Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Jaga Diri Baik-baik


__ADS_3

Morgan memandang ke arah Ara, yang wajahnya sama sekali tak terlihat itu, "saya gak tahu kenapa sikap kamu berubah. Saya cuma minta, kamu jaga diri baik-baik," lirih Morgan terdengar sendu.


Ara mendelik, dan seketika butiran air mata berjatuhan di atas bantal tempat ia menyandarkan kepalanya itu. Entah kenapa, Ara merasa ucapan Morgan mengandung banyak arti, yang Ara sendiri tidak tahu jelas apa sebenarnya arti dari ucapan Morgan itu.


Morgan meletakkan tangannya pada pundak Ara, dan mengelusnya sesekali, "saya harus pergi," gumam Morgan dengan lembut, kemudian mengelus puncak kepala Ara.


Morgan menatap Ara dengan sendu, 'jangan rindu, ya?' batin Morgan yang berusaha menguatkan dirinya.


Morgan pun menunduk, tak mau membuat air matanya keluar dari pelupuknya, aku harus bisa meredam, pikir Morgan yang berusaha kuat untuk menahan gejolak kesedihannya yang saat ini melandanya.


Morgan perlahan pergi dari kamar Ara, tak ingin membangunkan Ara yang ia pikir sudah tertidur dengan pulas. Tapi pada kenyataannya, Ara sama sekali tidak tidur, bahkan ia juga mendengar ucapan Morgan.


"Ckreekk ...."


Pintu kamar sudah tertutup, membuat Ara perlahan menoleh ke arah pintu kamarnya.


Ara merasa sangat sedih mendengar ucapan Morgan. Padahal, ia sama sekali tidak ada permasalahan apa pun dengan Morgan. Yang ia permasalahkan adalah perasaannya pada Reza, yang tiba-tiba saja muncul kembali, hanya karena Morgan mengambil foto dirinya secara diam-diam, seperti yang Reza lakukan kala itu.


"Sia-sia selama ini aku ngelupain dia," gumam Ara lirih, membuatnya kesal dengan dirinya sendiri.


...***...


Pagi ini, adalah pagi pertama Ares masuk ke sekolah barunya. Ia dan Arash berjalan penuh dengan rasa semangat yang tinggi, karena Arash yang baru saja mengantarkan Ares ke sekolah, di hari pertamanya masuk.


"Wah ... sekolahnya ternyata bagus banget," gumam Ares, sembari melihat-lihat sekeliling sekolah, tempat dirinya kini menimba ilmu.


Arash menoleh ke arahnya, "pasti dong. Makanya, Ares jangan sia-siakan kesempatan ini, ya?" ucap Arash membuat Ares tersenyum dan mengangguk kecil.


Ares menghentikan langkahnya sejenak, karena melihat kelas yang cukup menarik baginya. Ia melihat ke dalam kelas itu, seketika matanya membulat karena melihat seseorang yang tak asing baginya.


'Ini dia yang aku cari,' batin Ares mendelik ke arah yang ia lihat.


...***...

__ADS_1


Ada perubahan yang signifikan dengan sikap Ara saat ini. Setelah mengantarkan Ara pulang ke rumahnya, Morgan pun bergegas menuju ke arah kampus, tempat dirinya bekerja untuk memenuhi pertemuan dengan Prof. Handoko dan membahas tentang akhir semester kali ini.


Saat ini, Morgan sudah sampai di parkiran kampus.


"Brakkk ...."


Ia menutup pintu mobilnya dengan lumayan kencang.


"Kruukkk ...."


Suara perut Morgan terdengar lumayan jelas, membuat Morgan mendelik. Ternyata, ia kelaparan sekarang.


"Duh ... lapar banget rasanya," gumam Morgan, sembari mengelus perutnya.


Berhubung pertemuan itu belum dimulai, Morgan masih mempunyai kesempatan untuk sekadar bersantai, dan sekadar mengisi perutnya yang sudah keroncongan itu.


Morgan berjalan gontai menuju ke arah kantin, dengan menenteng sebuah tas yang berada di tangan kirinya. Penampilan Morgan saat ini sudah rapi, dengan memakai jas hitam dan juga kemeja berwarna ungu. Tak lupa juga ia memakai dasi yang senada dengan warna kemejanya.


