
Entah mengapa, semakin Ara mengatakan sesuatu untuk menyangkal keadaan, semakin juga menambah kekesalan dan emosi Morgan saat ini.
Morgan mendelik ke arahnya, "Gue nggak butuh alasan apa pun," gumam Morgan dengan tegas padanya.
Duarrrrrrrrrrr
Ini adalah kali pertama Ara mendengar Morgan mengucap kata gue padanya.
Ara semakin menangis dengan kencang, tetapi Morgan sama sekali tidak memedulikannya kali ini.
Melihat situasi yang tidak kondusif sama sekali, membuat Dicky tidak bisa membiarkan Morgan berlama-lama di sini.
"Udah! Ayo kita pulang!" Dicky berusaha menyeret Morgan keluar dari rumah ini, tetapi Morgan dengan sisa tenaga yang ia miliki, berusaha untuk melawannya sekali lagi.
"Nggak, tunggu Dik!" ucap Morgan, membuat Dicky menghentikan langkahnya.
Morgan menatap tajam ke arah Ara. Ia pun menghampiri Ara, dan bersimpuh di hadapannya.
"Arasha ...," pekik Morgan yang berusaha sekuat mungkin untuk menahan perasaan kesalnya terhadap gadis yang ada di hadapannya.
Jangan sampai, aku menyentuh Ara sedikit pun dan membuatnya takut apa lagi sampai ia trauma, pikir Morgan yang masih berbaik hati menghadapi gadis itu.
Morgan menghela napas panjang, dan berusaha mempersiapkan diri untuk mengatakan semuanya.
"Kita putus saja," gumam Morgan.
Ara spontan melihat ke arah Morgan, dengan tatapan seperti orang yang tidak percaya.
Keheningan pun terjadi, sesaat setelah Morgan mengucapkan kata perpisahan pada Ara. Air mata Ara terus-menerus keluar, tetapi Ara hanya bisa memandangi Morgan saja, dan tidak bisa berkata apa pun.
"Jangan pernah kamu temui saya lagi," tambah Morgan kemudian segera bangkit dan meninggalkan mereka di sana.
Hidup Morgan sudah benar-benar hancur sekarang. Ia mungkin tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ara kembali. Namun, ini lebih baik untuk lebih mempercepat proses penyembuhan hatinya karena lukanya yang sudah terlalu dalam, dan lagi hal ini juga bisa membuat Morgan menyelesaikan pekerjaannya di Amerika, dengan tenang.
Hal ini juga sama seperti saat aku melihat Meygumi, yang sedang melakukan hal itu dengan laki-laki lain. Kini, hal itu juga terjadi pada Ara, pikir Morgan yang tak habis pikir dengan nasibnya.
Morgan meninggalkan Ara dengan mudahnya. Ara sudah sangat kacau saat ini. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menangis, meratapi setiap permasalahan yang terjadi beberapa saat lalu.
__ADS_1
Tangisnya pecah histeris, sesaat setelah Morgan meninggalkan ruangan ini.
Seseorang datang, kemudian memeluk Ara dengan sangat erat. Ara sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi. Hanya bisa menerima pelukan hangat dari orang ini saja.
"Kamu boleh menangis jika, kamu mau," ucapnya yang sangat Ara ketahui, itu adalah suara Dicky.
Dosen psikolog dan juga teman dari mantan pacarnya. Ara memeluknya erat, sampai tidak mau melepaskannya. Ia menangis di dalam pelukannya.
Aku sudah kehilangan semuanya! Aku sudah kehilangan kehormatanku, kehilangan cinta dan juga kehilangan dirinya yang sudah merebut semua itu dariku. Hidupku seketika menjadi hampa, pikir Ara yang sedang meratapi semua yang sudah ia lewati bersama Morgan.
Dicky selalu mengusap air mata Ara yang keluar. Ara merasa sudah gagal menjadi seorang wanita yang berkelas.
"Mana janji yang katanya nggak mau ninggalin gue?" teriak Ara dengan histeris.
Dicky mengelus rambut Ara, sambil sesekali mengecupnya. Kini, Ara merasa sudah sangat hancur, tak tahu lagi harus berbuat apa.
