Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Selamat Tinggal, Bisma 2


__ADS_3

Terlihat di hadapan Ara, sebuah kotak kecil berwarna merah, yang baru saja Bisma perlihatkan pada Ara. Mata Ara mendelik, saking terkejutnya ia dengan benda yang Bisma pegang saat ini.


Ara bertanya-tanya dalam hati, sembari menerka, apakah benar tebakannya tentang apa yang ia lihat.


‘Apa itu yang ada di dalamnya? Apakah mungkin ....’ batin Ara sembari berpikir.


Bisma terlihat tersenyum bangga, karena sudah memperlihatkan hadiah kecil ini pada Ara. Tiada lagi yang bisa ia lakukan, untuk menebus kesalahannya. Bahkan, hal ini saja belum cukup untuk menebus dosanya pada Ara.


“Apa itu, Bis?” tanya Ara, yang tidak mau terlalu percaya diri, bisa saja itu bukan seperti yang Ara harapkan.


Bisma memberikannya pada Ara, kemudian Ara dengan penasaran mengambil, lalu membuka kotak kecil berwarna merah itu.


Terlihat cincin emas dengan manik berlian di tengahnya, yang berukuran kecil, yang mungkin saja seukuran jari manis Ara. Ara terdiam, karena kagum melihat pemandangan langka seperti ini.


Seumur hidupnya, ini adalah kali pertama Ara diberikan sebuah cincin oleh seorang pria. Reza saja, belum pernah memberikan cincin pada Ara. Padahal dengan segala keyakinan atas cintanya Reza, Ara berharap semua itu akan terjadi. Tapi yang terjadi malah ....


Ah. Sudahlah.


Memang paling sulit untuk melupakan kenangan masa lalu.


Ara jadi agak terharu melihatnya.


“A-apa ini, Bis?” tanya Ara yang merasa keheranan dengan apa yang Bisma berikan.


Dalam hati, Ara selalu berpikir tentang maksud dari Bisma yang tiba-tiba saja memberikan ini pada Ara.


‘Kenapa Bisma tiba-tiba ngasih cincin? Padahal, kita baru aja menyudahi hubungan ini,’ batin Ara tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Bisma tersenyum, kemudian menunduk dengan cepat, lalu kembali menatap Ara.


“Pegang aja, Ra. Gue emang cowok brengsek. Gue sadar itu


...,” ucap Bisma menggantung, membuat Ara membolakan matanya.


‘Ya, emang bener. Loe itu brengsek,’ batin Ara menyeleneh.

__ADS_1


Ara hanya menyeleneh di hati saja, tak tega untuk mengungkapkan itu padanya.


Suasananya terlalu serius, sehingga Ara tidak bisa seenaknya untuk mengubah keadaan. Ara harus menghargai niat baik Bisma.


“Niat jahat gue, emang udah gak bisa dimaafin. Gue juga sadar, kalau gue udah gak pantes lagi buat loe, Ra. Gue udah punya niat jahat, tapi dengan mudahnya ngomong seperti ini ke loe. Tapi, gue gak maksa loe buat bisa nerima gue lagi kok, Ra…,” ucap Bisma dengan nada yang sangat tulus, “gue cuma berharap, suatu saat … gue bisa terus bareng sama loe, Ra. Buat bisa terus berada di samping loe. Anggaplah saat ini, gue sedang menjalani tahap hukuman karena tindakan yang seharusnya gak gue lakuin,” sambungnya yang tak disangka mampu membuat Ara terenyuh.


Lagi-lagi, butiran air mata terjun bebas ke bawah, Ara sangat mudah tersentuh oleh setiap perkataan orang.


Bisma menggenggam tangan Ara dengan lembut, “gue harap, paling enggak loe jaga ini. Karena siapa tau, kita berjodoh. Nanti, kalau saatnya tiba gue balik lagi nanti ke sini, gue pasti cari loe … buat ngelamar loe.”


“Deg ....”


Jantung Ara terasa mau copot, karena pidato Bisma yang ternyata sudah menyentuh kalbunya. Kata-kata dan ucapan Bisma yang baru saja ia ucapkan, rasanya Ara ingin memintanya untuk mengulang kembali kalimat itu.


‘Dia pengen ngelamar gue? Ah, yang benar aja? Pasti cuma omong kosong aja, Ra! Padahal, dia udah tau, kalau gue udah gak punya kehormatan lagi. Dia juga udah hampir ngerusak harga diri gue. Kenapa dia masih mau bersama gue?’ Terjadi perang batin di hati Ara, membuat Ara merasa serba salah.


