
Mata Ara mendelik, karena melihat Bisma yang saat ini berada di hadapannya, sedang menaiki motor merah, yang tak asing baginya.
Ara terdiam sesaat, untuk memperhatikan penampilan Bisma saat ini. Penampilannya masih sama seperti dulu. Jaket denim dan juga celana jeans yang ia kenakan, mengingatkan Ara akan masa lalu yang telah mereka lewati.
Walaupun penampilannya tidak berubah, tetapi gaya rambut Bisma sekarang sudah sedikit berbeda dari sebelumnya.
Apa dia tidak bisa merawat diri di sana? Pikir Ara yang penasaran dengan keseharian Bisma di Amerika sana.
Ara memperhatikan kembali setiap sisi dari dirinya, wajar saja sih, dia tidak punya siapa-siapa di sana, pikir Ara.
Ara menghampirinya dan berdiri di hadapannya. Saking lamanya tidak bertemu, Ara sampai tak tahu harus berkata apa. Ia hanya diam, sembari mencuri-curi pandang padanya.
Bisma yang sadar akan kedatangan Ara, langsung saja melepaskan headset yang ia pakai.
"Hai," sapa Bisma, membuat Ara tersenyum tipis ke arahnya.
"Hai," gumam Ara yang menjawab sapaan dari Bisma.
Ara sengaja tidak berpenampilan mencolok saat ini, karena ia tidak mau sampai Bisma kepincut lagi dengannya.
"Apa kabar, Ra?" tanyanya dengan nada yang sangat kaku.
Ara memperhatikannya dengan saksama, sepertinya, dia juga terlihat sangat kaku saat berhadapan denganku lagi, pikir Ara.
Ara spontan memegang cincin yang diberikan oleh Bisma, sembari menafikan pandangannya. Ara sangat malu menatap Bisma kali ini. Rasanya sangat aneh baginya.
Aku sudah menemukan cincin yang Bisma berikan. Ternyata, aku menaruhnya di laci dekat lemari baju. Paling tidak, aku tidak membuatnya sakit dan bertanya-tanya di mana keberadaan cincin yang sudah ia berikan, pikir Ara dengan tenang.
Ara kembali memandangnya, "Gue baik kok, Bis. Gimana sama loe?" tanya Ara, sembari melontarkan senyum ke arahnya.
"Ya ... gue masih gini-gini aja, Ra. Gak ada perubahan," ucap Bisma.
Nadanya terdengar seperti sedang merendah. Ara mengernyitkan dahinya, pasti ada sesuatu yang terjadi padanya, pikir Ara.
Ara mengerenyitkan dahinya, "Loe kenapa? Kok kayak nggak biasanya sih?" tanya Ada.
__ADS_1
"Kita ngobrolnya di tempat lain aja, gimana?" tawar Bisma, membuat Ara mengangguk setuju.
"Yaudah, ayo naik," gumam Bisma sembari menyodorkan tangannya ke arah Ara.
Aku pun meraihnya dan segera menaiki motornya itu. Arw dan Bisma meninggalkan rumah.
Ara tak sengaja melihat samar, Ilham yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
Tatapannya ... aku tidak bisa mengartikan tatapannya itu. Dia hanya diam tanpa memberikan ekspresi apa pun saat melihat ke arahku, pikir Ara yang sedang menelaah tatapan Ilham padanya itu.
Melihat Ara yang pergi bersama pria yang tidak ia kenal itu, membuat hati Ilham sedikit sakit dibuatnya. Ilham sama sekali tidak mengerti dengan keinginannya saat ini.
'Belum habis masalah Morgan, sekarang sudah ada masalah baru lagi,' batin Ilham yang merasa dirinya tidak pantas untuk Ara.
Entah kenapa, dirinya selalu merasa seperti itu. Ilham juga tidak mengerti dengan kemauannya saat ini. Ia hanya bisa pasrah, dengan perasaan yang ia miliki pada Ara.
Sepanjang jalan menuju tempat tujuan, Ara hanya memikirkan Ilham saja. Entah kenapa, pikirannya selalu tertuju pada Ilham.
Kenapa Ilham jadi berubah sedrastis itu? Sepertinya, dia tidak ingin mengungkapkan perasaannya itu padaku, pikir Ara yang mendadak sendu memikirkan Ilham.
Ara mengerenyitkan dahinya, kenapa ke sini lagi? Apa dia sengaja, membuatku ingat dengan dosa yang sudah dia lakukan padaku? Pikir Ara yang saat ini sedang berjaga-jaga dengan keadaan.
