
Arash menatap Fla dengan bingung, "kamu kenapa?" tanya Arash, yang mampu membuyarkan lamunan Fla.
Mendadak Fla menjadi salah tingkah dibuatnya.
"Gak apa-apa, emang aku kenapa?" tanya Fla balik, membuat Arash terkekeh.
"Ke sini tadi sama siapa?" tanya Arash, membuat Fla mencoba menahan dirinya.
"Naik taksi online," lirih Fla.
Fla sangat dongkol dengan Arash, kenapa pertemuan semewah ini, dia sama sekali tidak menjemput aku? Pikir Fla.
Tapi jika dipikir kembali, pertemuan ini kan aku yang minta. Harusnya aku bersyukur kalau dia sudah menyetujui, pikir Fla lagi yang berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Oh, Morgan gak antar?" tanya Arash, membuat Fla menggeleng.
"Kak Morgan lembur, karena pekan ini kan ujian akhir semester," jawab Fla, mengingatkan Arash tentang hal itu.
"Oh ya, sampai lupa kalau kalian lagi ujian," gumam Arash, membuat Fla tersenyum tipis ke arahnya.
"Permisi," sapa seseorang yang datang membawakan makanan dan sedikit alkohol di tangannya.
Ia meletakkan beberapa makanan yang ia bawa menggunakan trolly, di hadapan Arash dan juga Fla.
Fla melihat ke arah makanan yang serba mewah itu, membuat dirinya menjadi tak enak hati dengan Arash. Permasalahannya, ini hanyalah pertemuan biasa, bukan untuk dinner date. Tapi, Arash memperlakukannya layaknya pasangan betulannya saja.
"Terima kasih," gumam Arash.
"Sama-sama Pak Arash yang ...," lirih pelayan itu dengan nada yang menggantung, karena pelayan itu yang sedang memperhatikan penampilan Fla, dari atas sampai bawah secara detail.
Fla yang diperhatikan seperti itu dengan pelayan itu, melontarkan tatapan kebencian padanya.
'Dih, dia kenapa, sih?' batin Fla yang keheranan dengan perlakuan aneh pelayan itu.
Pelayan itu pun pergi dari sana, meninggalkan mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk menyantap makanannya.
"Ayo, makan. Jangan malu-malu. Anggap aja rumah sendiri," lirih Arash, membuat Fla tersenyum tipis ke arahnya.
Arash menyuap suapan pertamanya, tapi Fla masih sama sekali belum menyentuh makanannya.
Fla sesekali mencuri pandang ke arah Arash, karena malam ini, Arash terasa berbeda dari malam-malam biasanya. Bagai langit dan bumi dengan Arash pada saat mereka minum shochu sampai mabuk waktu itu.
__ADS_1
'Kenapa Kak Arash beda banget, ya hari ini? Apa karena cinta gue udah semakin dalam buat dia? Ah, cinta apanya? Masa begitu doang gue udah jatuh cinta sama dia? Kenapa bisa cepet banget,' batin Fla yang mendadak kesal sendiri dengan pikirannya terhadap Arash.
Fla pun memainkan makanan yang sudah disajikan di hadapannya, sembari tetap menatap Arash.
Tatapan Fla dengan gelagat yang aneh, membuat Arash merasa risih, karena ia menangkap basah Fla yang sedang curi-curi pandang itu.
Arash menatap Fla dengan tajam, "kamu kenapa? Kok melihatnya begitu banget? Ada yang salah ya dari saya?" tanya Arash, membuat Fla kaget, dan dengan cepat mengunyah makanannya dan menelannya bulat-bulat.
Pernapasan Fla terganggu, karena makanan yang baru saja ia telan bulat-bulat itu, menyumbat saluran kerongkongannya.
Arash mendelik karena bingung dengan keadaan Fla yang melakukan hal-hal aneh.
"Lho, kamu kenapa, Fla?" tanya Arash, yang tak dihiraukan oleh Fla, karena ia masih tidak bisa fokus dengan keadaan.
Fla menunjuk-nunjuk ke arah tenggorokannya, membuat Arash mengerti, dan segera menghampirinya untuk membantunya mengeluarkan makanan yang menyumbat kerongkongannya.