Apa yang harus aku lakukan? Pikir Ara.


“Loe gak perlu jawab sekarang kok, Ra. Gue cuma sedikit berharap aja. Gue udah menyesali semua yang udah terjadi di antara kita. Gue udah sadar, cuma loe yang bisa bikin gue takut buat kehilangan wanita. Dan ... gak sepantasnya gue perlakuin wanita seperti ini. Bukan hanya loe aja, tapi itu juga berlaku buat semua cewe yang nantinya bakal gue temuin di sana.”


Ucapannya terdengar sangat tulus. Ara tidak mendengar ada nada yang janggal dari ucapannya. Kedengarannya, ia sangat tulus untuk kali ini.


Ara merasa sangat tersentuh dengan ucapan Bisma kali ini. Ara baik-baik saja sebelum Bisma mengungkapkan kata-kata ini. Tapi kenapa, dunianya seperti berputar dengan terbalik?


Ara sudah mengubur perasaannya terhadap Bisma. Tapi sekarang, ia malah tersentuh dengan perkataan terakhirnya.


Ah.


Apa benar, Bisma sedang melamar Ara? Memberikan cincin, dan memberikan janji pada Ara? Apa yang harus Ara katakan padanya?


“Maaf udah buat loe merasa gak nyaman, selama kita pacaran. Gue cuma berharap, suatu saat kita dipertemukan lagi,” gumam Bisma, ia mengelus kepala Ara dengan lembut, “jaga diri baik-baik, ya,” pesannya yang sekali lagi, telah menyentuh hati Arasha.


Bisma tersenyum pada Ara. Air mata Ara mulai berjatuhan, membasahi pelupuk matanya. Ia mengangguk pelan pada Bisma, lalu menerima pemberiannya itu.


Tidak tahu harus sedih atau senang kali ini. Perpisahan ini, tak seperti yang Ara harapkan. Tak bisa dipungkiri, Ara memang masih memiliki sedikit perasaan dengan Bisma.

__ADS_1


Ah.


Aku memang bodoh, pikir Ara.


Hehe.


Bisma menyeka air mata Ara yang berjatuhan, dan tercampur dengan air hujan.


“Sekali lagi, gue pamit, ya. Jaga diri loe ya, Ra,” gumamnya.


Suasana nampak mellow kembali.


Bisma perlahan melepaskan tangan Ara, tapi, Ara menahannya dengan ragu karena merasa malu. Bisma kembali memandang Ara sembari tersenyum.


Bisma harus pergi. Ia dengan berat hati melepaskan tangan Ara, lalu segera pergi dari sana karena tidak mau membuat hatinya kembali goyah karena Ara.


Hati Ara terasa sesak. Ada rasa tak rela melepas Bisma, karena perkataannya yang tulus dan menyentuh hati.


Tapi, memang sudah seperti ini jalan ceritanya. Ara hanya bisa mengikuti skenario yang sudah dibuat Tuhan untuknya.


‘Hati-hati di jalan, Bis ....’ Ara bahkan tidak bisa mengucapkan ini untuk terakhir kalinya, saking merasakan kehilangan yang mendalam.


Ara tahu, ia masih bisa berbincang dan berhubungan dengan Bisma, meskipun mereka sudah dipisahkan oleh jarak.


Tapi, tetap saja. Rasanya akan menjadi beda.


Bisma pergi meninggalkan Ara sendiri di sini.


Ara semakin menangis deras karena kekasihnya pergi untuk beberapa waktu yang lama, ke tempat yang sangat jauh dari sini.


Tak sadar, tangisannya menjadi histeris. Ara tak bisa mengendalikan dirinya. Ara telah kehilangan orang yang ia sayangi.


Entah apa maunya hati ini. Di satu sisi, Ara ingin Bisma pergi dari hidupnya, di sisi lain, Ara tidak bisa melihat kenyataan, bahwa Bisma benar-benar pergi dari sisinya. Bukan mengakhiri hubungan, justru malah memulai hubungan yang lebih rumit dari saat ini.


Bisma menggantung dirinya. Bodohnya lagi, Ara mau.

__ADS_1


Ya.


Aku memang bodoh. Sangat bodoh, pikir Ara.


__ADS_2