Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Obrolan Adik-Kakak


__ADS_3

“Sudahlah, nanti malam, tolong jemput saya di bandara. Karena sore nanti saya sudah harus terbang ke sana,” ucap Arash yang menyudahi percakapan mereka.


Hal itu membuat Bunga mendadak bingung harus berbuat apa. Ia segera kembali ke arah ranjang, dan duduk di dekat Ares yang masih tertidur pulas di sana.


“Jadi, saya sekarang sudah beralih profesi, dari manager menjadi sopir?” ucap Ilham, melontarkan canda pada Arash yang sudah terlanjur kalut dalam perasaannya.


“Sial. Ya sudah, biar nanti saya naik taksi saja,” ucap Arash yang juga melontarkan candaan ke arahnya.


“Jangan, nanti jam tujuh, saya sudah sampai di bandara,” lirih Ilham, membuat Arash tersenyum.


Arash pun mengakhiri percakapan mereka di telepon, dan segera kembali menuju ke kamarnya.


Arash terdiam, saat melihat Bunga yang sudah terbangun dari tidurnya. Arash menoleh ke arah meja, yang masih terdapat makanan yang Bunga bawakan semalam.


‘Ternyata saya belum makan sejak kemarin,’ batin Arash, yang memang merasakan lemas pada sekujur tubuhnya.


Bunga memandangnya dengan tatapan datar, “mau makan dulu, atau mandi dulu?” tanya Bunga, membuat Arash menafikan pandangannya.


“Mandi,” jawab Arash, yang lalu meletakkan handphone-nya di atas meja, kemudian segera menuju ke kamar mandi, untuk segera membilas tubuhnya.


Arash membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, dan segera berendam di bath tub. Ia merasa sangat relaks ketika berendam di dalam bath tub ini.


Ia melihat langit-langit kamar mandi, dan memikirkan perasaannya sendiri.


‘Kalau bukan karena permasalahan itu, saya gak akan mungkin bersikap seperti ini ke kamu, Bunga,’ batin Arash yang merasa menyesali perbuatan kasarnya terhadap Bunga.


Karena suatu keadaan, Bunga harus meninggalkan Ares yang sedang tertidur, menuju ke kamarnya. Sepertinya, Bunga juga ingin bersiap-siap, karena waktu kebersamaan mereka yang sebentar lagi akan selesai.


Semoga Tuhan membalas semua yang terjadi


Kepadaku suatu saat nanti


Hingga kau sadari sesungguhnya yang kau punya


Hanya aku tempatmu kembali sebagai cintamu


Handphone Arash kembali berdering. Ares merasa terusik dengan dering handphone yang sudah terlalu lama berbunyi.


Ares membuka matanya, dengan tangan yang menutup mulutnya karena menguap.

__ADS_1


Ares membenarkan pandangannya yang masih rabun, tidak jelas itu.


Ia menoleh ke arah handphone Arash yang berdering, dan segera mengambilnya untuk mengangkat teleponnya.


“Halo,” sapa Ares, membuat gadis yang berada di ujung sana mendelik kaget.


Ara mendengar suara yang sangat asing baginya, membuatnya kaget tak keruan.


‘Siapa yang angkat telepon kakak, ya? Kok suara anak kecil, sih?’ batin Ara tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Ha-halo,” jawab Ara dengan perasaan takut.


Ares membulatkan matanya karena bingung mendengar suara Ara yang nampak takut di sana.


“Ini siapa, ya?” tanya Ares dengan nadanya yang sangat imut, membuat Ara tak bisa menahan keimutan Ares.


“Ade, ada kak Arashnya, gak?” tanya Ara yang berusaha tenang dengan yang sedang ia hadapi, meski dalam hatinya terus bertanya-tanya dengan sosok yang sedang menerima teleponnya saat ini.


“Oh, sebentar ya ....”


Ares berlari segera menuju ke arah Arash yang sedang berada di kamar mandi.


“Nanti kakak telepon balik. Kakak lagi mandi,” ucap Arash.


“Halo kak, kata kak Arash, nanti ditelepon balik. Soalnya kak Arash lagi mandi,” ucap gadis kecil nan imut itu, membuat Ara terpaksa harus menahan rasa penasarannya.