Karena keadaan perutnya yang cukup lapar, Morgan pun mencari tempat duduk dan juga melihat ke arah orang yang menjual siomay. Ia melambaikan tangannya ke arah penjual itu. Dia yang menyadari kedatangan Morgan, langsung mengangguk dan terlihat mengambil selembar kertas menu lalu ia pun menghampiri keberadaan Morgan.


"Eh Pak Morgan, udah lama nggak kelihatan, Pak," sapa penjual siomay langganan Morgan, sembari memberikan selembar menu makanan.


Morgan pun menerimanya, dan membaca daftar menu makanan dan minuman yang dijual olehnya, selain siomay.


"Iya mang. Kebetulan saya baru balik dari Jepang kemarin," jawab Morgan, tanpa melihat ke arahnya.


Morgan hanya fokus pada selembar kertas menu yang ia pegang saat ini.


"Wah Pak Morgan hebat. Jalan-jalan mulu kerjaannya. Jadi pengen ke Jepang," ucapnya.


Spontan Morgan pun langsung melihatnya dan tersenyum tipis.


"Nggak kok, mang. Kemarin saya ke Jepang untuk menjenguk kerabat yang sakit," tepis Morgan, ia hanya ber-oh-ria.

__ADS_1


Morgan jadi teringat sesuatu.


"Oh ya sebentar ...."


Morgan merogoh tasnya untuk mengambil beberapa pernak-pernik yang sudah ia beli kemarin bersama dengan Ara. Morgan memang sudah berniat untuk membagikan sedikit oleh-oleh kepada semua teman-teman dosen dan juga para UMKM yang ada di kampus ini.


Ketika sudah menemukannya, Morgan pun langsung menyodorkannya ke arah penjual siomay itu.


"Ini mang, ada sedikit oleh-oleh yang saya beli dari Jepang kemarin. Tolong dibagikan ya mang untuk semua UMKM yang berjualan di kantin kampus ini. Ya walaupun cuma sekadar gantungan kunci," ucapnya sembari memberikan satu plastik pernak-pernik pada penjual siomay itu.


Ia terlihat sangat senang saat menerimanya.


"Wah Pak Morgan baik banget. Makasih banyak, Pak Morgan. Mudah-mudahan sukses selalu! Pasti nanti saya sampaikan kok kepada semuanya."


Morgan tersenyum, "iya mang sama-sama. Oh ya, saya pesan siomay dan jus alpukat. Gak pake lama ya mang."


"Siap, Pak Morgan. Tapi Pak Morgan, ngomong-ngomong waktu itu cewek yang diam-diam beli siomay padahal gak boleh jajan sembarangan, kayaknya deket banget ya sama Pak Morgan?" singgungnya, membuat Morgan tersenyum tipis ke arahnya.


"Nggak kok, perasaan mamang aja kali," tepis Morgan yang menutupi semua kebenarannya.


Aku tidak mau sampai ada gosip yang tidak-tidak di kampus ini. Aku lebih baik menutupi dulu semuanya, pikir Morgan.


"Tetapi bener kok deket banget kelihatannya. Apa jangan-jangan, Pak Morgan sama dia--"


"Gan!" pekik seseorang dari belakang Morgan, yang spontan membuat Morgan menoleh ke arahnya.


Terlihat Dicky yang memakai jas hitam rapi, beserta kemeja lengkap dengan dasinya. Tak lupa ia membawa tas yang ia tenteng di sebelah kirinya. Ia berlari agak cepat menghampiri posisi Morgan berada. Ia duduk di samping Morgan, dan meletakkan tasnya di atas meja.


"Saya cari dari tadi, ternyata kamu ada di sini," ucapnya yang terdengar masih dengan napas yang terengah-engah.


Morgan mengernyitkan dahi kearahnya, "ada apa nyariin saya?" tanya Morgan yang heran, karena mendengar Dicky yang sedari tadi mencarinya.


Dicky tak menghiraukan pertanyaan Morgan, dan malah menoleh ke arah penjual siomay, "eh kebetulan mang. Pesen siomaynya dong satu porsi, terus minumnya jus mangga ya. Tambahin juga air mineral 2 botol," ucap Dicky yang mengalihkan pandangannya ke arah penjual siomay itu.

__ADS_1


__ADS_2