
Morgan terdiam, saat mendengar pertanyaan dari Ara.
Ini adalah hal yang Morgan takutkan. Berbicara mengenai lamaran, dan juga pernikahan, merupakan hal yang sangat mengganggu untuk Morgan.
Morgan mendadak hilang mood ketika Ara bertanya demikian padanya.
Ara yang mengetahui perubahan sikap Morgan, menjadi bingung dengan keadaan Morgan, dengan sikapnya yang aneh menurut Ara.
Morgan nampak berbeda, dan tidak sama seperti sebelumnya.
“Kamu kenapa, Gan?” tanya Ara, yang bingung dengan sikap Morgan yang berubah menjadi sangat aneh.
Morgan merenungkan diri, perihal pertanyaan Ara tadi.
‘Apa masih bisa saya membicarakan perihal lamaran? Apalagi mengenai pertunangan, atau pernikahan,’ batin Morgan, yang sedang berpikir keras, tentang sesuatu yang baru-baru ini ia simpan.
Ara mendelik bingung, “kamu kenapa?” tanya Ara.
Morgan yang tersadar, segera menggelengkan kepalanya ke arah Ara.
Morgan kembali menutup kotak kecil yang ia sodorkan itu, lalu segera meletakkan kembali kotak itu di dalam sakunya.
“Aku gak apa-apa,” lirih Morgan dengan nada yang sangat canggung, membuat Ara mendelik ke arahnya.
Ara mengerenyit bingung, “yakin gak kenapa-napa?” tanya
Ara, membuat Morgan berusaha untuk melontarkan senyuman ke arahnya.
Morgan membelai rambut Ara dengan lembut, “gak ada apa-apa sayang. Kamu gak perlu khawatir dengan keadaan aku, ya?” ucap Morgan, membuat Ara terkesiap.
Ara yang sadar dengan cincin yang tadi Morgan berikan padanya, segera mencari keberadaan cincin itu.
“Lho, tadi mana cincinya?” tanya Ara yang bingung, karena ia tidak melihat lagi keberadaan cincin yang Morgan berikan tadi.
Morgan bingung, harus menjawab apa pada Ara.
“Ada kok. Aku cuma mau keep dulu aja cincinnya, biar kamu gak merasa tertekan. Aku tahu kok, kamu belum siap untuk kita melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi. Mungkin, aku yang udah terburu-buru,” ucap Morgan, yang berusaha menjelaskan pada Ara.
Pribadi Ara sendiri, Ara memang masih belum siap untuk itu. Mungkin, akan ada saatnya nanti baginya untuk bisa melangkah menuju ke jenjang yang lebih serius lagi bersama dengan Morgan, tapi tidak untuk saat ini.
Mereka saling memandang satu sama lain.
__ADS_1
Ara yang merasa sudah tidak ada keperluan lagi, segera mempersiapkan segala peralatannya.
Ia mengambil tasnya, yang ia letakkan di kursi bagian belakang mobil.
Ara menoleh ke arah Morgan, “ya udah, aku mau ke kelas dulu,” lirih Ara.
Morgan menekan satu tombol, yang membuat seluruh kaca mobil berubah warna menjadi gelap. Ara pun bingung menoleh perubahan yang sangat signifikan itu.
“Lho, ini mobil kenapa?” tanya Ara, membuat Morgan tersenyum.
“Aku mau manja-manjaan dulu, boleh?” tanya Morgan membuat hati Ara mendadak terpacu.
Morgan mengubah posisi kursi, menjadi agak mundur, supaya memudahkan aksi mereka selanjutnya. Hal ini tentu saja membuat Ara melongo kaget.
‘Niat banget dia,’ batin Ara yang bingung dengan keadaan.
Morgan menoleh ke arahnya, “come on,” ucap Morgan, membuat Ara kembali meletakkan semua barang yang baru saja ia rapikan.
Ara segera duduk di pangkuan Morgan, dan menghadap ke arah Morgan. Dengan jahil, Ara perlahan membuka dasi Morgan, yang sudah terpasang rapi di lehernya.
Morgan mendelik tak percaya dengan yang Ara lakukan padanya.
Morgan terpukau dengan respon Ara yang sepertinya menginginkan hal itu di tempat seperti ini.
Ara menatapnya jahil, “bersenang-senang?” tanya Ara, membuat Morgan menarik napas dalam-dalam.
