Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Melangkah


__ADS_3

Saat ini, Ray, Fla dan Ilham sedang duduk di ruang tamu rumah Ara. Mereka membiarkan Ara beristirahat, sembari berbincang hangat.


"Kak, gimana bisa sih Ara jadi sakit begini? Apa karena dia terlalu frustrasi, karena ditinggal kak Morgan?" tanya Fla, membuat Ilham terdiam sejenak.


"Entah. Mungkin karena terlalu lelah menangis, dan terlambat makan. Ara gak bisa kalau terlambat makan, karena dia punya penyakit lambung," jawab Ilham, membuat Fla dan Ray mengangguk kecil.


"Kak Ilham tapi udah bawa Ara berobat, kan?" tanya Fla meyakinkan dirinya.


"Sudah," jawab Ilham, membuat Fla dan Ray mengangguk kecil.


Ray melirik ke arah jam tangannya, kemudian menatap ke arah Fla, "Fla, gue cabut, ya?" ucap Ray, membuat Fla mengalihkan pandangannya ke arah Ray.


"Buru-buru banget, memangnya ada urusan?" tanya Fla.


"Gue ... harus ketemu teman," jawab Ray, membuat Fla memandangnya dengan heran.


"Oke deh," gumam Fla.


"Loe ... gak apa-apa kan gue tinggal? Nanti pulang mau gue jemput lagi?" tanya Ray, membuat Fla tersenyum.


"Gak apa-apa, nanti gue pulang dianter kak Arash," ujar Fla, membuat Ray tersenyum.


"Oke deh, gue pulang dulu, Fla, Kak Ilham! Salam buat Ara," pamit Ray, membuat Fla mengacungkan ibu jari ke arahnya.


Setelah beberapa waktu Fla, Ray dan Ilham menemani Ara yang sedang terbaring lemas, Ray pun akhirnya pamit untuk pulang.


Kini, hanya tinggal Fla dan Ilham saja yang berada di ruangan tamu itu.


Fla menatap ke arah Ilham, "Kak Ilham masih lama kan di sini?" tanya Fla.


"Ya. Nunggu Arash pulang dulu, baru Kakak pulang," jawab Ilham, membuat Fla mengangguk kecil.


"Sebentar lagi kok ... Arash pulang," gumam Ilham.


"Teng ... nong ...."


Seseorang menekan bel rumah Arash, membuat Ilham dan Fla saling melempar pandangannya.


"Biar aku aja yang buka," gumam Fla, membuat Ilham mengangguk setuju dengannya.


Fla beranjak, dan segera membuka pintu rumah untuk mempersilakan tamu masuk.

__ADS_1


"Cklekk ...."


Ia membuka pintu, dan pemandangan yang ia lihat adalah Arash, dan juga Ares yang ternyata sudah pulang dari kunjungan ke rumah Bunga.


"Eh ... ada kamu," gumam Arash yang terkejut melihat Fla yang berdiri di hadapannya saat ini.


"Tadi siang aku mampir ke sini bareng Ray. Aku khawatir sama Ara," ucap Fla, membuat Arash mengerenyitkan dahinya.


"Sama Ray? Pegang-pegangan gak pas di motor?" tanya Arash yang menyelidiki kekasihnya itu.


"Pelukan malah," jawab Fla yang dengan sengaja mengatakannya, karena ingin melihat ekspresi Arash yang cemburu dengannya.


Arash melontarkan senyuman ke arah Fla, "Oh ...," gumam Arash, yang kemudian melangkah masuk bergandengan dengan Ares.


Fla pun menutup kembali pintu rumahnya, dan mengikuti langkah Arash.


"Kakak gak marah?" tanya Fla, dengan usilnya.


Arash memandang ke arahnya, "Kenapa harus marah?" tanya Arash balik, membuat Fla menyeringai ke arahnya.


Arash menatap ke arah Ilham, yang sedang berkemas.


"Lho, mau ke mana, Ham?" tanya Arash yang baru saja tiba di ruang tamu.


Arash dan yang lainnya pun duduk di sofa.


"Saya mau pulang, besok kan ... harus kerja juga," jawab Ilham dengan pertanyaan Arash yang tadi.


"Karyawan teladan," gumam Arash, membuat Ilham tersenyum tipis ke arahnya.


