
Ilham membantu Ara untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya. Ilham pun membantu menarik selimut untuk Ara.
Ia duduk di pinggir ranjang Ara, menemani Ara yang sedang terbaring lemas di atas ranjang.
Ilham menatapnya dengan sendu, "Apa ada yang kamu butuhkan, Ra?" tanya Ilham dengan sangat lembut, membuat Ara menggelengkan kecil kepalanya.
Saat ini rasanya, sekujur tubuh Ara sangat lemas dan ngilu sekali. Ia sampai tak bisa merasakan tubuhnya, saking lemas dan nyeri di seluruh sisi dari tubuhnya.
Ilham menatap Ara dengan sendu, tak tega dengan yang Ara rasakan saat ini. Namun, jauh di lubuk hati Ilham, ia justru tak tega dengan hatinya sendiri. Ia bahkan tidak bisa merasakan perasaannya sendiri saat ini, saking kecewanya ia dengan Ara, yang ternyata saat ini tengah mengandung.
'Apa gaya pacaran mereka sampai seperti itu? Pantas saja Ara tidak rela sekali saat Morgan memutuskan hubungan bersamanya,' batin Ilham yang merasa sangat terpukul mengetahui kelakuan Ara di belakangnya.
Tak sadar, Ara mengeluarkan air mata dari pelupuknya, karena merasa sangat tidak enak badan kali ini.
Ara memandang ke arah AC yang ada di kamarnya, dan mendapati AC di ruangan ini menyala dengan suhu 21 derajat celcius. Suhu yang normal dan tidak terlalu dingin, tapi Ara merasakan tubuhnya sangat kedinginan kali ini.
"Kak ... bisa tolong matikan AC?" pinta Ara, membuat Ilham tersadar dari lamunannya.
Ilham berusaha tegar, dan menahan air mata yang hampir saja terjatuh tadi.
Tanpa basa-basi, Ilham pun segera bangkit dan menuju ke arah remot AC yang menempel di dinding, dekat sakelar lampu kamar Ara.
"Bipp ...."
Ilham menonaktifkan AC, membuat suasana di dalam ruangan itu terasa sangat sunyi, tanpa ada suara sedikit pun.
Ilham menghela napasnya, masih berusaha menahan perasaannya. Ia kembali meletakkan remot AC tersebut, dan kembali duduk di pinggir ranjang tidur Ara.
"Gimana keadaan kamu? Apa yang masih kamu rasain?" tanya Ilham, membuat Ara memandangi wajah Ilham dengan sangat sendu.
Ara merasa, Ilham selalu ada untuknya, di saat terendah dirinya. Ara merasa sangat beruntung bisa dekat dengan Ilham saat ini.
"Cuma lemes kok, selebihnya gak ada apa-apa lagi," jawab Ara membuat Ilham tersenyum tipis ke arahnya.
Ara mendadak menjadi penasaran dengan pikiran yang mengganjal di hatinya.
Ara memandang Ilham dengan tatapan dalam, "Kak Ilham, aku boleh tanya sesuatu, gak?" tanya Ara, membuat Ilham mengerenyitkan dahinya.
"Silakan," gumam Ilham dengan sangat lembut, membuat Ara menjadi nyaman dengannya.
__ADS_1
"Sepertinya, wajah Kak Ilham gak asing buat aku. Apa ... dulu kita pernah ketemu?" tanya Ara dengan penuh rasa heran, membuat Ilham mendelik tak percaya.
'Jadi selama ini dia sama sekali gak kenal dengan saya?' batin Ilham terkejut, yang mendadak bingung dengan keadaan Ara.
Ilham memandang ke arah Ara, "Kenapa kamu nanya seperti itu?" tanya Ilham, yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Kayaknya aku lupa," gumam Ara terlihat sangat lemas, membuat Ilham terdiam memandangnya.
Ilham tersenyum ke arah Ara, "Istirahat, ya. Kamu harus banyak-banyak istirahat. Nanti siang, saya bawain makan siang untuk kamu," ucap Ilham, yang berusaha keras untuk mengalihkan topik.
"Aku gak lapar, Kak," tolak Ara, membuat Ilham teringat dengan ucapan dokter tadi.
Hal itu membuat Ilham menjadi sangat sensitif.
