
“I am telling you ... i softly whisper ... to night, to night ....”
Ara terkejut mendengar suara Morgan yang sedang bernyanyi lagu yang baru saja ia dengar. Suaranya yang lembut, menjadi ciri khas tersendiri bagi Morgan.
Ara sangat suka dengan pembawaan dan ritme musik yang Morgan nyanyikan. Tak sadar, Ara sampai meneteskan air mata sangking terharunya mendengar suara Morgan yang indah.
Suaranya sangat nyaman di telinga Ara, membuatnya tak ingin melewatkan setiap detik yang sangat berharga baginya.
Ara mengetahui satu hal tentang Morgan. Dia, sangat bisa membuat Ara tersenyum hanya dengan melakukan hal-hal kecil saja. Bahkan, hanya dengan menyanyikan lagu kesukaannya saja, Morgan sudah bisa membuat Ara tersentuh.
“You are my angel ….”
Morgan menoleh ke arah Ara. Sontak semua orang yang berkumpul menoleh ke arah Ara juga. Ara sampai sangat malu, karena sudah menjadi pusat perhatian banyak orang.
Ara kembali memperhatikan Morgan yang masih bernyanyi.
Tak disangka, Morgan ternyata se-romantis ini padaku, pikir Ara.
Ara tidak mempedulikan lagi semua orang yang melihat ke arahnya. Ara hanya mempedulikan penampilan Morgan yang sudah mendominasi malam yang indah ini.
Ara mengusap air matanya yang tiba-tiba saja keluar, tanpa ia sadari.
“Aishiteru ... futari wa hitotsu ni ... to night, to night ... i just say ....”
“Where ever you are, i always make you smile. Where ever you are, i'm always by your side. What ever you say, kimi wo omou kimochi. I promise you forever right now.”
Semua orang bersorak, tak terkecuali Ara.
Ara sangat senang bisa mendengar Morgan menyanyikan lagu yang ia sukai, tentunya juga Ara senang dengan suara khas miliknya itu.
Ara sangat bahagia, karena menikmati performanya.
“I don't need a reason. I just want you baby!” Morgan mengedipkan sebelah matanya ke arah Ara, membuat Ara merasa ada sesuatu yang membuat debaran jantungnya semakin cepat.
“Wah … gila, dia ngedipin ke gue ...,” sorak para wanita yang berada di sebelah Ara.
Ara merasa terusik dengan suara mereka, yang hampir menutupi suara indah Morgan. Lagi pula, Morgan tidak memberikan kedipan matanya padanya, tapi pada Morgan mengedipkan matanya ke arah Ara.
“Kono saki nagai koto zutto ... douka konna boku to zutto ... shinu made ... stay with me ... we carry on ….”
Suaranya terdengar sangat fasih, dalam menyanyikan bagian Bahasa Jepang.
Sempat terbersit tanya di pikiran Ara.
Apa ... dia pernah tinggal di jepang? Atau hanya menyukai kebudayaan dan hal-hal yang menyangkut negri itu saja? Tapi aku merasa, dia sudah tidak asing dengan bahasanya. Logatnya pun hampir terdengar seperti suara asli dari lagunya, pikir Ara.
__ADS_1
“Aaaaaaaaaa oppa ganteng banget sih …,” teriak wanita yang berada di samping Ara.
Kali ini bukan hanya dia yang berteriak histeris. Tapi semua wanita dibuat histeris olehnya. Memang, ada wajah Korea di wajah Morgan. Tapi, wajah Jepang-nya lebih mendominasi setiap sisi dari wajah Morgan.
Ia menyelesaikan lagunya dengan sangat sempurna. Bukan hanya penampilannya saja yang bagus, tetapi memang suaranya juga sangat bagus bagi Ara.
Ara saja sampai terkesima dengan Morgan, yang baru saja selesai bernyanyi itu.
Morgan terlihat menuruni panggung mini itu. Beberapa wanita yang berada di sebelah Ara tadi, menghampiri dirinya.
Morgan terlihat sangat cuek dengan mereka. Morgan tidak berbicara sepatah kata pun pada mereka. Matanya tertuju pada Ara, gadis yang sebentar lagi akan menjadi masa depannya.
“Oppa … suaranya bagus banget!” ucap gadis pertama, sangat Ara benci itu.