"Saya akan dengerin kamu cerita, jika kamu bersedia. Temui saya besok di kafe dekat kampus jam 11 siang," gumam Dicky dengan lirih, Ara pun mengangguk pasrah.
Kiranya dirasa cukup, Dicky pun menyudahi semuanya.
Dicky melirik ke arah Ilham yang masih terkapar di atas lantai, "Tapi sebelumnya, saya harus beresin dulu kekacauan ini," lirih Dicky.
Dicky langsung menggendong Ilham dan membaringkannya di atas sofa. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Dicky pun memandang ke arah Ara.
"Sampai jumpa," lirihnya, membuat Ara mengangguk kecil ke arahnya.
Dicky pun meninggalkan Ara sendirian di sana, membuatnya semakin bertambah kacau karena kepergian Dicky dari sisinya saat ini.
Ara masih saja merenungi nasibnya. Ia masih belum bisa bangkit dari tempatnya.
Aku tak menyangka, kejadian ini bisa sampai membuat hubunganku dan Morgan menjadi berantakan. Mungkin dari sudut pandang Morgan, terlihat sudut pandang yang salah karena Ilham yang membelakanginya, membuat wajahku tertutup dengan kepala Ilham, pikir Ara yang masih tidak terima dengan kenyataan yang sudah membuatnya sakit hati.
Ara melangkah menuju ke arah kamar mandi. Ia membuka pintu kamar mandi dengan lemas.
"Srakk ...."
Ia membuka keran air, dan membiarkan air yang mengalir itu mengenai sekujur tubuhnya. Ia meremas keras rambutnya, hingga beberapa helai rambutnya menjadi rontok, karena tak kuasa menahan tarikan yang lumayan keras itu.
__ADS_1
"Brukk ...."
Ara terduduk lemas di atas lantai kamar mandi. Kejadian ini membuat dirinya tidak bisa merasakan apa pun lagi.
Seperti mati lampu, ehh ... mati rasa.
Ara membiarkan air itu menguyur habis tubuhnya, meskipun suasana malam ini sudah sangat dingin.
Setelah selesai membasuh tubuhnya, Ara pun bersiap untuk mengeringkannya, dan segera memakai baju tidur yang ia ambil.
Ara melangkah, merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. Hidupnya sudah sangat hancur saat ini.
Dia sudah mengambil semuanya, dan sekarang dia pergi dengan mudahnya, pikir Ara.
Ara merasa tak sanggup menahan air matanya. Seketika tetesan demi tetesan pun keluar, dan membanjiri pipinya. Ia bahkan tidak berani melihat dirinya di cermin sekarang. Pasti lebih mirip dengan zombie.
Ara memeluk guling yang sedang ia pegang.
Rasanya tidak lebih nyaman dari pelukan Morgan, pikir Ara.
Ia merenungi nasibnya kali ini. Hanya bisa memandang langit-langit kamarnya yang remang.
Kenapa semua terjadi? Kenapa semua berlalu begitu cepat? Di saat aku sudah mulai menerima Morgan di hatiku, tapi kejadian tak terduga ini malah datang dan menghancurkan semuanya. Andai tadi aku tidak menyuruh Ilham untuk menginap di sini. Andai Morgan tidak datang. Andai saja semuanya tidak terjadi, pikir Ara yang menyesali semua perbuatannya.
Ara sudah menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Ternyata, dirinya jatuh cinta pada orang yang salah.
Air mata terus-menerus berjatuhan, membasahi setiap sisi bantal yang merupakan tempat bersandarnya itu.
Seharusnya aku tidak bertindak gegabah dan tidak menerima Morgan secepat ini. Semua yang Morgan lakukan sudah cukup membuat diriku menjadi gila, pikir Ara yang menyesali perasaannya terhadap Morgan.
Rasa sakit yang ia rasakan saat menjalin hubungan bersama Reza, kini harus ia rasakan juga bersama Morgan.
Memang seperti itu hukum dalam mencintai. Akan ada datang dan pergi di setiap hubungan.
Seketika guling yang Ara peluk menjadi basah, karena air matanya. Ara tak pernah berpikir akan merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya. Namun, kini Ara merasakannya kembali.
...***...
__ADS_1