"Kamu harus makan, kalau kamu mau cepat sehat. Kamu dari kemarin kan belum makan, nanti pasti berdampak buruk buat kan--"
Ucapan Ilham terpotong, karena dirinya yang sama sekali belum siap untuk mengatakan ini pada Ara. Ilham mendelik, membuat Ara penasaran dengan ucapan Ilham.
"Kenapa, Kak?" tanya Ara, membuat Ilham mati gaya jadinya.
Ilham membenarkan sikapnya yang menurut dirinya sendiri sangat aneh.
"Kak!" pekik Ara, membuat pergerakan Ilham terhenti karenanya.
Ilham kembali duduk di pinggir ranjang Ara, membuatnya ketar-ketir sendiri dengan jawaban apa yang akan ia jawab nantinya, jika Ara bertanya yang tidak-tidak padanya.
Ilham memandangnya dengan saksama, "Ada apa, Ra?" tanya Ilham, berusaha untuk bersikap seperti biasa di hadapan Ara.
"Aku sakit apa, Kak? Aku kenapa?" tanya Ara, membuat Ilham mendelik bingung, harus menjawab apa pada Ara.
Alhasil, Ilham hanya diam, tak bisa menjawab pertanyaan Ara. Hal itu membuat Ara kesal dengannya.
"Aku kenapa, Kak? Coba kenapa?" desak Ara, membuat Ilham merasa sangat terpojok dengan desakannya.
Ilham menghela napas panjang, berusaha mengatur napasnya yang agak sesak jadinya.
Ilham menatap Ara dengan tatapan yang sangat dalam, berusaha membuat suasana menjadi serius.
"Kamu gak sakit, Ra. Kamu ... hamil," gumam Ilham dengan sangat ragu.
__ADS_1
Duarrrrrrrrrrr!!
Betapa hancurnya hati Ara mendengar perkataan Ilham. Tetesan air mata mengalir deras dari pelupuk mata Ara, membuat dada Ara sesak seketika.
"Apa?" gumam Ara yang tak percaya dengan ucapan Ilham.
Ilham tak bisa berbuat apa pun lagi, hanya bisa memandang Ara dengan sendu, sembari tetap memperhatikan setiap reaksi yang Ara lakukan.
Ara menggeleng, "Gak mungkin kan, Kak? Kakak bercanda?" tanya Ara sekali lagi, berusaha meyakini diri Ilham, membuat Ilham menggelengkan kepalanya.
"Kamu benar hamil, Ra," gumam Ilham, membuat Ara seketika meremas rambutnya dengan kencang.
Pikiran Ara sudah tak keruan saat ini. Ia segera bangkit, dan mencari handphone miliknya. Ia menelepon Morgan, dengan harapan bisa kembali lagi dengannya.
Air mata terus mengalir, sembari ia menunggu telepon terhubung.
"Nomornya yang anda tuju sedang tidak aktif."
Ara merasa kesal mendengar pemberitahuan seperti itu. Morgan tidak bisa dihubungi.
Ara gelagapan memandang handphone-nya, lalu segera menelepon Morgan lagi. Namun, Morgan masih saja tidak dapat tersambung dengannya.
"Arghh!!" teriak Ara, membuat Ilham memandangnya dengan sendu.
Ara segera menghubungi Fla, untuk menanyakan keadaan Morgan. Ia sangat cemas, karena harapannya saat ini, hanya ada di Fla.
Setelah sekian lama menunggu, Fla tidak menjawab telepon darinya. Hal itu cukup membuat Ara menjadi sangat kesal.
"Kenapa gak ada yang bisa dihubungi, sih?" teriak Ara bertanya-tanya dengan keadaan.
Teringat Dicky di pikiran Ara, membuatnya segera menelepon Dicky dengan cepat.
"Dringgg ...."
Di sana, Dicky sedang menikmati bercinta dengan seorang gadis cantik. Dicky yang baru saja hendak memulai aksinya, harus dikejutkan dengan dering handphone yang sangat keras baginya.
Dicky menghela napas panjang sembari menatap gadis itu, "Sebentar ya," gumam Dicky, lalu segera melepaskan diri dari pelukan gadis cantik itu.
Dicky mendelik, "Ara?" gumam Dicky dengan lirih, khawatir gadisnya mengetahui kalau yang mengganggu mereka, adalah seorang gadis.
__ADS_1