Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Efek Shochu 2


__ADS_3

Morgan menoleh ke arah adiknya, yang juga lebih dulu tak sadarkan diri. Fla sudah tertidur pulas di atas meja yang dipenuhi banyak botol bekas shochu yang mereka minum tadi. Lagi-lagi Morgan hanya menggeleng kecil melihat keadaan adiknya yang sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi.


Morgan bergerak ke arah Fla, dan menatapnya dengan tatapan yang miris. Ia mengusap rambut yang menutupi pandangannya dari gadis manis ini.


“Harusnya kakak gak izinin kamu main permainan ini, Fla,” lirih Morgan, yang sedih karena dirinya yang ia pikir tidak bisa menjaga adiknya dengan baik.


Morgan terpaksa menggendong Fla yang sudah tak sadarkan diri, menuju ke kamar tamu yang berada di rumah ini. Meskipun tenaga Morgan sudah hilang setengahnya karena permainan laknat itu, tapi Morgan tetap bertanggung jawab atas keadaan adiknya. Ia tidak ingin ayahnya memarahinya karena tidak mampu menjaga adik perempuan satu-satunya itu.


Perlahan, Morgan membaringkan tubuh adik tersayangnya itu ke atas ranjang tidur. Tubuh Fla tiba-tiba saja menggigil, membuat Morgan menarik selimutnya agar tubuh Fla tetap hangat, kemudian bergegas menuju ke ruangan tempat Ara berada.


Morgan sudah sampai di ruangan tempat Ara berada. Morgan sudah tidak bisa lagi melihat Ara yang sudah lepas kendali itu. Ia langsung menarik tangan Ara, dan menuntunnya menuju kamarnya.


“Apa sih? Gue gak mau kuliah ... gue mau tidur aja, gue capek kuliah kalau harus ketemu sama orang itu mulu!” lirih Ara asal, yang memang sudah tak sadarkan diri sejak tadi.


Tenaganya menjadi dua kali lipat daripada dirinya yang sedang sadar. Morgan yang juga memang setengan sadar, merasa keberatan menghalau pergerakan Ara yang terus menolak ajakan Morgan.


“Ara capek? Yaudah yuk kita ke kamar, biar Ara gak capek lagi ...,” lirih Morgan padanya, tapi Ara hanya cengengesan saja mendengar ucapan Morgan.


Walaupun Ara sempat menolak ajakan Morgan, namun, Morgan tidak sampai hati untuk melihat dirinya yang sudah tak sadarkan diri itu. Morgan memaksa Ara untuk mengikuti keinginannya.


“Gue mau main kuda-kudaan,” lirih Ara yang memang sudah ngawur.


Morgan yang mendengar perkataan Ara, langsung melemparkan tubuh Ara dengan pelan, ke atas ranjang tidurnya, kemudian segera membuka kemejanya.


“Iya, kita main kuda-kudaan, ya?” ucap Morgan yang kelihatannya juga memang sudah setengahnya dipengaruhi minuman beralkohol tadi.


Morgan menindih di atas dirinya yang sudah sangat kacau, karena mabuk.


Aku bingung, apa dia tidak kuat minum? Pikir Morgan.


“Eheh ....” Ara hanya cengengesan saja sembari memejamkan mata.


Morgan melihatnya dengan tatapan miris.


“Kapan main kuda-kudaannya? Tadi kan nda jadi, kenapa sih permainin gue di saat gue mau?” lirih Ara tanpa ekspresi, membuat Morgan sadar dengan keadaan yang terjadi, sesaat sebelum permainan shochu dimulai.

__ADS_1


“Sadar, Ra,” ucap Morgan sembari menampar perlahan kedua pipinya, tapi Ara masih saja cengengesan.


“Kenapa sih, gue gak bisa bahagia? Selalu aja dipermainkan seperti ini.”


Ia mengucapkan perkataan yang melantur. Morgan masih saja memantau keadaannya itu.


Wajah mereka sangat dekat, karena Morgan yang sudah sedari tadi menindih di atas Ara.


“Maksud kamu apa?” tanya Morgan yang berusaha mempertegas ucapan Ara tadi, pikiran Morgan sudah terganggu sekarang.


