
Ara menatap ke arah Ilham dengan bingung, "Memangnya ada apa?" tanya Ara, yang berpura-pura tidak mengetahui tentang kejadian yang Ilham maksudkan.
Ilham menunduk sendu, karena ia berpikir kembali kalau dirinya ternyata sangat egois, jika melarang Ara untuk pergi ke kampus hari ini.
"Tidak apa-apa. Kamu bisa ke kampus kalau kamu mau ...," jawab Ilham dengan nada sendu, membuat Ara mendadak mellow mendengarnya.
Ara menatap Ilham dengan dalam, "Kamu ... cemburu?" tanya Ara, membuat Ilham seketika mendelik ke arahnya.
'Bilang kalau kamu cemburu. Paksa aku untuk gak masuk kampus hari ini!' batin Ara, yang ingin sekali tahu tentang perasaan yang Ilham pendam.
'Apa kesannya terlalu egois?' batin Ilham, yang berusaha menahan semua perasaannya.
Namun, melihat kejadian kemarin saat Morgan memeluk mesra Ara, membuat Ilham mendadak merasa kesal dengan yang ada di pikirannya.
Ilham mendelik, "Iya, saya cemburu melihat kamu sama Morgan berpelukan di hadapan saya kemarin!" ucap Ilham setengah berteriak di hadapan Ara, membuat Ara tersenyum mendengarnya.
Ara mengelus wajah Ilham dengan lembut, "Suamiku, terus jujur seperti ini, ya? Aku pengen lihat kamu jujur, dan gak ada yang kamu tutupin lagi dari aku," gumam Ara dengan sangat lembut, membuat Ilham mendelik kaget mendengar ucapan istrinya tersebut.
Ara merasa wajah Ilham menjadi lebih panas dari sebelumnya, membuat Ara menjadi penasaran dengan yang ada di pikiran Ilham saat ini.
Ilham tiba-tiba saja memeluk Ara dengan erat, membuat Ara seketika kaget dengan perlakuannya.
"Maaf, saya terlalu egois karena cemburu sama kamu dan dia. Sa-saya gak bermaksud--"
"Wajar kok. Namanya juga kamu suami aku," pangkas Ara, membuat Ilham terdiam mendelik.
'Saya suami dia ...,' batin Ilham, yang menanamkan mindset seperti itu di pikirannya, membuat dirinya menjadi lebih lega saat ini.
__ADS_1
Ilham sudah tidak perlu lagi khawatir seperti dulu, saat ia masih berjuang untuk mendekati Ara, yang masih bersama dengan Morgan.
Ilham melepaskan pelukannya, dan memandang dengan dalam istrinya yang sangat ia cintai itu. Tanpa bertanya, Ilham segera menyambar bibir Ara dengan sangat cepat, membuat Ara terkejut menyongsongnya.
Mereka benar-benar hanyut dengan gelora cinta yang tengah mereka rasakan. Ara sampai tak sanggup untuk menahan gejolak dalam dirinya.
Kecupan demi kecupan, kini berubah menjadi sebuah ******* yang mampu membuat mereka bergairah. Tangan Ilham selalu menyentuh area sensitif yang Ara miliki, pada bagaian leher dan telinganya, membuat Ara tersentuh dengan yang suaminya lakukan itu.
Lidahnya memaksa masuk ke dalam rongga mulut Ara, padahal tanpa memaksa pun, Ara juga pasti akan mempersilakan Ilham melakukannya. Karena tubuh Ara yang sudah terpojokkan oleh meja kerja Ilham, Ilham pun segera mengangkat tubuh Ara untuk duduk di atas meja kerja Ilham.
"Prangg!!"
Saking menggelora hati mereka, Ilham sampai tidak ingat ada gelas di atas meja kerjanya, yang ia pakai untuk meminum obat malam tadi. Alhasil, gelas tersebut menjadi pecah, hingga pecahan kacanya berserakan di atas lantai.
Mendengar suara sesuatu yang pecah, Morgan pun terkejut dan membuatnya bangun dari tidurnya. Ternyata karena kelelahan dalam perjalanan dari Amerika kemarin, disambung masuk bekerja, hingga membuntuti Ara ke kediamannya, membuat Morgan menjadi tertidur di mobilnya di pelataran kediaman Ara.
