
"Saya masih belum bisa mengerti. Bagaimana bisa kamu meyakinkan Ara dengan hanya beberapa jam saja?" tanya Arash, membuat Ilham tertawa kecil mendengarnya.
"Pertama, saya harus claim ongkos bensin dan harga satu ember es krim yang Ara makan tadi," goda Ilham, membuat Arash merasa tersindir.
"Tenang, buat form rembesment aja di kantor. Nanti saya tanda tangani," timpal Arash, yang mampu memecahkan suasana, agar tidak terlalu serius.
"Sikap Ara bagai batu. Keras, sampai gunting rumput seperti kamu pun tidak cukup kuat untuk melawannya. Siasat untuk melawannya, dengan cara menjadi air. Ikuti arus, dan kamu akan menang. Seiring berjalannya waktu, batu yang keras itu pun akan lapuk dengan sendirinya, dan memecahkan batu yang sangat keras tadi," jelas Ilham dengan analoginya yang selalu mampu membuat pikiran siapa pun menjadi terbuka lebar.
Kali ini, ucapan Ilham mampu membuat Arash membuka pikirannya. Ilham selalu memperhatikan keadaan dengan saksama, membuatnya bisa mengerti arus yang akan ia tempuh. Tidak melawan arus, karena itu hanya akan membuat batu itu semakin keras. Sesekali ikuti arus air, tapi jangan sampai terlalu hanyut karenanya.
Arash meremas pelan rambutnya, membuatnya tidak bisa lagi berpikir.
"Memang saya tidak pantas menjadi seorang kakak," lirih Arash yang terdengar nada keputusasaan darinya.
Ilham menggeleng kecil, "justru kamu adalah kakak yang hebat versi saya. Entahlah, mungkin karena saya yang tidak mempunyai adik, jadi merasa kalau kamu itu hebat di mata saya," lirih Ilham, membuat pandangan Arash semakin terbuka.
Arash merasa malu pada Ilham, yang memang tidak mempunyai siapa-siapa sejak ia masih kecil. Ayahnya selalu sibuk bekerja, membuatnya hanya sendiri, tanpa tahu rasanya menjadi seorang kakak yang harus melindungi adik-adiknya.
Arash merenungkan diri, 'harusnya saya lebih bersyukur. Karena walaupun saya sudah tidak mempunyai orang tua, setidaknya saya masih mempunyai kedua adik yang masih harus saya jaga,' batin Arash yang semakin mellow dibuatnya.
...***...
Saat ini, Arash sudah sampai di sebuah hotel, tempat dirinya akan bertemu dengan Fla. Arash memilih bertemu di hotel, karena agar bisa mengobrol lebih leluasa di dalam meeting room.
Arash mengenakan pakaian formal, agar menyesuaikan dengan tempat yang ia pilih untuk bertemu dengan Fla.
Arash sudah sampai pada meeting room yang ia pesan, dan segera menempati ruangan.
Saat ini, Arash sudah duduk di sebuah kursi. Sembari menunggu Fla sampai, Arash sengaja melihat-lihat handphone-nya.
Di sana, Fla yang baru tiba di lobi, segera mencari keberadaan Arash saat ini.
Fla bertanya pada resepsionis hotel yang sedang berjaga di sana.
__ADS_1
"Permisi, Mbak, mau tanya ruangan meeting atas nama Arash, di sebelah mana, ya?" tanya Fla.
"Oh, di lantai 15 ya kak, di sana ada dua ruangan, kakak ambil yang sebelah kiri," jawab resepsionis itu dengan sangat ramah, membuat Fla tersenyum ke arahnya.
"Terima kasih, Mbak," lirih Fla.
Tanpa basa-basi, Fla yang saat itu memakai gaun sepanjang lututnya, dengan riasan make up yang sangat tipis, tak lupa membawa tas genggam dan hadiah untuk Arash, segera melangkah menuju lift.
Langkahnya kecil, karena kesulitan memakai high heels setinggi 5 cm.
Arash beberapa kali menoleh ke arah jam tangannya. Tapi, orang yang ia tunggu belum juga datang.
"Kemana sih nih? Untung aja tadi udah sempat makan, kalau engga ya lumayan laper juga," gumam Arash yang sedari tadi tidak sabar, menunggu Fla yang belum kunjung datang juga.
