
Ara berlari meninggalkan Morgan dan juga wanita asing ini, meskipun Morgan berulang kali memanggilnya, namun ia sama sekali tidak mempedulikannya.
“Ra ... tunggu, Ra!” pekik Morgan, tapi Ara sama sekali tidak mempedulikannya.
Morgan sangat kesal dan jengkel dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Meygumi.
Wanita dari masa lalunya yang saat ini datang kembali di saat yang tidak tepat. Morgan menatap wanita ini dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
“Kamu mau apa lagi sih nemuin saya?” tanya Morgan yang sudah jengkel dengan semuanya.
Ia mengerenyitkan dahinya kemudian meraih tangan Morgan.
“Gan, please. Jangan gini terus dong ke aku?” ucapnya memelas.
Morgan tidak memiliki rasa kasian sama sekali dengannya.
“Udah saya bilang kan, Mey, hubungan kita tuh sudah cukup sampai di sini saja,” gumam Morgan yang berusaha untuk memperingatkan Meygumi kembali.
Morgan tidak ingin mengeluarkan banyak tenaganya untuk seseorang yang tidak begitu penting. Morgan membuang tatapannya ke arah depan.
“Kamu jangan dingin terus dong, Gan, ke aku. Aku mau perhatian dari kamu--”
“Perhatian apa lagi yang kamu mau?” tanya Morgan dengan cepat, yang hampir memotong pembicaraannya.
Morgan menoleh ke arahnya. Terlihat jelas tatapan penuh amarah dan dendam di matanya.
“Lagian, ngapain kamu sepagi ini ke sini?” tanya Morgan yang menaruh rasa curiga padanya.
Bisa-bisanya dia tahu posisi Morgan saat ini, pikir Morgan.
“Kamu lupa? Ini tuh hotel papa aku,” jawabnya, berusaha untuk mengingatkan Morgan dengan statusnya.
‘****,’ batin Morgan mengaduh.
Bisa-bisanya Morgan lupa dengan hal ini.
“Jadi yang dimaksud resepsionis itu--” ucap Morgan terpotong.
Morgan menoleh ke arah resepsionis yang tadi malam menolongnya, dengan catatan harus menemani atasannya sepanjang hari. Morgan mengiyakan terpaksa permintaannya, karena sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk menyelamatkan Ara.
Terlihat dia yang sedang menguping pembicaraan Morgan dan Meygumi. Ia menatap Morgan dengan tatapan penuh rasa bersalah. Kemudian ia menundukkan kepalanya.
Morgan tidak ingin membuat masalah dengan orang lain, yang tidak mengetahui apapun. Yang ia permasalahkan hanya dengan akarnya saja.
“Ya, kamu benar,” jawab Mey dengan angkuh.
Morgan menghempaskan lengannya yang sedari tadi dipegang oleh Meygumi. Ia sama sekali tidak sudi dengan perlakuan Meygumi itu. Yang boleh memegang tangan Morgan, hanyalah Ara. Tak ada siapa pun lagi.
“Aws ...,” lirihnya, “kamu kasar banget sih!” teriak Meygumi.
Morgan masih bersikap dingin padanya.
‘Salahmu sendiri, karena sudah membuatku kasar seperti ini,’ batin Morgan kesal.
Morgan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, tak peduli dengan respon miring darinya.
Tiba-tiba, Morgan teringat dengan satu hal.
Ia mendelik ke arah Meygumi.
“Jangan-jangan, segala aktivitas saya di hotel ini, kamu tahu?” tanya Morgan dengan sedikit khawatir.
__ADS_1
Ia membuang wajahnya itu.
Ada perasaan sedikit kesal pada diri Morgan, karena pertanyaannya tidak digubris sama sekali olehnya.
Wanita kurang ajar! Lihat saja nanti, pikir Morgan.
Morgan meninggalkannya pergi menuju mobil. Terdengar pekikan Meygumi, yang semakin lama, semakin lirih. Namun ia tidak mempedulikannya.
Sesampainya di basement, tak terlihat mobil Morgan sama sekali. Padahal, Morgan sudah menyuruh secure parking untuk mengurusnya.
‘Sial, aku kehilangan mobilku,’ batin Morgan resah.
“Drtt ....”
Handphone-nya tiba-tiba saja bergetar.
Ia melihat di layar, ada pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.
Rasa penasarannya bergejolak, membuatnya terpaksa harus membuka pesan itu.
“Mobil kamu sudah aku taruh di rumahmu. Gimana kalau pulangnya bareng aku?” isi pesan singkat, yang tak lain dari Meygumi.
Seketika, Morgan naik pitam, tidak karuan lagi. Ia tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Kenapa Meygumi selalu mengikuti kemana pun ia pergi?
“Argh!”
“Brak ....”