"Emm ... tapi ada yang ingin saya bicarakan sama kamu, Rash," gumam Ilham, membuat Arash seketika terdiam.


Fla yang sadar dengan ucapan Ilham, membuatnya menoleh ke arah Ares, "Ares ... kita ke kamar kak Ara, yuk," ajak Fla, membuat Ares tersenyum.


"Ayo kak," ucap Ares, yang lalu menyambar tangan Fla dengan segera.


Fla menoleh ke arah Arash, "Aku sama Ares ke kamar Ara dulu, ya," ucap Fla, yang mendapat anggukan dari Arash.


Mereka pun pergi meninggalkan Arash dan Ilham di sana.


Suasana nampak terasa canggung, karena Ilham yang mendadak down ketika berhadapan dengan Arash.

__ADS_1


"Ehmm ...," Arash berdeham, membuat Ilham tersadar dari lamunannya.


"Ada yang ingin kamu sampaikan, Ham?" tanya Arash, membuat Ilham menjadi panik seketika.


Suasananya memang agak tegang, karena Ilham yang ingin sekali mengutarakan maksud dan tujuannya mengenai pernikahannya dengan Ara. Ilham ingin sekali meminta izin pada Arash.


"Emm ... ya, ada yang ingin saya sampaikan sama kamu," gumam Ilham, yang berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Ini adalah kali pertama Ilham meminta izin pada wali dari gadis yang sangat ia cinta itu. Berbeda saat Ilham meminta izin untuk mendekati Ara, seperti waktu itu.


"Glekk ...."


Ilham tak sengaja menelan salivanya dengan kasar, membuat Arash mendadak menjadi tegang, karena mungkin ada hal penting yang akan Ilham sampaikan padanya.


"Ada apa, sih? Kok tegang banget jadinya?" tanya Arash, membuat Ilham semakin tegang saja dibuatnya.


Ilham kembali menghela napasnya, "Saya ... mau bicara soal ...." Ilham mendadak gemetar, dan kelu seketika.


Ia sepertinya sangat sulit untuk mengungkapkan hal ini.


Arash mengerenyitkan dahinya, "Ih ... ada apa, sih? Coba pelan-pelan bicara, biar saya bisa paham maksud kamu," ujar Arash, membuat Ilham menjadi tak enak dengannya.


'Bagaimana ini? Saya terlalu gugup untuk bicara,' batin Ilham, yang kebingungan untuk mengungkapkan isi hatinya pada Arash, yang sudah menunggunya bicara sejak tadi.


Ilham kembali berpikir, sudah kepalang tanggung seperti ini, masa iya tidak dilanjutkan? Saya sangat menantikan saat-saat bisa menikahi Ara.


Ilham menghela napasnya panjang, "Oke, saya akan bicara pelan-pelan. Tolong, jangan kaget mendengar ini, ya?" pinta Ilham, membuat Arash semakin tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Ya, silakan," gumam Arash yang sudah gemas dengan sikap Ilham.


Ilham kembali mempersiapkan dirinya, "Mengenai pertanyaan saya waktu itu ... apakah saya boleh mendekati Arasha?" tanya Ilham, membuat Arash kembali mengingat tentang pertanyaan Ilham waktu itu padanya.


"Oh, saya sampai lupa dengan hal itu. Bagi saya, selama Ara suka dan saya mengenal baik orang yang mendekati dia, it's okay, no problem untuk saya," jawab Arash, membuat Ilham agak lega mendengarnya.


"Syukurlah, kalau kamu gak mempermasalahkan mengenai ini," gumam Ilham, membuat Arash menghela napasnya dengan panjang.


Arash menunduk sendu, "Sebenarnya, saya masih belum bisa terima atas berakhirnya hubungan Ara dan Morgan. Saya masih terlalu kasihan dengan Ara. Ya ... tapi mau gimana lagi, mungkin belum jodohnya," gumam Arash, yang khawatir dengan keadaan adiknya itu.


Ilham pun menunduk sendu ketika mendengarnya.


"Sebenarnya, masih banyak hati di luar sana, yang sedang menunggu Arasha lepas dari Morgan. Termasuk juga ... saya," gumam Ilham sendu, membuat pikiran Arash menjadi terbuka.

__ADS_1


Ilham lantas menatap Arash dengan pandangan yang sangat mantap, "Rash, saya ingin meminta izin untuk menikahi Arasha."


__ADS_2