Bisma menarikkan kursi untuk Ara. Ia mempersilakan Ara duduk. Ara lalu menuruti perintahnya. Mereka saat ini, duduk dengan saling berhadapan.
Bisma melihat menu makanan, kemudian memanggil pelayan, dan pelayan itu pun datang menghampiri mereka dengan membawa sebuah buku catatan.
"Mau pesan apa, Kak?" tanya pelayan itu.
Bisma menatapnya dengan dingin sembari menutup buku menu, "Saya pesan best seller di sini ya," ucap Bisma.
Ara mendelik setelah mendengar ucapan Bisma karena Ara sangat paham, bahwa kafe ini mempunyai banyak sekali variant best seller. Perutnya tidak akan cukup untuk menampung makanan sebanyak itu.
Ara mendelik, "Siapa yang mau ngabisin makanan sebanyak itu?" tanya Ara sinis padanya.
Bisma memandang ke arah Ara, "Nanti temen gue bakalan dateng. Jadi gue sengaja, pesan makanan yang banyak biar dia juga bisa makan," ucap Bisma menjelaskan.
__ADS_1
Mendengar penjelasannya, Ara hanya mengangguk saja.
Aku kira, dia akan menyuruhku menghabiskan semua ini. Atau malah, dia yang menghabiskan semuanya? Wah benar-benar tidak pandai mengurus diri, pikir Ara.
"Eh gimana kuliah loe, lancar nggak?" tanya Ara, Bisma melontarkan senyuman khasnya ke arahnya.
"Yah, belajar program ternyata nggak semudah yang gue bayangin. Apalagi sekarang, kita sepantar karena gue ngulang lagi. Jadi makin kerasa banget lamanya hahaha," ucapnya menjelaskan.
Suasana kini sudah berangsur santai seperti biasa, tidak ada rasa kaku lagi seperti saat pertama melihat Bisma tadi.
Bisma kembali memandang ke arah Ara, "Loe gimana kuliahnya? Kemarin kan ujian kenaikan semester, apa loe bisa ngerjain soal yang dikasih dosen?" tanya Bisma terdengar seperti sedang meremehkan.
Ara menyedekapkan kedua tangannya dan memasang tampang datar ke arahnya, "Loe ngeremehin banget, gini-gini gue siswa terbaik tau," ucap Ara yang memamerkan prestasinya, membuat Bisma tertawa setelah mendengarnya.
"Iya siswa terbaik ...," ucap Bisma menggantung, "pada masanya," sambungnya membuat Ara kesal sendiri dibuatnya.
Ara mengerenyitkan dahinya, kenapa dia suka sekali menggodaku? Pikir Ara, yang mengerucutkan bibirnya setelah mendengar leluconnya.
Keadaan menjadi sangat rancu saat ini.
Bisma kembali memandang Ara dengan tatapan yang serius, "Gimana soal ...," gumamnya menggantung, membuat Ara menatapnya dengan penuh rasa heran.
Apa yang ingin ia tanyakan? Kenapa ia sangat ragu untuk menanyakannya? Pikir Ara yang penasaran dengan pertanyaan Bisma padanya.
"Hubungan loe sama dosen itu?" Bisma menyambungkan pertanyaannya.
Lagi-lagi ia menanyakan sesuatu hal yang menurut Ara, tidak harus dibahas. Itu sudah tidak penting lagi bagi Ara. Namun, tatapan Bisma mengatakan, seolah-olah ia ingin tahu tentang Ara.
Ara menunduk, "Gue udah putus sama Morgan," ucap Ara dengan nada sendu.
Bisma terlihat tidak percaya saat Ara mengatakannya.
"Gila, kok bisa loe putus sama dia? Gimana ceritanya?" tanyanya.
Nadanya terdengar sangat antusias. Entah karena prihatin padaku, atau karena ia terlalu merasa senang karena sudah mendengarnya? Aku khawatir kalau Bisma masih mengharapkan diriku. Padahal, aku tidak mau mengulang cerita cinta yang sama dengan Bisma. Dia sudah cukup membuat kesalahan yang menurutku fatal. Namun, kita tidak akan pernah tahu ke depannya seperti apa. Aku tidak tahu pada hatiku, harus memilih siapa? Sementara ... aku tidak memiliki pilihan, pikir Ara.
__ADS_1