Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Piyama


__ADS_3

Ara sangat lelah karena habis bertempur dengan Morgan, membuatnya sampai tertidur lelap.


Beberapa waktu berlalu. Kini, energinya sudah kembali pulih. Perlahan Ara membuka matanya. Tubuhnya masih terasa sangat berat, karena Morgan yang tidak memberikannya ampun sedikit pun. Kepalanya sampai terasa sangat pusing, akibat terlalu keras Morgan memperlakukannya tadi.


Ara memegang kepalanya, ‘duh ... sakit banget,’ batin Ara.


Ara melihat ke arah Morgan, yang berada di sampingnya. Ara masih melihat Morgan yang masih bertelanjang dada, dan hanya terbalut dengan sehelai selimut. Begitu juga dirinya saat ini.


Ara melepaskan tangan Morgan yang masih berada melingkar di perutnya. Ia melangkah dengan pelan, untuk mengambil pakaian barunya dari dalam lemari, karena piyamahnya yang telah rusak, akibat keganasan Morgan tadi.


‘Harus beli piyama lagi,’ batin Ara, yang melihat piyamanya yang benar-benar sudah ludes tak tersisa, karena masih kotor.


Ara beranjak dari kamarnya, dan segera menuju ke arah dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan.


“Aku makan apa, ya?” lirih Ara, yang masih setengah sadar dengan keadaannya, yang baru saja bangun dari tidurnya.


Ara tak sengaja melihat nasi goreng yang Morgan buatkan untuknya, sudah habis tak bersisa.


Mungkin Morgan kelaparan setelah bersenang-senang denganku tadi, pikir Ara.


Ara membuka pintu lemari pendingin. Di sana, sudah tersedia berbagai makanan cepat saji seperti nuget, sosis, bakso, telur, dan lain sebagainya.


Ara tidak terlalu baik dalam hal memasak. Tapi mungkin, ia bisa memasak makanan cepat saji seperti ini. Ia juga tidak perlu repot-repot mengeluarkan banyak tenaga.


Ia mengambil semua bahan itu dan menyalakan kompor.


Sembari menunggu minyak mendidih, Ara memotong-motong sosis dan yang lainnya.


Ara tidak terlalu suka bentuk yang terlalu besar, karena itu akan sulit untuk dicerna.


Setelah minyaknya panas, ia lalu memasukkan perlahan seluruh bahan makanan yang sudah ia potong-potong.


Setelah warnanya kecoklatan, Ara pun mengangkat semuanya dan meletakkannya di atas piring yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Ara mengambil nasi dari dalam penanak nasi.


‘Untung aja Morgan udah masak nasi,’ batin Ara merasa lega.


Ara menyediakan dua piring, untuknya dan juga untuk Morgan.


Ia tahu, Morgan pasti sangat kelaparan setelah bersenang-senang tadi.


Ara menata semua yang sudah ia siapkan di atas meja makan. Bekas makanan semalam sepertinya sudah di rapikan oleh Morgan. Tapi, Morgan belum mencuci piringnya.

__ADS_1


Ara menganga kaget, karena melihat ke arah piring kotor yang sudah menggunung itu, “baiklah, nanti ya, makan dulu laper,” lirih Ara pada piring-piring kotor itu.


Ara meletakkan semuanya di atas meja yang sama. Ara memandang ke arah makanan yang sudah ia sajikan, “siap,” lirih Ara.


“Tinggal bangunin Morgan,” lirih Ara teriring senyumannya.


Ara menuju ke dalam kamar untuk membangunkan Morgan.


Sesampainya di sana, Ara langsung melihat ke arah jam dinding. Ternyata, saat ini sudah pukul lima sore, dan mereka belum sempat makan siang karena terlalu lelah bercinta.


Ara mendekati ke arah Morgan. Ia duduk di pinggir ranjang, dan mengelus pipinya yang mulai ditumbuhi kumis dan jenggot itu.


“Gan ... bangun. Makan dulu yuk,” ucap Ara dengan nada selembut mungkin.


Sebenarnya, aku tidak tega membangunkannya, tapi ia harus bangun dan makan karena ini sudah sangat larut untuk makan siang, pikir Ara.