Morgan berinisiatif untuk meletakkan tangannya di dekat pangkal paha Ara, tak sadar membuat Ara melenguh di tiap sentuhan yang Morgan berikan padanya.
Morgan melanjutkan dengan menciumi Ara pada bagian leher, meninggalkan bekas kecupan manja, membuat Ara tak kuasa menahan geli, dan tiba-tiba saja meremas pay*daranya sendiri.
Hal itu membuat Morgan melihatnya dengan tatapan jahil.
Tanpa melepaskan ciumannya, Morgan berusaha membantu Ara, dengan menangkup pay*dara Ara, dan dengan penuh gairah meremasnya secara cepat, membuat gairah Ara bertambah lagi untuk memenuhi hasratnya yang sudah tak terbendung.
Mereka sudah dibutakan oleh indahnya kasmaran, sampai lupa dengan keadaan sekelilingnya.
Tidak ada satu orang pun yang melihat aksi mereka, karena mereka melakukan semua itu di dalam mobil Morgan, yang sudah dilapisi dengan kaca yang tidak tembus pandang, membuat semua yang ada di luar, tidak bisa melihat ke bagian dalam mobil.
Morgan menciumi Ara tanpa ampun, hingga turun ke lehernya, membuat Ara hampir saja kehabisan napasnya.
Tangannya pun tidak diam. Morgan berusaha menggesekkan tangannya pada sesuatu yang berada di antara pangkal paha Ara.
__ADS_1
“Shhhh ....”
Tanpa sadar, Ara mengeluarkan suara seperti melenguh, membuat imajinasi Moragan menjadi melayang kembali.
Hasrat Ara sudah semakin membara, membuatnya tidak bisa mengontrol emosi dalam dirinya. Morgan mulai menanggalkan kancing kemeja Ara, sehingga memudahkannya untuk menangkup gundukan kenyal yang membuatnya selalu terpukau dengan sosok seorang Arasha.
Tak sadar, Morgan sudah melucuti kemeja dan juga Bra hitam yang sedang Ara pakai. Tanpa ampun, Morgan mengulum putting dari gundukan kenyal itu, seperti seorang bayi yang sedang menyusu kepada ibunya.
Ara membusungkan dadanya, supaya bisa merasakan lebih dalam, sensasi yang Morgan berikan padanya.
Ara sampai merasakan benda keras, yang mengenai di antara selangkangannya. Morgan yang sudah lepas kendali dengan permainannya, segera membuka sabuk yang ia pakai.
Ara melepaskan ciuman Morgan, dan menyadari bahwa Morgan yang berusaha ingin melepaskan celananya itu.
Ara memandangnya dengan tatapan jahil.
Ara mendekatkan wajahnya ke telinga Morgan, “aku masuk kelas dulu,” bisik Ara lembut, membuat Morgan sedikit kesal dibuatnya.
Bagiamana tidak? Ara yang memulai semuanya, namun Ara juga yang mengakhiri, tanpa memikirkan keadaan Morgan yang sudah tidak keruan itu.
Kepala Morgan sedikit pusing, karena hasratnya yang tak terlampiaskan pada Ara.
Ara memakai kembali bra-nya, kemudian segera memakai kemeja yang sudah terpental jauh ke kursi belakang.
Mengetahui hal itu, Morgan dengan perasaan kesal, segera membenarkan celana dan sabuknya, dan memasang kembali dasi yang sudah dilucuti oleh Ara tadi.
Morgan tersenyum jahil, “tunggu pembalasan aku,” lirih Morgan, membuat Ara sedikit merinding mendengarnya.
“Gak mau!” lirih Ara, sembari tetap memakai kancing pada kemejanya.
Ada hasrat yang tidak terlampiaskan di sini, membuat Morgan agak sedikit kecewa dengan Ara.
‘Kenapa di hotel kemarin dia gak mau, dan kenapa dia malah mau di mobil yang sempit begini? Terburu-buru sama keadaan pula,’ batin Morgan yang menyayangkan keadaannya.
“Nanti mau makan siang?” tanya Morgan, yang berusaha untuk menetralkan suasana.
Morgan tak menyangka, Ara akan menjadi seliar ini. Padahal, baru pemanasan saja, membuat Morgan sudah benar-benar merasa kepanasan.
Ara merapikan rambutnya yang berantakan.
“Jangan, nanti mereka pada tahu, kalau kita pacaran,” tolak Ara, membuat Morgan terdiam.
__ADS_1