Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Prepare Holiday 2


__ADS_3

“Kalau gitu, aku pamit dulu ya, Kak,” ucap Ara, membuat Ilham sekali lagi berusaha tersenyum ke arahnya.


Ara pun meninggalkan Ilham di sana, membuat suasana Ilham yang mellow, semakin terasa sekarang.


Ilham kehilangan senyumannya. Entah apa yang terjadi dengan dirinya kini.


‘Mendadak gak mood,’ batin Ilham yang memandang ke arah Ara, yang perlahan hilang di sana.


Ilham pun melihat ke arah bingkisan yang Ara berikan tadi. Karena rasa penasarannya yang tak terbendung, Ilham segera membuka bingkisan itu.


Ia menghayati setiap helai kertas yang ia sobek, setiap sedikit dari hatinya ikut tersobek bersama kertas tersebut.


Kini, pemandangan yang Ilham lihat adalah sebuah jas hitam yang menurutnya sangat bagus. Ia melebarkannya dan mencocokkannya di tubuhnya, membuat satu senyuman mengembang di pipinya.


“Tukk ….”


Ilham tersadar, karena sepertinya ada yang jatuh saat ia merenggangkan jasnya tadi.


Ia melihat benda yang terjatuh itu, dan segera mengambilnya. Pandangannya terpaku pada secarik kertas yang ia pegang saat ini. Ilham menghela napasnya panjang, memberanikan diri untuk melihat isi dari surat itu.


Ia pun akhirnya membukanya, kemudian membaca isi surat itu.


“Blusshhh ….”


Wajah Ilham mendadak berubah memerah, membuatnya tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri. Ia seketika membenamkan wajahnya di balik jas yang Ara berikan. Hatinya kini tidak tenang, setelah membaca isi surat tersebut.


Ara pun kembali ke rumahnya dengan cepat, sembari sesekali melirik ke arah jam tangannya.


Jam hampir menunjukkan pukul delapan, membuat Ara bergegas untuk segera mempercepat langkahnya.


Kini, Ara sudah sampai di rumahnya. Ia pun segera duduk di sofa, karena ternyata Morgan belum juga sampai di rumahnya, meskipun jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit.


Ara terdiam sesaat, sembari men-scroll handphone-nya.


Ia tak sengaja melihat berita tentang situasi terkini cuaca pada malam ini, membuat Ara seketika mendelik ketakutan.


Hujan serta angin kencang, akan melanda kota ini. Kami harus segera sampai di tempat tujuan sebelum sesuatu terjadi pada kami nantinya, pikir Ara.


"Ra ... Morgan dateng," pekik Arash dari arah balkon rumahnya.

__ADS_1


Ara dengan senangnya, segera pergi menuju ke arah balkon depan rumahnya.


Pandangan pertama yang Ara lihat adalah, Morgan yang seperti biasa memang selalu rapi dalam penampilan, sampai dapat dipastikan jika keadaannya sedang baik, ia akan berpenampilan rapi. Begitu pun sebaliknya, jika kondisinya tidak baik, penampilannya akan terlihat sangat buruk.


"Selamat malam, Arasha," ucap Morgan dengan lembut.


Jarang sekali Morgan memanggil Ara dengan nama selengkap itu.


Ara terkesima dengan penampilan Morgan yang selalu rapi. Hal itu juga membuat Ara sedikit malu dengan penampilannya yang terkesan seadanya dan sederhana.


'Padahal, dia udah repot-repot pakai jas. Kenapa gue malah pakai pakaian yang compang-camping begini?' batin Ara yang merasa tidak enak dengan Morgan.


"Kamu udah siapin passport kamu?" tanya Morgan, sontak membuat Ara terkejut mendengarnya.


Ara menganga kaget, "hah? Kenapa harus pakai passport? Memangnya kita mau ke mana?" tanya Ara dengan nada yang sedikit tinggi.


Morgan bahkan hanya memberitahu sedikit, tempatnya bersuhu agak dingin. Ara berpikir kalau ia akan dibawa ke daerah puncak atau pegunungan, dan menginap di vila. Tapi Ara bingung, karena harus menggunakan passport.


"Kita mau ke Jepang," lirih Morgan.