“Engh ....”


Morgan perlahan membuka matanya. Ia melihat ke arah tangan Ara yang masih berada di pipinya.


Ara merasa sangat malu, karena tatapan mata Morgan yang membuat Ara menjadi kaku. Langsung saja ia menarik tangannya dari wajah Morgan.


‘Sial, masih aja malu sama dia,’ batin Ara yang tidak bisa menahan rasa malunya terhadap Morgan.


“Happ ....”


Melihat Morgan yang menarik tangannya, Ara merasa malu dengannya.


“Tetap seperti ini,” lirih Morgan membuat hati Ara tersentuh.


Morgan sangat lembut kali ini. Ia sama sekali tidak mengacuhkan diriku seperti biasanya. Ia bersikap seolah-olah adalah pacar yang sangat baik, pikir Ara.


Tak sadar Ara tersenyum, lalu menunduk karena malu dengan Morgan.


“Jadi mau ronde empat,” lirih Morgan tanpa membuka matanya, membuat Ara mendelik kaget mendengar perkataannya.


...***...


Ara dan Morgan sudah berada di meja makan saat ini. Ara menuangkan segelas air dingin ke dalam gelas Morgan, dan juga ke dalam gelasnya. Ara pun meminumnya perlahan.


“Fla nelepon saya terus dari semalam. Kenapa ya dia?” tanya Morgan.


Ara jadi teringat tentang Fla. Ara mungkin saja membuat Fla khawatir dengan keadaan kakaknya ini.

__ADS_1


Ara terkejut saat sedang menenggak air minumnya. Ara mengusap air minum yang berceceran di dagunya, kemudian meletakkan gelas itu di atas meja makan.


“Mungkin dia khawatir sama kamu. Kamu kan gak pulang malam tadi,” jawab Ara.


Morgan mulai mengunyah makanannya.


“Nanti saya pasti kasih kabar ke dia,” lirih Morgan yang tidak terdengar begitu jelas, karena sedang mengunyah makanannya.


Ara hanya mengangguk kecil mendengar ucapan Morgan yang tidak jelas itu.


Ara melirik ke arahnya, “jadi, gimana hari ini? Kamu diomelin gak, karena gak masuk kerja di saat terakhir ngasih materi pelajaran?” tanya Ara.


Morgan meletakkan garpu dan sendok di atas piringnya. Sepertinya, ia sudah menyelesaikan makanannya.


“Ya, mungkin saja iya,” jawabnya.


Ara hanya mengangguk kecil.


“Seharusnya mah tadi kamu kerja aja ...,” lirih Ara, membuat Morgan membuang pandangannya.


“Saya mana bisa nahan godaan dan pesona kamu,” lirih Morgan yang terlihat melengos, sembari menyembunyikan wajahnya yang mulai bersemu merah di sana.


Jantung Ara langsung berdegup kencang, sesaat setelah Morgan berkata demikian. Ara memalingkan wajahnya mengikuti Morgan.


Ara masih saja merasa malu ketika Morgan tidak sengaja memujinya.


Aku dengannya, sudah seperti orang yang baru berpacaran saja, pikir Ara.


“Drrrttt ....”


Handphone Ara tiba-tiba saja bergetar. Seseorang telah mengirimkan pesan singkat kepadanya.


Ara hanya memandang penasaran ke arah handphone-nya itu, tanpa ingin membukanya. Ia masih memikirkan perasaan Morgan. Jika saja itu adalah pesan dari Bisma.


Biar saja dia yang melihat isi pesanku, pikir Ara.


Morgan mengambil roti isi yang ada di hadapannya, “buka aja,” ucapnya, sembari memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


Awalnya Ara memang sangat ragu untuk membuka pesan itu. Tapi, Morgan sudah memberikan izin kepadanya.


‘Duh ... kalau yang ngirim pesan si Bisma, gimana?’ batin Ara yang saat ini berada dalam keresahan.


‘Tapi penasaran, coy,’ batin Ara, yang memang tidak bisa menghindari rasa penasarannya.

__ADS_1


Akhirnya, Ara melihat isi dalam pesan itu. Ada beberapa pesan dari grup, dan beberapa pesan pribadi.


__ADS_2