Morgan melempar handphone-nya ke arah tembok basement, saking kesalnya. Ia sangat kesal dengan perbuatan Mey yang seenaknya saja. Morgan tidak bisa lepas dari bayang-bayang dirinya.
Mengenaskan.
Apakah ini karma untuk Morgan, karena terus-menerus membuat Ara resah?
Ini bukan karma, tapi nasib.
Morgan sudah kehilangan handphone-nya.
Biar saja. Biar dia tidak bisa menghubungiku lagi, pikir Morgan.
Wanita itu tiba-tiba saja datang di hadapan Morgan. Dengan sangat terpaksa, Morgan pulang bersama dengan dia, karena hari masih sangat dini, dan Morgan juga tidak bisa menghubungi siapa pun sekarang.
“Nih.” Meygumi menyodorkan kunci mobil miliknya pada Morgan.
Morgan terdiam sejenak, sembari memperhatikannya.
‘Apa-apaan dia,’ batin Morgan kesal.
Morgan tidak menggubris pemberiannya. Meygumi tiba-tiba saja menarik tangan Morgan dan meletakkan kunci itu di tangan Morgan.
“Masa harus wanita yang menyetir?” gumamnya.
Morgan memandangnya dengan penuh kebencian, lalu mengambil kunci dan segera menaiki mobilnya.
Morgan tidak punya pilihan lain. Kenapa ia bisa ceroboh, dengan memberikan kunci mobilnya kepada sembarangan orang?
Kalau Morgan ingat tentang hotel ini, ia tidak akan pernah datang ke sini.
Kalau bukan karena gadis bodoh itu.
Ah.
Sudahlah.
__ADS_1
Mereka pun pergi menuju rumah Morgan. Ia hampir melupakan Dicky dan pria brengsek itu. Sekarang, Morgan tidak bisa menghubungi Dicky karena ia sudah kehilangan handphone-nya saat ia sedang marah tadi. Tapi Morgan harus mengabarinya, ia tidak ingin Dicky sampai menunggunya di sana.
Morgan menoleh ke arah Meygumi, yang ternyata juga sedang melihat ke arah Morgan.
Kenapa ia memperhatikan aku dengan tatapan demikian? Pikir Morgan.
Morgan jadi merasa risih karenanya.
“Huft ....”
Ya sudah, sekalian saja.
“Boleh pinjam handphone?” tanya Morgan yang ragu, apakah Meygumi bersedia untuk meminjamkan Morgan handphone miliknya, atau tidak.
“Handphone? Buat apa?” Meygumi mengerutkan dahinya, sepertinya ia curiga pada Morgan.
Morgan sudah menduga itu, semua gerak-geriknya pasti akan dicurigai oleh Meygumi. Siapa yang tahan dengan wanita seperti ini?
Dibandingkan dia, Morgan lebih memilih Ara.
“Kalau untuk nelepon cewek itu--”
“Saya ingin menelepon Dicky,” sambar Morgan dengan cepat.
Morgan tidak ingin Meygumi sampai repot-repot menyingkirkan Ara dalam hidupnya. Biar bagaimana pun juga, Ara tidak salah apa-apa.
“Awas kalau macem-macem!” ancamnya yang memberi Morgan peringatan.
Morgan tak menghiraukannya. Meygumi menyodorkan handphone yang ia miliki, dan Morgan pun mengambilnya, lalu mengetik nomor telepon Dicky.
Tak lama, telepon pun terhubung.
“Halo, Dicky.”
“.........”
“Ini saya, Morgan,” jawabnya.
Morgan membuka keras suaranya, lalu ia melemparkan kembali benda itu pada Meygumi, karena tidak akan bagus jika berkendara sembari menggunakan telepon. Ia seperti kelabakan saat menerima lemparan dari Morgan.
Morgan tidak peduli padanya.
Morgan harus fokus menyetir, karena hari masih gelap gulita.
“Loe di mana?” tanya Dicky, membuat Morgan menoleh ke arah wanita ini.
“Saya ada urusan. Btw, thanks ya. Saya hutang budi sama kamu.”
“Tapi cowo ini--”
“Urus saja.” Morgan memotong ucapannya.
“Tapi, Gan--”
“Tut ... tut ....”
Morgan menyudahi pembicaraannya dengan Dicky. Tak sengaja, ia melihat wallpaper handphone milik Meygumi. Semuanya masih menggunakan fotonya.
Morgan tidak ingin, Meygumi masih memaksakan rasa yang sudah lama hilang. Morgan juga tidak ingin dianggap sebagai pria brengsek.
Morgan hanya mencintai Ara saja.
Ia tidak ingin membagi cintanya kepada wanita selain Ara.
__ADS_1
Tanpa sengaja, Morgan sudah terjebak dalam lingkaran yang dapat membahayakan dirinya, dan juga Ara.