Ara menganga kaget, dan sangat terkejut dengan perkataan Morgan yang tidak masuk akal.


"WHAT?! Seriously?" tanya Ara dengan nada yang kaget tingkat akut.


Morgan hanya mengangguk kecil ke arah Ara.


“Cie … yang mau diajak ke Jepang,” ledek Arash, yang tiba-tiba saja memeluk Ara dengan erat.


"Hati-hati ya di sana. Jangan bandel," ucap Arash yang tampaknya memberikan kemudahan izin bagi Morgan.


Ara tidak tahu harus bersikap seperti apa, karena ini adalah kali pertama dirinya diajak pergi sangat jauh oleh kekasihnya.


Arash pun melepaskan pelukannya itu, dan menatap Ara dengan tatapan sendu.


"Ya ampun adiknya kakak ternyata udah gede," ucap Arash, yang membuat Ara sedikit risih.


"Plis deh, Kak," ucap Ara dengan nada malas, membuat Morgan dan Arash menjadi sedikit tersenyum.


Suasana berubah menjadi canggung. Arash menatap Ara dengan tatapan yang Ara tidak bisa telaah.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan," lirih Arash sekali lagi, membuat Ara mengangguk kecil ke arahnya.


Arash menoleh ke arah Morgan, "jagain Ara ya, Gan," ucap Arash yang menitipkan adiknya pada Morgan.


"Pasti," jawab Morgan yang terdengar sangat mantap.


Mereka pun pamit kepada Arash, dengan suasana yang cukup sendu.


Ara yang kini sudah duduk di dalam mobil, melambaikan tangannya ke arah Arash, dan segera menuju ke Bandara. Ara duduk di samping Morgan, yang sedang fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan standar.


Ara memandang ke arah Morgan, aku tidak menyangka akan diajak berlibur ke Jepang dengan Morgan. Sama sekali tidak terpikir, pikir Ara.


Ara duduk manis di sebelah Morgan, sembari memandang sekelilingnya, terutama langit yang sudah nampak memerah karena mendung.


Tiba-tiba saja, Ara jadi teringat dengan ramalan cuaca yang ia baca tadi.


Apakah ini pertanda buruk? Aku harus segera menghentikan Morgan, atau tetap pada tujuan kami melanjutkan perjalanan? Pikir Ara.


"Mmm ... Gan ...," lirih Ara.


Morgan yang sedang fokus menyetir, tiba-tiba saja menoleh ke arah Ara. Ia menahan laju mobil dengan membuat mobilnya otomatis berjalan sendiri, sehingga ia bisa leluasa untuk bercengkrama dengan Ara.


"Ada apa, sayang?" tanya Morgan dengan lembut, membuat Ara hampir saja meleleh.


Tapi, Ara harus bisa menahan dirinya untuk tidak hilang fokus lebih dahulu.


"Sebaiknya, kita tunda dulu ya keberangkatan kita ke Jepang," ucap Ara dengan nada yang kurang percaya diri, membuat Morgan menatap Ara dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Lho, kenapa, Ra?" tanya Morgan kembali.


Ara mengaduh dalam hati, harus dengan cara seperti apa aku memberi penjelasan padanya? Pikir Ara.


"Emm … aku lihat di ramalan cuaca barusan, katanya akan ada badai beserta angin kencang. Pasti lalu lintas penerbangan akan terganggu, kalau kita maksain terbang malam ini. Dan lagi, kamu bisa lihat langit sudah berwarna merah," ucap Ara yang berusaha menjelaskan.


Morgan menatap langit malam ini, dan ia hanya diam, tidak bergeming. Ia hanya memandang dengan seksama langit yang tadi Ara tunjuk.


'Apa aku salah ngomong kali yah?' batin Ara merasa terganggu dengan keadaan.


Sebetulnya, aku tidak ingin mengacaukan acara kali ini. Tapi, aku pun tidak ingin membuang-buang nyawa secara cuma-cuma, hanya karena agenda ini. Aku ingin meminimalisir segala tragedi yang mungkin saja nanti akan menimpa kita, pikir Ara.

__ADS_1


Morgan menoleh ke arah Ara, "kita putar balik?" tanya Morgan dengan polos.


__ADS_2