
Duarrrrrrrrrrr
Hati Ara seketika sangat kacau, seperti balon hijau yang meletus. Ara mendelik, tak menyangka dengan laki-laki yang ia lihat ada di hadapannya saat ini.
"Tess ... tess ...."
Air mata seketika berjatuhan di pipi Ara, membuatnya sedikit kesal dengan hatinya sendiri.
'Kenapa harus dia,' batin Ara yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
Ilham mendelik tak percaya dengan Ara yang seketika menangis seperti itu. Ilham merengkuh Ara, membuat semua orang yang ada di ruangan itu seketika mendelik tak percaya ke arah Ilham.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Ilham yang sangat khawatir dengan perubahan sikap Ara yang sangat tiba-tiba itu.
Ara memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sakit tak keruan.
Laki-laki itu tiba-tiba saja berdiri di hadapan Ara, membuat Bisma dan yang lainnya heran menatapnya.
"Apa kabar, Arasha?" tanya laki-laki itu, membuat pupil mata Ara melebar.
Ara sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Reza, di tempat seperti ini.
'Jadi, yang dimaksud temannya Bisma itu, Reza? Jadi, caption dia yang di media sosialnya itu, bener? Jadi, yang ngobrol sama Bisma waktu Bisma di bandara dan teleponan sama gue itu, beneran Reza?' batin Ara mendelik tak percaya dengan keadaan.
Dunia hanya selebar daun kelor. Kini, setelah sekian lama, Ara pun kembali bertemu dengan Reza, yang merupakan mantan kekasihnya itu. Sekian lama ia memendam perasaannya pada Reza, akhirnya semua itu menjadi sia-sia belaka, karena Reza yang saat ini sudah muncul di hadapannya, menambah luka baru di relung hati Ara.
Ara sampai hampir kehilangan keseimbangannya. Beruntung Ilham masih merengkuhnya dengan erat, sehingga Ara tidak jatuh ke lantai.
"Buburnya baru aja matang," ucap seseorang dari balik pintu, yang langkahnya tiba-tiba saja terhenti, karena melihat Ara yang sedang menangis, dan direngkuh mesra oleh Ilham.
Ya! Orang itu adalah Morgan. Ia sama sekali tak menyangka, kalau situasi di ruangan Dicky saat ini, membuatnya sangat kesulitan.
Morgan melihat Ara, Ilham, Bisma dan laki-laki yang sama sekali tidak ia kenal itu.
Situasi sangat canggung, saat Ara juga melihat Morgan yang baru saja datang ke ruangan ini.
__ADS_1
Seketika tangis Ara pun pecah. Ia tak bisa menahan gejolak perasaannya lagi kali ini.
Apa-apaan ini? Seperti reuni mantan.
Pikiran Ara sudah kalut, dan amarah di hatinya sudah mendominasi keadaan. Ia bahkan sudah kehilangan setengah tenaganya.
"Ada apa ini, Tuhan?" gumam Ara dengan lirih, yang sudah tak sanggup dengan keadaannya saat ini.
Melihat Ara yang direngkuh mesra oleh Ilham, membuat hati Morgan sedikit teriris karenanya. Masih sangat sulit untuk Morgan bisa melupakan kenangan indah bersama Ara, tetapi saat ini, Mereka sudah dengan mesranya mengumbar kemesraan mereka, yang sama sekali tidak ingin Morgan lihat.
Morgan memandang Bisma dengan sengit, membuat Bisma setengah menunduk melihat Morgan yang tiba-tiba saja datang dari balik pintu.
"Kenapa ada orang-orang gak berguna ini di ruangan kamu?" tanya Morgan pada Dicky, membuat semua mata mendelik mendengar perkataan Morgan yang tidak dijaga.
"Ada apa, Gan? Mereka datang untuk menjenguk saya," ucap Dicky membuat Morgan menahan kemarahannya.
"Bisa kamu jelaskan, siapa mereka?" tanya Morgan dengan nada yang menahan kesalnya pada Dicky.
"Ini Reza, junior saya di SMP. Ternyata, Bisma adalah temannya," ucap Dicky menjelaskan.