“Oh gitu, dengan siapa kakak bicara sekarang?” tanya Ara, yang sedikit penasaran dengan sosok yang sudah menerima teleponnya.


“Emm ... nama aku--”


“Res, siapa yang nelepon?” tanya Arash yang tiba-tiba saja muncul dari bali pintu kamar mandi.


Ares terkejut, menatap kedatangan Arash dengan tatapan kaget, membuat handphone-nya terjatuh ke atas lantai.


Di sana, Ara bingung, karena teleponnya tiba-tiba saja terputus. Ia melihat ke layar handphone-nya, dengan tatapan yang bingung.


Rafael, Ray dan Fla yang sedang bersamanya, mendadak kebingungan dengan Ara yang terlihat sangat kaget.


Rafa mengerenyitkan dahinya, “loe kenapa sih, Ra? Ada masalah?” tanya Rafa yang agak penasaran dengan keadaan Ara, sementara di sana, justru Fla juga penasaran dengan keadaan Arash.

__ADS_1


‘Duh ... kak Arash kenapa, ya? Kok Ara sampai kaget begitu, sih? Pengen nanya, tapi malu banget,’ batin Fla yang penasaran dengan keadaan Arash.


“Tadi gue nelepon kak Arash, mau nanya kapan balik dari luar kota. Ternyata yang angkat teleponnya itu anak kecil, bingung deh jadinya gue,” ucap Ara menjelaskan yang terjadi.


“Loe tau, anak itu siapa?” tanya Rafa, membuat Fla melirik sedikit ke arahnya.


“Alah, palingan juga itu anaknya kak Arash,” celetuk Ray yang sedang asyik bermain game online-nya sampai ia berbicara secara sembarang.


Fla mendelik, “gak mungkin lah itu anaknya kak Arash!” bentak Fla yang tak terima dengan ucapan Ray itu, membuat Ray harus mengubah fokus ke arahnya.


“Lho, kenapa gak mungkin? Lagian ya, di dunia ini udah banyak kejadian yang kayak begitu. Nyembunyiin statusnya dari semua orang yang dia kenal, padahal udah punya anak tapi ya begitu,” ucap Ray, membuat Ara dan Fla mendelik ketakutan karena celetukannya yang asal itu.


Ara terdiam, bukan hal yang tidak mungkin sih, apalagi kakak selalu bawa wanita yang berbeda-beda waktu itu, dan juga sampai tidur dengan para wanita itu. Masa sih, yang dikatakan Ray itu benar-benar terjadi dengan kak Arash? Pikir Ara yang merasa begitu.


Fla melihat ekspresi Ara seperti itu, membuatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.


‘Ara aja udah begitu ekspresinya, masa iya sih yang Ray bilang itu benar?’ batin Fla yang tidak bisa menerima kenyataan, dari yang Ray ucapkan.


Di sana, Ares segera mengambil handphone Arash yang terjatuh, dan segera memberikannya kepada Arash.


“Maaf, Kak. Tadi pas Ares tanya, dia gak jawab kalau dia siapa,” ucap Ares dengan polosnya, membuat Arash mengambil handphone-nya dan memeriksa siapa yang sudah menghubunginya.


“Tuuut ....”


Notifikasi baterai lemah dari handphone milik Arash, membuat Arash mendelik karena tidak bisa memeriksa orang yang baru saja menghubunginya.


Sedikit banyaknya, itu membuat Arash kesal.


Ia menghela napasnya panjang, kemudian segera mencari charger untuk segera mengisi daya handphone-nya.


Arash pun kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, membuat Ares mendekatinya dan bersandar juga di bahunya.


Arash mengelus lembut pipi Ares, membuat Ares seketika memeluknya.


Ares tak sengaja melihat ke arah handphone Arash yang masih menyala, karena baru saja terhubung dengan kabel pengisi daya.


Di sana, Ares melihat wallpaper handphone Arash yang menggunakan foto Ara, membuat Ares mengerenyitkan dahinya.


“Kak, yang ada di layar handphone kak Arash, siapa ya?” tanya Ares membuat Arash mendelik tak percaya mendengarnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2