"Ara kenapa?" gumam Morgan yang terkejut mendengar pecahan gelas tersebut.
Karena merasa sudah tidak nyaman berada di antara pecahan kaca itu, Ilham pun segera mengangkat Ara untuk menuju ke atas ranjang. Ara sama sekali tidak memberontak dengan yang Ilham lakukan, karena dirinya yang memang juga menginginkan melakukan hal itu bersama Ilham.
"Brukk ...."
Ilham menjatuhkan tubuh Ara di atas ranjang, dan merangkak naik ke atas ranjangnya untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ara. Ciuman yang tiada henti, membuat Ara hampir saja kehabisan napasnya.
"Hosh ...."
Ara menghela napas panjang, berusaha meminta jeda pada Ilham yang sudah kalut dengan keadaan. Hidungnya kini sudah benar-benar tertutup oleh pipi Ilham, sehingga ia hampir saja kehabisan napas.
__ADS_1
Ilham melepaskan ciumannya pada Ara, membuat Ara sejenak mengatur napasnya yang tersengal. Ilham pun memandang istrinya dengan sangat bahagia.
"Maaf ya, sayang. Habisnya ... aku bersemangat sekali kali ini," gumam Ilham dengan malu, membuat Ara tersenyum mendengar ucapan suaminya.
"Iya," jawab Ara teriring senyuman.
Mereka pun melanjutkan adegan mesra mereka dengan sangat bergairah. Ini adalah kali kedua mereka melakukan hal ini bersama. Ilham membuka satu per satu kancing piyama Ara, tanpa ciuman yang ia lepaskan sedetik pun.
Ara pun tak tinggal diam, ia mengelus lembut jagoan Ilham yang masih terbalut dengan sehelai handuk, membuat Ilham semakin bertambah gairah padanya. Ilham mulai mengecup Ara turun hingga ke leher, berusaha menyesap semua sisi yang bibirnya jumpai, membuat Ara bergerak tak tentu arah, saking menikmati ia.
"Enghh ...."
Suara lenguhan indah Ara, selalu bisa memabukkan Ilham, membuat dirinya selalu ingin berlama-lama mendengarnya.
"Brukk ...."
Seseorang yang diketahui adalah Morgan, sudah masuk ke dalam kamar mereka. Suara gebrakan pintu, membuat Ara dan Ilham spontan menoleh ke arah sumber suara.
"Hah?" gumam mereka yang sama-sama terkejut melihat satu sama lain.
Ilham dengan segera menutupi dada Ara, menggunakan selimut yang berada di sekitar ranjang, agar Morgan tidak melihat tubuh Ara yang hanya dirinya saja yang boleh melihatnya.
Ilham pun bangkit dan menatap Morgan dengan sinis, "Ngapain kamu di sini?" tanya Ilham dengan sinis, membuat Morgan mendelik tak percaya melihat pemandangan yang baru saja ia lihat ini.
Ara mendelik kaget, saking terkejutnya ia melihat kehadiran Morgan di sini. Ara berusaha menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut yang Ilham lilitkan pada tubuhnya. Ilham pun dengan segera mengambil baju yang sudah ia siapkan di atas ranjang, sebelah Ara terbaring. Ia segera memakainya, paling tidak menutupi bagian pinggang ke atas untuk berhadapan dengan Morgan.
"Heh, ngapain di sini? Loe gila, ya? Masuk ke rumah orang gak pake permisi?" tanya sinis Ara, tetapi Morgan hanya bisa terdiam sendu menatap mereka yang sudah melakukan hal ini, lagi dan lagi di hadapan Morgan.
__ADS_1
Ilham sangat geram dengan tingkah Morgan yang benar-benar sudah sangat idiot itu. Ilham menarik kasar tangan Morgan, menjauhi Ara yang sudah berantakan akibat ulah Ilham itu.
Tanpa perlawanan, Morgan pun menurut dengan Ilham yang sudah menariknya menjauh dari Ara, membuat Ara kesal dengan sikap Morgan yang benar-benar sangat idiot di matanya.