas, membuat Ara penasaran dengan reaksi Ilham.
"Sejak saat itu, aku suka banget sama kamu. Bagi aku, kamu malaikat kecil yang Tuhan berikan untuk ibu kamu," gumam Ilham dengan sendu, membuat Ara mendelik tak percaya dengan apa yang Ilham katakan.
"Lalu, apa yang terjadi setelahnya?" tanya Ara dengan sangat penasaran tentang dirinya.
"Kita habiskan untuk jaga kamu. Bunga pun sesekali datang untuk bermain bersama Arash. Saat mereka bermain, aku yang membantu ibu kamu untuk menjaga kamu. Sesekali ayah datang untuk jemput aku pulang, dan tak jarang aku melihat ibu kamu dibentak sama ayah kamu," gumam Ilham yang dalam ingatan masa kecilnya seperti itu.
Ara tak bergeming, saat Ilham menceritakan semua masa lalu yang sama sekali tidak Ara ketahui.
"Awalnya semua baik-baik aja. Ya, setidaknya sampai Arash berhenti homeschooling, dan lanjut ke tingkat SMA. Sementara aku, harus tetap homeschooling di rumah. Suatu ketika, Arash mengajak temannya datang ke rumah kamu," ucap Ilham, membuat Ara menganga kaget.
"Hah, teman?"
"Ya, teman. Dia adalah ... Morgan."
Betapa terkejutnya Ara saat ini, karena mendengar penjelasan Ilham, yang ternyata ia juga sudah mengenal Morgan sejak mereka masih duduk di bangku SMA.
"Hah, Mo-Morgan?" tanya Ara yang kaget mendengarnya.
"Ya. Selama Morgan ada di rumah kamu, aku selalu diam di kamar, dan tidak pernah keluar sekalipun. Arash juga paham, karena sifat aku yang introvert, jadi dia sama sekali gak pernah ngasih tau apa pun ke Morgan, mengenai aku. Mmm ... tapi Arash selalu menceritakan rasa bahagianya karena sudah menemukan teman seperti Morgan di sekolahnya," jawab Ilham, membuat Ara terdiam sejenak.
"Apa artinya, Morgan juga kenal sama aku sejak kecil?" tanya Ara, membuat Ilham mengangguk.
"Foto ini, aku ambil saat kamu berusia 8 tahun. Saat itu, kamu benar-benar bahagia, karena ayah dan ibu kamu gak pernah sekalipun berbuat kasar sama kamu. Kamu juga sering minta untuk aku fotoin kamu. Aku gak sangka, kamu juga bahkan meminta itu dengan Morgan," ujar Ilham.
"Ja-jadi, dengan kata lain, benar aku kenal sama Morgan?" tanya Ara, yang masih ragu dengan jawabannya.
"Iya. Saat kamu bermain bersama Morgan, dan Arash bermain bersama Bunga, aku hanya menunggu di dalam kamar, hanya meringkuk takut dan tak tahu harus berbuat apa," jawab Ilham dengan sangat sendu.
__ADS_1