“Iya oppa! Keren banget tadi nyanyinya.”
“Iya! Oppa … ajarin kita nyanyi dong ….”
“Ayo dong oppa ....”
“Ayo dong ....”
Morgan menoleh ke arah mereka, yang sedang berusaha untuk menggoda Morgan, di hadapan Ara. Morgan tahu, kalau Ara tidak akan suka jika melihat pemandangan seperti ini.
‘Daripada nanti kalian kena imbas dari macan yang mengamuk, lebih baik dihindarkan saja!’ batin Morgan, merasa kasihan dengan mereka.
Semua wanita yang baru saja mendekati Morgan, seketika menatap ke arah Morgan pergi.
Morgan menarik tangan Ara dengan kasar, membuat para gadis itu bersorak ramai.
Aku paham, Morgan pasti tidak senang dengan keberadaan para wanita itu, pikir Ara.
Ara kembali ke tempat duduknya di restoran yang tadi mereka tinggalkan. Ternyata, sudah tersedia makanan satu meja penuh, yang tadi mereka pesan.
Ara pun duduk di hadapan Morgan yang hanya diam, sejak melakukan performanya.
“Jangan kasar-kasar kek!” bentak Ara.
Morgan hanya diam menatap Ara dengan dingin.
“Makan,” ucapnya singkat.
Ara menatapnya tajam. Mau tidak mau, Ara melahap apa yang sudah tersedia di hadapannya.
Ara memasukkan makanan ke dalam mulutnya, sehingga membuatnya jadi merem-melek, “mm ... ini bakwan lumayan enak ya!” ucap Ara sembari melanjutkan memakan bakwan itu lagi.
__ADS_1
Morgan membelalak, “itu kakiage,” ucap Morgan singkat, yang berhasil membuat Ara terdiam dan sedikit malu.
Kenapa aku hanya bisa membuat diriku malu? Pikir Ara.
Ara meneruskan makannya tanpa mempedulikan ucapan Morgan.
“Dringg ....”
Handphone Ara berbunyi lirih. Ara yang sedang menyuap makanan ke dalam mulutnya, langsung saja menaruh sisa kakiage yang ia makan, dan bergegas merogoh handphone-nya dari tasnya.
Ara melihat di layar handphone-nya, yang ternyata adalah telepon dari Bisma. Ara melirik sedikit ke arah Morgan yang masih asyik menyantap kudapannya.
Ada perasaan ragu di hati Ara, tapi … ia harus mengangkat telepon yang sejak tadi berdering.
“Hai, Ra!” sapa Bisma saat sambungan telepon aktif.
Ara melirik ke arah Morgan, yang ternyata masih dengan santainya menyantap makanannya.
“Hai, mmm … Bis,” lirih Ara dengan ragu.
Terlihat Morgan yang langsung menoleh ke arah Ara dengan tatapan sinis. Ara khawatir, Morgan melakukan sesuatu yang tidak Ara sukai.
“Lagi apa, Ra?” tanyanya.
Ara bingung harus menjawab apa.
Ara tidak tenang, ia sesekali melirik ke arah Morgan yang saat ini sedang memelototinya, “emm … gu-gue lagi makan, Bis,” jawab Ara dengan ragu.
“Oh ya sudah, lanjut deh ya. Gue cuma mau bilang, kalau gue lagi latihan basket nih. Sekarang, gue udah gabung di klub basket di universitas gue,” jelasnya.
Ara tak terlalu mendengar jelas ucapan Bisma karena Morgan yang sedang berusaha mengambil handphone-nya.
“O-okey, Bis. Selamat ya. Nanti gue kontak lagi. Bye,” ucap Ara memangkas habis teleponnya.
“Tuutt ....”
Ara mengakhiri percakapannya dengan Bisma.
Terlihat wajah Morgan yang seperti ditekuk. Sepertinya dia marah.
“Jangan marah,” lirih Ara yang tak enak dengannya.
Morgan memandangnya dengan dingin, “saya gak berhak,” ucapnya singkat, yang beralih kembali ke makanan yang ia santap.
Kalau dipikir kembali, betul juga! Ara tak harus khawatir dengan perasaan Morgan.
__ADS_1
Ara dan Morgan, tidak ada apa pun di antara mereka.