“Eheh ... loe masih gak ngerti? Setelah semua yang loe lakuin sama gue, tapi loe malah nyakitin perasaan gue dengan cara kayak gini!” ucap Ara.


“Seperti apa, Ra? Siapa yang kamu maksud?” tanya Morgan yang masih tak paham.


Ara memelototi Morgan secara tiba-tiba.


“Siapa lagi kalau bukan dosen idiot itu!”


Morgan sontak terkejut, karena perkataan Ara yang ternyata ditujukan untuk dirinya.


Tiba-tiba saja Ara membuka kemejanya di hadapan Morgan. Morgan yang tersadar, jadi bingung sendiri dengan kelakuan Ara.


Terlihat bongkahan kenyal yang masih terbalut dengan Bra. Morgan tidak bisa berkata apa pun lagi, efek mabuk itu ternyata menggairahkan Morgan.


“Gue gak suka sama loe yang terlalu cuek sama gue!”


Morgan terdiam ketika Ara berkata semaunya seperti ini.


Baruku tahu perasaannya. Selama ini mungkin pikirku, dia suka orang yang cuek dan tidak bertingkah genit kepadanya. Ternyata semua itu kebalikannya. Tapi, apa aku bisa bertingkah lebih manis sedikit padanya? Aku tidak begitu ahli soal wanita, pikir Morgan.


“Cupppp ....”


Tiba-tiba Ara mengecup bibir Morgan, membuatnya kaget bukan kepalang. Di situasi mabuk seperti ini, Ara benar-benar kehilangan kendali.


“Gue juga gak suka kalau loe tiba-tiba cium gue, dan tiba-tiba pergi gitu aja ninggalin gue yang udah pasrah!” ucap Ara yang semakin melantur.

__ADS_1


Morgan hanya tidak ingin melakukan hal yang tidak Ara sukai. Morgan tidak akan memaksa Ara lagi jika dia tidak mau. Morgan hanya melihat Ara yang menyedihkan itu.


“Gue gak suka loe tarik ulur gue, gue gak suka loe bersikap baik sama cewe mana pun, gue gak suka loe ngedeketin gue padahal loe punya pacar, pokoknya gue gak suka apa pun tentang loe!” jelasnya dengan nada yang sudah teler.


Ternyata omongan asal Morgan membekas di hatinya. Ara mengira Morgan memang benar mempunyai pacar.


Morgan mendecap, “itu berarti ...,” ucap Morgan yang terpotong karena ragu.


Apa aku sudah tidak waras dengan mengajak ngobrol wanita yang sedang mabuk? Pikir Morgan.


“Satu lagi! Gue gak suka gaya bicara loe yang kepotong gitu!” tambahnya.


Morgan tersenyum kecil mendengar pernyataannya itu. Morgan masih terlalu dini untuk mengakui perasaannya pada Ara. Ada beberapa hal yang harus ia jaga.


Apa saja? Kejutan dong ....


Hehe.


“Itu berarti, kamu suka sama saya?” tanya Morgan dengan spontan, tapi Ara malah memejamkan matanya.


“Gak tau!” jawab Ara dengan asal.


‘Astaga! Dalam keadaan seperti ini pun, dia masih bisa membuatku kesal. Apa sulitnya sih, untuk berbicara terus terang?’ batin Morgan yang mendadak geram dengan Ara.


Menyadari dengan keadaan Ara yang sudah sangat berantakan ini, Morgan menjadi lebih terangsang, jantungnya terpacu sehingga membuat Morgan merasa tidak kuat menahannya.


Morgan kembali menatap Ara dengan tatapan yang dalam, ia mengulurkan tangannya dan mengusap wajah Ara dengan penuh kelembutan, “hmm ... apa boleh, malam ini saya tidur dan menikmati malam bersama kamu?” tanya Morgan, yang sudah sedikit terangsang padanya.


Apa salahnya aku memanfaatkan situasi yang jarang seperti ini? Pikir Morgan.


Bagaikan seekor kucing yang melihat ikan, pasti akan langsung ia sambar.


Ara mendadak mebulatkan matanya ke arah Morgan, “apa boleh buat? Kita gak cuma satu kali ngelakuin ini bareng,” lirih Ara yang memang sudah tidak memiliki fondasi lagi di dalam dirinya.


Ara sudah benar-benar lepas kendali.

__ADS_1


__ADS_2