
"Ya, saya paham kok. Walaupun saya gak setampan kamu, tapi saya juga milih-milih kali. Gak mau saya kalau sama cewek yang gak jelas. Seperti cewek bayaran atau semacamnya," gumam Dicky dengan jujur, membuat Morgan sedikit terkejut saat ia mengatakan kalau dirinya tak setampan diri Morgan.
Morgan mendelik sembari tersenyum jahil, "akhirnya kamu mengaku, kalau saya lebih tampan dari pada kamu," gumam Morgan dengan sangat percaya diri.
"Pltakk ...."
Dicky memukul bahu Morgan tiba-tiba, tapi Morgan hanya tertawa kecil melihat sikapnya yang salah tingkah itu.
"Nggak usah GR deh! Saya nggak bilang kalau saya nggak ganteng ya, saya cuma bilang walaupun saya nggak setampan kamu, bukan berarti saya nggak tampan. Bukan berarti juga kalau kamu itu lebih ganteng daripada saya," ucap Dicky yang rupanya masih berkilah.
Morgan tersenyum singkat padanya, "sudahlah skip, saya capek. Oh ya nanti malam nginep di rumah saya buat bantuin input nilai. Hari ini terakhir," ucap Morgan yang menyudahi perbincangan mereka.
Dicky mengernyitkan dahinya, "kok saya jadi ikutan kena sih?" Dicky berusaha untuk membantah Morgan, tapi Morgan hanya memelototinya saja.
Dicky langsung berubah sikap, dan segera menunduk seperti orang yang sedang ketakutan.
"Iya iya! Siapin aja makanan yang banyak," ucapnya yang terdengar seperti mengalah, membuat Morgan tersenyum tipis ke arahnya.
Lagi-lagi, Morgan kecanduan meminta bantuan kepada Dicky. Tapi walaupun seperti itu, Dicky juga terus-menerus memberikan bantuannya pada Morgan.
Kasihan dia ....
"Drrttttt ...."
Tiba-tiba saja handphone Morgan bergetar. Ada beberapa notifikasi dari aplikasi chat-nya. Morgan melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya, dan terdiam sesaat karena yang mengirimkan pesan adalah Ara.
Morgan melirik ke arah Dicky, yang juga sedang memperhatikan dirinya.
"Siapa tuh? Cewek itu ya?" tanyanya memastikan, tapi Morgan hanya mengangguk saja ke arahnya.
"Saya harus gimana?" tanya Morgan yang mulai bingung, dengan apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Dicky mengerenyitkan dahinya, "memangnya, dia ngirim pesan apa sih?" tanya Dicky dengan nada yang terdengar sedikit ingin tahu.
"Dia nanya, saya lagi di mana," jawab Morgan.
Dicky menghela napasnya, "ya udah, nanya gitu doang, kan? Gak usah dijawab, biar dia berpikir dan merasa kehilangan. Coba untuk seminggu ke depan kalian jangan ada kontak dulu. Kita lihat responnya seperti apa," ucapnya.
Morgan sedikit ragu dengan sarannya itu. Morgan diam sesaat untuk merenungkan apa yang harusnya ia lakukan setelah ini.
"Tapi minggu depan saya sudah harus berangkat. Bukannya dengan dia bertanya seperti itu juga, tandanya dia merasa kehilangan dan merasa ada rasa rindu di hatinya?" bantah Morgan.
Dicky memandang Morgan dengan tatapan datar, membuat Morgan sadar, rasa cintanya lebih besar dari pada rasa bencinya pada Ara. Ia tidak bisa berbuat seperti ini dan tidak bisa membuat Ara bertanya-tanya dengan keadaannya. Morgan tidak bisa menggantungkan perasaan orang lain, dengan cara dibuat-buat.
"Terserah kamu mau bagaimana. Saya sudah ngasih tahu bahwa kamu harus ulur perasaan dia dulu saat ini. Kamu nggak boleh narik perasaan dia. Yang ada nantinya malah kamu yang jadi ditarik ulur sama dia, dan keadaan jadi terbalik. Mudah bagi wanita untuk menarik ulur hati laki-laki. Itu karena kita yang sudah peduli banget sama dia, sampai kesalahan dia pun selalu kita kesampingkan demi hubungan," ucap Dicky menjelaskan padanya panjang lebar.
