
Ilham sudah sampai di rumahnya. Perjalanan hari ini, sangatlah melelahkan baginya. Ia harus bekerja, mengunjungi makam ibunya, menjemput Ara dan keluarganya, dan juga mencocokkan baju untuk mereka di butik pilihannya.
"Ahh ...."
Ilham menghempaskan diri di atas sofa rumahnya, merenggangkan sejenak otot yang sudah terlanjur kaku, karena seharian ini beraktivitas. Bukan hanya otot saya yang tegang, pikirannya pun menegang, karena dipaksa harus berpikir mengenai pekerjaan, yang sangat melelahkan baginya.
Namun, semua yang ia lakukan hari ini, sangatlah berbuah manis. Meskipun Ilham sampai harus melupakan hari ulang tahunnya.
"Sampai lupa kalau hari ini saya ulang tahun," gumam Ilham, membuat dirinya teringat dengan para gadis yang sangat ramah padanya tadi pagi.
"Apa jangan-jangan, sikap mereka tadi karena mereka tahu aku ulang tahun hari ini?" gumam Ilham, yang baru menyadari dengan situasinya.
Ilham mengusap kasar wajahnya, merasa aneh dengan dirinya yang mulai tidak bisa membaca situasi.
Ilham terdiam, dan tersadar dari lamunannya. Ia mengingat hadiah yang mereka berikan padanya. Ilham membuka tiap-tiap kado yang ia dapatkan.
Betapa terkejutnya Ilham saat melihat kado yang mereka berikan. Kecil, tetapi tidak mengurangi arti dari niat baik mereka.
Ilham tersenyum, "Terima kasih," gumam Ilham, yang sangat terharu dengan kado dari mereka, terutama kado dari Ara.
Ara memberikan sebuah jam tangan, yang menurutnya sangat bagus. Ia pun segera memakai jam tangan itu di tangannya, menggantikan jam tangan yang sudah lama tidak pernah tergantikan.
Ilham tersenyum memandangnya, "Bagus," gumam Ilham sembari melihat ke arah jam tangan yang ia pakai.
...***...
Pagi hari, Ilham sudah selesai bersiap-siap untuk berangkat pergi ke kantornya. Langkahnya terhenti, ketika melihat ayahnya yang ternyata sudah ada di hadapannya, dengan membawa sebuah hadiah di tangannya.
Ilham memandang heran ke arah ayahnya, "Ayah, tumben pagi-pagi gini udah rapi?" tanya Ilham yang merasa penasaran dengan ayahnya lakukan.
Ayahnya tersenyum ke arahnya, "Selamat ulang tahun, Nak. Maafin ayah ya, karena ayah lupa kalau kemarin kamu ulang tahun," gumam ayahnya membuat Ilham tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok, Yah. Lagipula, di usia saya saat ini, sudah Gak perlu dirayakan lagi, bukan?" ucap Ilham teriring senyum.
Ayahnya memandangnya dengan tatapan yang sangat bangga terhadapnya. Ilham adalah anak yang spesial, bagi ayahnya. Ia sama sekali tidak pernah menentang ayahnya, berbeda dengan kebanyakan anak lainnya yang selalu membantah ucapan dari kedua orang tuanya.
Ayahnya merasa sangat tersanjung mempunyai anak seperti Ilham. Permasalahan sebesar apa pun, Ilham juga tidak pernah terlalu mempermasalahkannya. Ayahnya sangat beruntung karena memiliki anak seperti Ilham. Akan tetapi, Ilham lah yang tidak beruntung, karena ia harus kehilangan sosok seorang ibu, sejak Ilham masih sangat belia.
Hal itulah yang membuat Ilham selalu memendam semua yang ia rasakan.
"Terima kasih ya, sudah mau mengerti keadaan Ayah. Ini hadiah dari ayah untuk kamu," gumam ayahnya, yang segera menyodorkan sebuah kotak kecil kepada Ilham.
Ilham pun menerimanya dengan senang hati, "Apa ini, Yah? Kalau jam tangan lagi, ayah telat ngasihnya. Karena kemarin, Ara sudah kasih saya jam tangan," gumam Ilham sembari sedikit meledek ayahnya.