"Ara!" pekik Ilham, yang segera menghampiri Ara ke luar ruangan.
"Ara kenapa?" tanya Dicky yang heran dengan sikap mantan kekasih sahabatnya itu.
Dicky memandang ke arah Reza, "Kamu kenal sama Ara?" tanya Dicky, membuat Reza memandang ke arahnya.
"Ara itu, masa lalu saya, Kak," jawab Reza membuat hati Morgan seketika seperti tersambar dengan petir.
Morgan mendelik, perasaannya saat ini sudah tak keruan rasanya. Begitu pun Bisma, yang juga kaget mendengar pengakuan temannya itu.
"Jadi, Ara mantan loe, Za?" tanya Bisma, membuat Reza mengangguk kecil.
"Hah, kok bisa?" tanya Dicky yang heran dengan pengakuan Reza.
"Kita pernah satu sekolah waktu SMA," ucap Reza menjelaskan, membuat Bisma mendelik tak percaya.
__ADS_1
"Ara juga mantan gue," ucap Bisma membuat Reza semakin tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Hah? Ara, mantan loe, Bis?" tanya Reza yang juga tak percaya dengan apa yang Bisma katakan.
Mendengar ucapan mereka, membuat Morgan semakin tak bisa menerimanya. Morgan mendelik, dan segera menarik kerah kemeja Reza dengan kasar.
"Jadi kamu mantan Ara?!" pekik Morgan dengan kasar, membuat Dicky dan Bisma mendelik kebingungan dengan sikap Morgan.
"Ada apa?" tanya Reza dengan santainya, menanggapi Morgan yang saat ini sudah seperti kerasukan.
Morgan menatap laki-laki ini dengan penuh kebencian, "Gara-gara kamu, Ara selalu mikirin kamu! Sikap dia berubah, gara-gara masih ingat dengan kamu!" teriak Morgan, membuat Reza mendelik tak percaya.
"Memangnya, apa urusannya sama kamu?" tanya Reza yang masih tak mengerti dengan yang Morgan katakan.
Morgan menghela napasnya panjang, "Saya pacarnya Ara," jawab Morgan yang masih bisa menahan perasannya untuk tidak meluapkan emosi di tempat umum seperti ini.
Mendengar perkataan Morgan, membuat Reza mendelik kaget.
'Aku gak nyangka, kenapa kejadiannya bisa sampai kebetulan seperti ini?' batin Reza yang masih tak percaya dengan yang Morgan katakan.
Dicky tak menyangka, Morgan akan berbuat keributan seperti ini di ruang kamarnya, "Gan, sadar! Ini di rumah sakit. Lagian, relakan saja Ara. Kamu kan sudah memutuskan hubungan dengan Ara!" tegur Dicky, membuat Morgan mendelik tak percaya dengan teguran Dicky.
Morgan melepaskan tangannya dari kerah kemeja Reza, dan meremas keras rambutnya, hingga beberapa helai rambutnya menjadi rontok seketika.
"Arghh!!" teriak Morgan, yang sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya.
Hal itu membuat Dicky sangat sedih melihatnya.
Di sana, Ara berlarian meninggalkan ruangan Dicky, dan segera keluar dari gedung rumah sakit. Hatinya saat ini sangat hancur, karena ia melihat seseorang yang tidak seharusnya ia lihat lagi, di kehidupan berikutnya dalam hidup Ara.
Tangis Ara pecah, Ara pun histeris karenanya, sampai semua orang yang melaluinya pun memperhatikan Ara dengan pandangan heran, tapi Ara sama sekali tidak memedulikannya.
"Kenapa ini harus terjadi sama aku?!" pekik Ara dengan sangat keras, membuat semua orang kembali memperhatikan Ara.
Ilham berlarian menuju ke arah Ara. Ilham segera memeluk Ara ke dalam pelukannya, membuat Ara tak bisa berbuat apa pun lagi. Ia hanya bisa menangis histeris, karena tidak bisa menerima kenyataan yang begitu pahit ini.
__ADS_1
Ara sudah kalah dengan keadaan.