Morgan menunduk sendu, aku masih merenungkan ucapannya yang kali ini. Memang benar, selama ini aku yang selalu mengejarnya, dan aku yang selalu mengalah untuk Ara. Aku ingin melihat sekali-kali dia yang melakukan itu padaku. Bagaimana rasanya diperjuangkan? Pikir Morgan yang mulai berpikir dengan nyata.
...***...
Lian mengantarkan pulang Ares, dengan berjalan kaki, karena dirinya sudah tidak mempunyai uang lagi. Ia menikmati sekali dirinya yang tidak mempunyai apa pun, yang ia miliki dari keluarganya.
"Kamu kan sering latihan basket, kenapa ngeluh jalan kaki begini doang?" ucap Ares yang sedikit meledek Lian, membuat Lian terkekeh karenanya.
"Oh ya, ngomong-ngomong, gimana soal turnamen voli? Kamu kan udah pindah ke sekolah aku, jadi gimana? Kamu tetap anggota tim mereka, atau anggota tim sekolah aku?" tanya Lian, membuat Ares menghela napasnya panjang.
"Itu dia. Aku masih bingung. Sementara di sekolah yang sekarang, aku sama sekali belum masuk ke tim voli. Jadi kemungkinan, tahun ini aku gak akan ikut," jawab Ares, membuat Lian agak sedih mendengarnya.
'Aku harus bicara dengan ketua tim voli putri, besok,' batin Lian, yang bertekad untuk membuat Ares senang.
Ares menghentikan langkahnya, "eh, itu rumahku udah keliatan. Kamu mau mampir?" tanya Ares, membuat Lian tersadar dari lamunannya.
"Eh, enggak usah. Kamu duluan aja," tolak Lian, membuat Ares tersenyum kecil.
__ADS_1
"Ya udah, sampai ketemu besok di sekolah ya," ucap Ares, membuat Lian tersenyum kecil.
"Iya," lirih Lian.
"Bye," gumam Ares, sembari melambaikan tangannya, membuat Lian tersenyum tipis.
Ares pun pergi meninggalkan Lian di sana, dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Lian memandang kepergian Ares dengan sendu. Ia sama sekali tak menyangka, akan bisa dekat dengan orang yang sama sekali tidak ingin ia dekati.
Tak lama kemudian, Lian pun pergi meninggalkan rumah Ares, dan segera menuju ke arah rumahnya.
Ares melangkah masuk ke dalam rumah dengan sangat senang. Ia terkejut, karena melihat kakaknya yang sudah pulang dari liburannya.
"Kak Ara," pekik Ares, membuat Ara yang sedang menonton televisi menjadi menoleh ke arahnya.
Ara tersenyum, hatinya sudah sedikit melunak dan sudah bisa menerima Ares sebagai adiknya.
"Ares, kok baru pulang jam segini?" tanya Ara, membuat Ares seketika menunduk takut, padahal Ara bertanya dengan senyumannya.
Ara mendadak bingung dengan yang sikap adiknya itu.
'Ares kenapa? Apa aku terkesan marahin dia, ya?' batin Ara yang sangat kaku bersikap pada adiknya.
Sudah lama menjadi seorang bungsu, Ara jadi tidak paham bersikap pada seorang adik. Berbeda dengan Arash, yang memang sudah terbiasa memperlakukan Ara sebagai adiknya.
Ara teringat dengan pernak-pernik yang ia beli di Jepang waktu itu. Ara pun segera berlari menuju kamarnya, untuk mengambil pernak-pernik itu.
Tak lama kemudian, Ara datang membawa pernak-pernik lucu. Tak tahu jenis yang mana yang Ares suka, Ara pun menyodorkan itu semua ke arah Ares, membuat Ares memandangnya dengan mata yang berbinar.
"Ini apa, Kak?" tanya Ares, membuat Ara tersenyum.
__ADS_1
"Oleh-oleh untuk adik bungsu kakak," ucap Ara sembari menyeringai, membuat mata Ares semakin berbinar dibuatnya.
...***...