Ya, pasalnya Arash memang tipe pria yang tidak sabaran. Tidak mau menunggu, dan tidak mau membuat orang lain menunggu. Berbeda sekali dengan karakter orang pribumi, yang selalu ngaret setiap membuat janji.
Termasuk othor, hihi.
Karena langkahnya yang kecil, Fla jadi tertinggal lift yang baru ia lihat baru saja tertutup, membuatnya mendelik karena kesal.
Fla berusaha mempercepat langkahnya, agar ia bisa segera sampai di lokasi.
Sesampainya di depan lift, Fla segera menekan-nekan tombol panah atas secara cepat, berharap tidak ada yang menggunakan lift lagi, supaya ia bisa cepat sampai di lantai 15.
Lampu yang menyala merah di atas pintu lift menunjukkan angka 5. Tiba-tiba saja angka itu berganti menjadi 4, membuat Fla kegirangan.
"Yes, akhirnya ...," lirih Fla.
Tak lama, pintu lift pun terbuka, membuatnya segera masuk ke dalam lift.
Arash masih saja berkutik pada handphone-nya, membuatnya semakin kesal karena sudah satu jam berlalu, ia masih tetap setia menunggu Fla di sana.
"Huft ...."
__ADS_1
"Harusnya saya ketemu di kafe kecil aja tadi," gumam Arash dengan nada yang sangat malas.
"Ckrekk ...."
Pintu terbuka tiba-tiba, membuat Arash melihat siapa yang datang dari balik pintu.
Matanya membulat sempurna, melihat sosok Fla yang malam ini terlihat sangat anggun, dengan gaun yang sangat cocok dipakai untuk anak seusianya. Mata Arash sampai tidak pernah berkedip, saking ia terkejutnya melihat Fla yang sudah ada di hadapannya saat ini.
"Kak Arash, maaf aku terlambat," sapa Fla, membuat Arash tersadar dari lamunannya.
"Sudah 1 jam saya menunggu," gumam Arash yang mengalihkan topik, supaya ia tidak terlihat seperti orang yang sedang terkesima.
Sebetulnya, Fla juga sedang menahan malunya di sana, namun, Fla berhasil menutupi itu semua dengan perasaan yang sangat tenang.
Arash pun bangkit, kemudian menghampiri Fla yang masih berdiri di dekat pintu masuk ruangan.
Arash lama-lama kian mendekat, membuat jantung Fla terasa terpompa dengan cepat. Apalagi, melihat style Arash yang sangat formal dan berkelas, membuatnya merasa semakin tidak pantas untuk Arash.
'Ya Tuhan, jantung gue,' batin Fla yang hampir saja tidak bisa mengendalikan dirinya kali ini.
Arash terlihat menyodorkan tangannya ke arah Fla, membuat Fla mendelik karena bingung. Alhasil, Fla hanya diam saja sembari memandangi tangan Arash.
Arash yang melihat reaksi Fla yang seperti orang terkejut, segera memberi kode untuk Fla supaya segera meraih tangannya.
Arash tidak bermaksud apa-apa terhadap Fla. Bagi Arash dan para pengusaha lain, hal itu lumrah dilakukan untuk menyambut seorang wanita yang baru saja datang ke perkumpulan.
Fla memang tidak pernah menghadiri perkumpulan semacam itu, membuatnya tidak paham dengan apa yang Arash maksudkan.
Karena merasa terlalu lama, Arash jadi meraih tangan Fla, spontan membuat Fla terkejut dengan hal manis yang Arash lakukan.
Arash membawanya ke arah meja makan, menarik kursi untuk Fla, kemudian membantunya untuk duduk.
Arash pun segera duduk pada tempatnya, di hadapan Fla.
__ADS_1
Bisa dibayangkan kondisi jantung Fla seperti apa?
'Oh my God! Dia manis banget sih ... kalau begini caranya, mana bisa gue menahan diri buat gak suka sama Kak Arash?' batin Fla, yang hanya diam dengan ekspresi yang datar, padahal di dalam hatinya ia sedang merasa kegirangan, karena Arash yang sudah melakukan hal romantis, menurut versi Fla.