Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Konflik Junhey 2


__ADS_3

Tapi, kehidupan Morgan sebagai salah satu pekerja di bar, membuatnya malah keasyikan meminum bir dan semacamnya untuk melupakan sejenak permasalahan yang ada.


Setelah itu, kehidupan berjalan seperti biasa. Saat di kampus, Morgan mendengar beberapa orang yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu.


Morgan memandang ke arah mereka, untuk apa mereka berada di gedung tersepi di kampus ini? Pasti mereka merencanakan niat yang tidak baik, pikir Morgan yang menguntit dirinya dari belakang.


Dari suaranya, sepertinya ada sekitar tiga orang di sana. Sikap Morgan yang tidak sabar, membuat dirinya mendobrak pintu dan melihat orang-orang dari fakultas teknik di sana.


Terdapat juga foto dari Junhey, teman Morgan dari fakultas bahasa asing. Gadis yang sedang tenar dan naik daun itu, ternyata banyak sekali yang mengincar. Mereka mungkin terusik dengan keberadaan Morgan di sini.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya dengan nada tinggi.


Telinga Morgan sampai pengang karena teriakannya.


"Apa yang kamu lakukan dengan foto Junhey?" tanya Morgan kembali.


Ia memelototi Morgan, bahkan mungkin matanya hampir copot saking marahnya dirinya.


"Terserah aku. Gadis yang di foto ini adalah pacarku!" tepisnya dengan angkuh.


"Apa yang bisa kamu sebut kekasih dalam upaya pembunuhan dengan pemerkosaan?" ucap Morgan dengan lantangnya, membuat mereka semua mendelik kaget.


"Berani sekali kau rupanya!"


Terlibat perkelahian yang sengit antara Morgan dan tiga orang laki-laki bejat itu. Morgan mendengar niat mereka yang tidak baik, karena mereka ingin melakukan pencobaan pembunuhan dengan cara memperkosa terlebih dahulu.


Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau tidak, reputasi wanita terpopuler di kampus ini akan hancur. Dan yang akan menerima imbasnya adalah kampus ini, pikir Morgan sembari terus menangkis serangan mereka, namun mereka berhasil melumpuhkan Morgan.


Morgan berhasil dibelenggu oleh mereka. Sampai akhirnya, Morgan tidak sabar, dan menghantam kepala laki-laki itu, dengan kepala Morgan.


Sudah tidak ada yang bisa Morgan lakukan lagi. Laki-laki bernama Hito itu, kini sudah tak sadarkan diri. Dua temannya yang lain melepaskan dirinya.


"Tesss ...."


Tetesan darah segar mengucur dari kening Morgan. Ia tidak tahu kalau kejadiannya akan jadi separah ini.


"Hito!"


Pekik seorang gadis dari arah belakang. Ia berhambur memeluk Hito yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah segar yang selalu mengucur dari kepalanya.


Morgan mendelik, aku bingung kenapa bisa jadi seperti ini? Padahal, aku sama sekali tidak berniat untuk membunuhnya, pikir Morgan yang menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Morgan pun pergi dengan sempoyongan, meninggalkan mereka yang berada di dalam ruangan usang ini.


...-FLASH BACK OFF-...


"Jadi, kamu gak berniat sama sekali membunuhnya?" tanyanya dengan nada yang sudah sedikit melunak.


Morgan pun memperhatikan wajahnya, "saya gak bermaksud demikian. Karena setelah itu kamu langsung pergi untuk mengikuti pertukaran pelajar, kamu jadi tidak tahu kebenarannya," ucap Morgan dengan nada seperti orang yang tidak bersalah.


Morgan menghela napasnya, padahal harusnya aku tidak sampai berbuat sekejam itu padanya, pikir Morgan yang menyesali perbuatannya.


Junhey mendelik, "kebenaran? Kebenaran karena kamu sudah mengirim dia ke neraka?" tanyanya dengan nada yang kian naik, membuat Morgan tak tidak bisa menerima ucapannya itu.


"Jaga bicara kamu ya! Hito belum mati!" bentak Morgan dengan asal, saking marahnya dia.


Morgan mendelik, "ups ...," lirih Morgan.


Sepertinya, aku keceplosan karena terbawa emosi setelah mendengar ucapannya, pikir Morgan.


Junhey terlihat sedang melotot ke arah Morgan, walaupun ia sedang menangis, membuat Morgan menelan salivanya sendiri.


Entah kenapa, ini terasa sangat sulit untukku lewati, pikir Morgan.


"Apa kamu bilang? Hito masih hidup?" tanyanya dengan ekspresi yang sangat tercengang.


