
“Yaudah, nanti sepulang kampus, tunggu aku di parkiran, ya?” pinta Morgan, membuat Ara mengangguk setuju.
“Aku ke kelas, ya?” ucap Ara, dengan Morgan yang sebetulnya tidak ingin mengizinkannya pergi.
“Cuti aja yuk, sehari,” lirih Morgan, membuat Ara mendelik ke arahnya.
“Gak!” tolak Ara dengan nada ketus, membuat Morgan tertawa kecil karenanya.
Ara mempersiapkan diri untuk ke luar dari mobil Morgan.
Jangan sampai semua orang menjadikanku pusat perhatian, karena aku turun dari mobil sang idola mereka, pikir Ara yang sedang was-was.
Ara melangkah jenjang ke luar mobil, dengan memakai hoodie yang baru saja ia pakai, agar tidak ada seorang pun yang dapat mengenalinya.
‘Semoga saja gak ada yang ngeliat gue. Gue gak mau sampe kena bully-an mereka semua yang suka sama Morgan,’ batin Ara, sembari tetap memperhatikan sekelilingnya, jika saja ada yang aneh dengan area di sekitarnya.
Aku menuju koridor gedung A dengan susah payah, khawatir ada yang melihatnya. Ara berjalan, sampai tidak melihat keadaan di sekelilingnya.
“Brukkkk ....”
“Awsss ....”
Ara tak sengaja menabrak seseorang, yang tiba-tiba saja muncul dari arah yang berlawanan darinya. Ara sampai terhempas jauh ke belakang.
“Greeeppp ....”
Seseorang yang berada di belakang Ara, spontan menahan tubuh Ara, membuat Ara tak jadi jatuh tersungkur ke atas aspal.
Ara bingung, siapa yang dengan sigap untuk menyelamatkan dirinya itu?
Seseorang yang melewati jalanan yang sudah sepi itu, tak sengaja melihat adegan mesra Ara dengan laki-laki asing itu, membuatnya merasa harus mendokumentasikan kejadian langka ini.
Ia mengeluarkan handphone-nya, dan mengambil gambar Ara yang sedang berada di dalam rangkulan seorang laki-laki asing.
Setelah dirasa cukup, orang itu segera melontarkan senyuman jahil ke arah Ara.
“Mampus loe, Arasha,” lirih orang tersebut, yang ternyata menyimpan dendam pribadi dengan Ara.
Ia meninggalkan tempat itu, khawatir ada yang melihatnya karena sudah mengambil diam-diam potret kemesraan Ara, dengan laki-laki misterius itu.
Di sana, Ara berusaha memandang dirinya yang sudah menolong Ara.
Terlihat orang yang sama, yang waktu itu juga sedang berada di danau.
__ADS_1
Pandangan Ara tertuju padanya. Matanya yang tidak terlalu tebal, dan juga kupluk dari hoodie Ara yang menutupi sebagian area matanya, membuat Ara sulit untuk mengenali matanya.
Tapi pada akhirnya, Ara pun menyadari dan mengenali laki-laki itu.
“Ekhmm ....”
Dehaman seseorang yang berada di belakang laki-laki yang sudah menolongnya itu, membuat Ara tersadar dari lamunannya.
Ara pun bangkit dari rangkulan laki-laki Jepang yang ia lihat di danau waktu itu. Ara merasa agak salah tingkah di hadapan dirinya.
Ara melihat ke arah hadapannya, sembari berusaha membenarkan hoodie yang ia pakai.
“Dilarang berbuat mesum di kampus ini,” ucap orang yang tadi sudah menabrak Ara, yang ternyata adalah Pak Dicky.
Ara lumayan kesal dengan ucapannya itu, tetapi ia tidak berbuat apa pun dengan yang dituduhkan oleh Dicky.
Karena keadaan yang sebenarnya adalah, Ara justru ditolong oleh laki-laki itu, karena tak sengaja sudah bertabrakan dengan Dicky.
“Lho Pak, saya gak ngapa-ngapain! Kan Pak Dicky tahu?” bentak Ara.
Dicky nampak memandang sinis orang yang menolong Ara tadi.