Ayahnya hanya tersenyum ke arah Ilham, "Buka aja," suruh ayahnya, membuat Ilham penasaran dengan isi dari kotak yang diberikan oleh ayahnya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ilham pun akhirnya membuka kotak tersebut. matanya seketika mendelik, karena ia melihat beberapa kunci, yang ada di dalam kotak tersebut.
Ilham menganga kaget, dan mendelik ke arah ayahnya yang sedang tersenyum padanya, "Apa ini, Yah?" tanya Ilham yang tidak percaya dengan hadiah yang ia terima dari ayahnya.
"Iya, Yah. Saya tahu ini kunci, tapi maksudnya apa?" tanya Ilham yang masih bingung dengan maksud ayahnya itu.
Ayahnya menepuk-nepuk bahu Ilham dengan keras, "Ini rumah untuk kamu tempati bersama dengan istri kamu. Maafin ayah, karena nggak bisa kasih apa-apa ke kamu," ucap ayahnya menjelaskan membuat Ilham mendelik terkejut mendengarnya.
"Hah?" gumam Ilham yang tak percaya dengan yang ayahnya katakan, "jangan bercanda, Yah. Ini sudah sangat lebih dari cukup," bantah Ilham, membuat ayahnya tersenyum.
"Ayah nggak bercanda. Maaf ayah cuma bisa kasih ini untuk kalian. Semoga kalian bisa bahagia hingga maut memisahkan," gumam ayahnya, membuat Ilham terkesima mendengarnya.
"Terima kasih, Yah," gumam Ilham dengan lirih, membuat ayahnya tersenyum sembari menepuk kembali bahunya.
"Ya, sama-sama," gumam ayahnya yang juga merasa senang, karena anaknya senang.
"Oh ya, hari ini ayah mau urus surat-surat untuk saya menikah? Kira-kira berapa lama bisa selesai?" tanya Ilham.
__ADS_1
"Sudah ngebet, ya?" ledek ayahnya, membuat Ilham menyenggol bahu ayahnya karena merasa malu dibuatnya.
...***...
"Sudah siap belum, Yah?" pekik Ilham, yang sudah sedari tadi mengenakan jas serta semua keperluan untuk acara hari ini.
Tak terasa, waktu yang dinanti Ilham pun tiba. Hari ini, tepatnya pada tanggal 1 Februari, mereka melangsungkan pernikahan.
Ilham sudah sangat repot, karena pagi-pagi sekali ia harus benar-benar mempersiapkan barang-barang yang diperlukan.
'Gak nyangka, kalau menikah dengan orang yang saya cintai akan se-excited ini,' batin Ilham yang bersemangat, tetapi sangat gelisah dengan keadaan.
Ilham kembali mengeluarkan kalung milik Ara, dan menggenggamnya dengan erat.
"Hari ini, kamu akan menjadi milik saya seutuhnya," gumam Ilham yang merasa senang, karena perjuangan cintanya pada Ara, tidak sia-sia.
Tidak percuma Ilham menunggu Ara berpuluh-puluh tahun lamanya, dan ternyata ... jodohnya saat ini adalah cinta pertamanya.
Ilham merasa bahagia, karena sebentar lagi akan mempersunting Ara, menjadi istrinya.
Tak henti-hentinya Ilham memanjatkan syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya.
Ia menghela napas panjang, membuat dirinya netral dari keadaan nervous yang ia alami, "Tenang, kamu pasti bisa kok, Ham!" gumamnya, berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Di sisi sana, Ara sudah selesai berdandan, layaknya pengantin pada umumnya. Ia duduk di depan meja riasnya, dan sedang menunggu perias selesai merias rambutnya.
Ara hanya terdiam, sembari menitikkan air mata karena memandang dirinya di hadapan cermin saat ini.
'Apa ini akhir dari semuanya? Apa gue harus menerima Ilham, kayaknya dia menerima keadaan gue saat ini? Apa gak ada waktu lagi untuk Morgan bisa datang, di saat yang tepat? Kenapa kehidupan ini gak seperti di film-film, sih?' batin Ara, yang menghakimi kehidupannya sendiri.
Jauh di dalam lubuk hati Ara, ia masih belum menerima pernikahan ini, karena hatinya yang memang masih menyayangi Morgan.
__ADS_1
Tangisan Ara kembali membanjiri pipinya, membuat riasannya menjadi agak luntur terkena air matanya.