Morgan pun menunduk, sekian lama aku menghindarinya. Tapi hari ini, sepertinya aku harus berterus terang, pikir Morgan.


"Kalau kamu masih gak percaya, kamu bisa periksa ke rumah neneknya di Yokohama," ucap Morgan.


Junhey menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ke-kenapa kamu bisa tahu?" tanyanya yang nampak belum percaya penuh pada Morgan.


Ya, memang sulit dipercaya sih. Tapi karena Junhey langsung pergi untuk memenuhi undangan pertukaran pelajar, ia jadi tidak sempat bertemu dengan Hito, pikir Morgan sembari menggelengkan kepalanya.


"Saya yang sudah kasih informasi yang salah ke kamu. Itu pun atas kemauan Hito sendiri. Karena dia merasa bersalah padamu. Dia sudah ingin mengikhlaskan kamu. Makanya, dia meminta saya untuk memberi tahu kamu kalau dia sudah meninggal. Semata-mata hanya ingin melepas kamu karena rasa bersalahnya," jawab Morgan.


Junhey semakin menangis deras, membuat Morgan tak tega melihatnya.


Morgan menghela napasnya panjang, lalu melangkah meninggalkan Junhey yang sedang menangis sendu.


Morgan menghentikan langkahnya, "jaga diri kamu baik-baik. Jangan mengganggu saya lagi dengan hal-hal yang tidak kamu ketahui secara jelas," ucap Morgan, tanpa menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Kalau butuh apa-apa, saya ada di sebelah sampai sabtu depan," tambah Morgan.


Junhey masih saja menangis. Morgan yang tidak enak hati, langsung saja pergi meninggalkannya.


Morgan melewati kamar hotel yang ia sewa. Ia tak sengaja meraba kantung celananya, dan mendelik karenanya.


"Ya Tuhan! Dompet!" Morgan baru saja ingat, kalau dirinya melupakan dompetnya, saking ia terburu-buru untuk pergi dari dana.


Morgan pun kembali memeriksanya di dalam kamar hotel.


"Ckleeekkk ...."


Morgan membuka pintu kamar hotelnya. Sepi, sunyi, tak ada siapa pun di sini. Morgan pun mengerenyitkan dahinya, sembari mencari keberadaan Ara.


"Ara ... kamu di mana?" pekik Morgan, namun tidak ada jawaban darinya.


Morgan mencari di segala sisi kamar, termasuk di dalam toilet. Namun, Ara sama sekali tidak terlihat di mana pun.


"Ara mana, ya?" lirih Morgan, yang bingung karena tak bisa menemukan keberadaan Ara.


Morgan mendelik, karena tak sengaja melihat bingkisan yang sudah terbungkus rapi. Dengan sigap dan rasa penasaran yang tinggi, ia pun langsung membukanya.


Di dalamnya, terlihat jaket berwarna coklat muda, mirip seperti yang sering dipakai para detektif itu. Morgan melihat, ada sebuah kartu ucapan di dalamnya.


Ia pun membacanya dengan seksama. Ternyata, isi suratnya ditujukan untuknya. Pipinya terasa panas seketika.


"Terima kasih? Untuk apa?" lirih Morgan yang bingung dengan kartu ucapan yang ada di dalam bingkisan itu.


Morgan mendelik, dan mengeluarkan handphone-nya untuk menghubungi Ara. Morgan pun mulai khawatir dengan keberadaannya.


Setelah beberapa saat, teleponnya dengan Ara tidak tersambung juga. Morgan tidak tenang, karena kehilangan kontak darinya.


Apa yang harus aku lakukan? Menghubungi polisi setempat? Atau mencarinya sendiri? Tapi, ke mana aku harus mencarinya? Pikir Morgan.


"Gak ada waktu! Cari ke mana aja yang penting cari!" ucap Morgan dengan tegas.


Morgan langsung memakai jaket yang Ara berikan padanya. Jaket ini lumayan membuat tubuhnya hangat.


Morgan berlarian tanpa tahu arah. Ia berhenti pada persimpangan jalan. Ia mengambil jalur ke kanan, berharap ada sedikit peluang untuk bisa bertemu Ara.


"Di mana kamu, Ra?" lirih Morgan, sembari terus berlari kecil dan menoleh ke segala penjuru.

__ADS_1


'Aku harus nemuin kamu, Ra. Kalau enggak, gimana Arash di sana? Pasti gak tenang,' batin Morgan yang hampir menyerah karena belum berhasil menemukannya.


...***...


__ADS_2