“Apa salah gue coba?” ucap Ara dengan kesal, lalu pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
Aku heran dengan Pak Dicky, jelas-jelas dia yang sudah menabrakku tadi, tapi dia membuat seolah-olah aku yang salah, dengan berbuat mesum di dalam kampus. Aku juga sadar betul kalau hal itu dilarang. Aku tidak seperti dia, yang sudah berbuat mesum di ruangan Morgan, pikir Ara yang kesal dengan Dicky.
“Huuuuh gak modal,” lirih Ara yang kesal, jika mengingat kejadian waktu itu saat Dicky dan dosen Lidya sedang bermesraan di ruang Morgan.
Ara berlari menuju toilet di ujung koridor untuk sekedar melihat penampilannya yang sudah sangat berantakan itu.
Setelah selesai merapikan semuanya yang berantakan, Ara segera pergi ke ruang kelasnya.
Sesampainya di sana, Ara pun mengintip dari luar kaca jendela. Sesaat setelah ia mengintip, tak sengaja Fla menoleh ke arah Ara.
Fla membuat suatu kode, dan Ara pun menerima signal kode darinya, yang menyuruh Ara untuk segera masuk ke dalam ruangan.
Dengan cepat, Ara bergerak cepat menuju pintu ruangan, agar tidak diketahui oleh dosen yang sedang mengajar.
“Tsettt ....”
Seseorang tiba-tiba saja menghalangi jalannya.
Ara yang menyadarinya, langsung melontarkan pandangan sinis ke arahnya.
__ADS_1
Terlihat Morgan yang sedang menghalangi pintu masuk. Ara mendadak kaget, sekaligus kesal dengan perlakuannya itu.
Apa dia tidak akan membiarkan aku mengikuti pelajaran? Pikir Ara yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Morgan.
“Apaan sih kamu, minggir, aku mau masuk,” ucapku dengan setengah kesal padanya.
Namun, Morgan masih saja tetap berada di posisinya itu.
Morgan menatap Ara dengan tatapan yang dingin dan datar.
Ara melirik ke arah Fla yang sedari tadi memang memperhatikannya.
Fla terlihat sedang menepuk keningnya.
“Morgan ... minggir. Aku mau masuk,” pinta Ara dengan nada memelas, namun, Morgan memandang Ara dengan tatapan yang sangat dingin.
Kenapa ia bersikap seolah-olah sedang marah denganku? Padahal, baru saja beberapa menit lalu, kita merasakan cinta bersama-sama, pikir Ara.
Ara memandang ke sekelilingnya. Rupanya, banyak orang yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan sinis dan tak senang.
Ara tidak mau mengundang banyak mata untuk memperhatikannya. Tapi, sikap Morgan yang seperti ini, justru membuat semua orang bingung dengan yang ia lakukan.
Terlebih lagi, banyak teman sekelas Ara yang juga mengidolakan Morgan. Para wanita itu seakan menatap Ara dengan sinis.
“Plis ... banyak yang ngeliatin kita,” ucap Ara, yang memaksa masuk, namun ia terpental kembali karena berbenturan dengan lengan Morgan.
“Awwsss ...,” rintih Ara, sembari memegangi dadanya.
“Ikut saya ke ruangan,” ucap Morgan yang tegas, dengan dingin.
Ara merasa ada hal yang aneh darinya, sehingga bersikap seperti itu.
Ara bergerak mengikutinya, dengan perasaan kesal, karena Ara yang tidak ingin membuat semua mata memandanginya.
Di sepanjang jalan menuju ruangannya, Ara hanya mendumel kesal karena sikap anehnya itu. Ara dan Morgan sedang menunggu lift untuk menuju lantai enam kampus, yang tak lain adalah ruangan Morgan.
“Tinggg ....”
Pintu lift terbuka. Ara dan Morgan mulai masuk ke dalam lift, dan Morgan menekan tombol lift yang bertuliskan angka 6.
Pintu lift pun tertutup kembali. Guncangan saat pertama lift bergerak, membuat Ara agak kehilangan keseimbangannya, dan menabrak dada bidang Morgan.
Ara kesakitan sembari mengelus keningnya yang sudah terbentur dengan dada Morgan.
__ADS_1
Morgan yang melihat kejadian itu, segera merengkuh Ara, agar ia tidak terlalu kehilangan keseimbangannya.
“Hati-hati,” lirih Morgan.