Arash menepuk-nepuk leher Fla, berharap makanan itu bisa keluar dari mulut Fla.
"Tahan, Fla!"
"Pukk ... puk ...."
"Ekhm ...."
Arash menambah kecepatan untuk menepuk-nepuk leher Fla, agar makanan itu bisa lebih cepat keluar.
"Come on, Fla," lirih Arash, sembari tetap menepuk leher Fla.
Beberapa pelayan yang melayani mereka, yang sedang berdiri di luar pintu, menjadi penasaran dengan apa yang Arash lakukan bersama dengan seorang gadis di dalam. Mereka terus-menerus mendengarkan suara aneh yang ada di dalam ruangan, membuat mereka semua menganga kaget.
"Gak nyangka, pak Arash ternyata gak tahan, di mana aja jadi," lirih salah satu pelayan wanita yang sudah salah sangka terhadap Arash, yang memang sudah sering memesan meeting room di hotel ini.
"Iya, gue gak nyangka pak Arash ternyata begitu," sahut satu temannya, yang juga sedang menguping suara dari luar pintu masuk ruangan.
Sementara di dalam, Fla masih belum bisa mengeluarkan makanan yang menyumbat kerongkongannya itu. Arash terpaksa berhenti sejenak, karena terlalu lelah.
"Duh, capek saya," lirih Arash yang terdengar sudah putus asa dengan keadaan.
"Coba sekali lagi, yang lebih keras, biar cepat keluar. Kamu siap-siap ya Fla," ucap Arash yang membuat ketiga pelayan itu mendelik heran.
"Pak Arash udah capek ternyata," gumam salah satu dari mereka, membuat dua lainnya tertawa kecil.
__ADS_1
"Saya hitung ya Fla, ini sebentar lagi pasti keluar!"
"Satu ...."
"Dua ...."
"Tiga ...."
"Prokk ...."
"Ugh ... emmhh ...."
"Ah ... akhirnya keluar juga," teriak Arash kegirangan karena sudah bisa menolong Fla.
"Ah, iya, Kak. Baksonya hampir tertelan. Gede banget habisnya," ucap Fla.
Akhirnya Fla mengeluarkan makanan yang sudah membuatnya tersedak. Para pelayan itu bersorak kegirangan, karena mendengar Arash yang sudah berhasil tertuntaskan nafsunya.
"Akhirnya keluar juga!" ucap salah satunya.
"Hey denger gak, tadi baksonya gede banget katanya!"
"Hii ... mantap itu!"
Sorakan keras dari para pelayan itu, membuat Arash dan Fla terkejut, dan segera menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari pintu masuk ruangan.
Fla mendelik, "kenapa tuh, Kak?" tanya Fla yang terkejut dengan sorakan aneh yang berasal dari luar ruangan.
Arash menggelengkan kepalanya, karena sudah paham dengan para pelayan yang ada di sini. Mereka sangat terobsesi dengan Arash, jadi setiap kelakuan Arash, sekecil apa pun pasti akan diperhatikan oleh mereka.
Arash mengambil segelas air mineral, dan memberikannya kepada Fla, "minum dulu aja," lirih Arash, Fla dengan ragu mengambilnya dan menenggaknya secara perlahan, hingga tidak ada yang tersisa di dalam gelas itu.
Fla memberikannya lagi ke arah Arash. Arash menerimanya dan meletakkan kembali gelas itu di tempat semula.
"Mereka ngapain sih, Kak?" tanya Fla, membuat Arash mengangkat kedua bahunya, pertanda kalau dirinya tidak tahu dengan mereka.
"Yang penting sudah tidak tersedak lagi," ucap Arash, membuat wajah Fla mendadak menjadi merah.
"Iya," lirih Fla yang tak sadar segera menafikan pandangannya dari Arash.
"Lagian, kok bisa kamu makan bakso gede begitu, tapi tak dikunyah dulu?" tanya Arash mendadak kebingungan dengan yang Fla lakukan.
__ADS_1
Fla mengerenyitkan dahinya, "ih Kak Arash mah! Namanya juga orang kaget. Lagian siapa suruh bikin kaget!" bentak Fla, membuat Arash juga mengerenyitkan dahinya.
"Apa sih," lirih Arash yang merasa sedikit kesal dengan Fla.