
Morgan merasa hanya sendiri, tidak punya siapa-siapa untuk sekedar mengungkapkan perasaan yang sedang ia pendam saat ini.
Hari demi hari ia lewati dengan perasaan kehilangan dan penyesalan. Morgan tidak lagi bisa tersenyum, seperti saat sebelum dirinya mengenal Putri. Ia jadi terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.
Seandainya aku tidak mengajak Putri untuk menonton film waktu itu, ia tidak akan pergi dari sisiku, untuk selamanya, pikir Morgan.
Semua cara sudah ia lewati, demi menghilangkan sosok Putri di pikirannya. Tapi, semua sama saja dan sia-sia belaka. Morgan menjalani kehidupan pada empat tahun yang suram.
Sampai akhirnya, Morgan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S-2 di Jepang. Dengan penuh rasa bersalah, Morgan melangkah, untuk menenangkan diri, dan meninggalkan semua yang telah terlewati selama empat tahun belakangan ini, yang masih saja ia ingat dengan jelas.
‘Selamat tinggal, Putri,’ batin Morgan yang saat itu sedang berada di dalam pesawat.
Sesampainya di Jepang, Morgan mulai berusaha untuk mencari tambahan, dengan bekerja sampingan di sana. Semua pekerjaan ia jalani, demi untuk menyambung hidup. Karena saat itu, Morgan senang sekali minum shochu. Butuh penghasilan ekstra agar ia bisa membeli shochu untuk melepas kepenatan selesai ia belajar dan juga bekerja paruh waktu.
Karena kegemarannya itu, membuatnya mencoba mencari pekerjaan sebagai pelayan di salah satu bar, agar bisa mendapatkan secara cuma-cuma, minuman yang mampu membuat Morgan lupa sejenak dengan segala permasalahan yang ada.
Sembari menyelam, minum air.
Saat Morgan tengah bekerja, ia melihat seorang wanita yang sedang dilecehkan oleh beberapa laki-laki. Morgan yang merasa terusik dengan mereka yang berbuat tidak senonoh di daerah tempat Morgan bekerja, segera menghampirinya.
“Excuse me, can i help you?” tanya Morgan yang masih kaku sekali berbahasa Jepang, sehingga ia memutuskan untuk memakai Bahasa Inggris saja.
“Kansho shinai!!” bentaknya secara tiba-tiba, yang artinya ‘jangan ikut campur.’
Untungnya, sebelum ia memutuskan untuk pergi ke Jepang, Morgan sedikit mempelajari bahasanya. Walaupun masih kaku untuk berbicara, setidaknya Morgan sudah sedikit mengerti dengan apa yang baru saja laki-laki itu katakan.
“I am an employee here. Don't disturb other visitors!”
“Cari mati, kah?” tanya para berandal tersebut.
Mereka satu per satu mulai mengepung Morgan. Morgan yang tak terima kedainya diacak-acak olehnya, segera mengambil sikap tegas. Terlebih lagi, mereka sampai menyentuh perempuan dengan kasar tadi. Morgan tidak akan segan untuk menghabisi mereka.
Terjadi perkelahian yang sengit antara Morgan dan para berandal itu. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Semua orang terdiam kaku, melihat penampilan seni bela diri Morgan yang sangat bagus.
__ADS_1
“Brukkk ....”
Mereka tergulai lemah di atas lantai. Mereka mungkin saja merasakan sakit akibat terkena pukulan Morgan yang cukup keras itu. Morgan tidak mempedulikan keadaan mereka. Ia hanya ingin mereka pergi dari tempatnya dan jangan pernah kembali lagi.
“Awas kamu!”
Mereka semua pun akhirnya pergi dari hadapan Morgan, dan meninggalkan wanita itu bersamanya.
Dengan perasaan khawatir, Morgan pun menghampirinya untuk memastikan keadaannya.
“Kamu gak apa-apa, kan?” tanya Morgan.
Ia seperti memandang Morgan dengan lekat. Per sekian detik, ia hanya diam tak bergeming.
“Hello?” tanya Morgan, membuatnya tersadar dari lamunannya.
“Wakarimasen!” ucapnya sembari membungkukkan badan, yang berarti ‘Aku tidak mengerti.’
Morgan agak lupa, kalau dirinya kini sedang berhadapan dengan gadis Jepang. Morgan tersenyum manis padanya, untuk sekedar menenangkan hatinya yang mungkin saja sedang kacau.
Morgan berkenalan dengannya, dengan harapan bisa melupakan sedikit mengenai Putri. Ia hanya ingin membuka hatinya untuk gadis lain, sehingga bayangan Putri akan hilang selamanya dari hidup Morgan.
Morgan bersamanya setiap waktu. Morgan merasa gadis itu sangat baik padanya. Sampai Morgan berhenti dari pekerjaan paruh waktu yang sedang ia jalani saat ini, dan fokus kepada kuliahnya saja.
Setiap Morgan membutuhkan uang untuk melakukan apa pun yang ia inginkan, gadis itu selalu memberikannya pada Morgan. Seluruh kebutuhan Morgan terpenuhi, setelah Morgan mengenalnya.
Tapi, lama-kelamaan Morgan menjadi iba padanya. Morgan berusaha membuka hatinya dan mencintai gadis itu sepenuh hati.
Setiap hari, Morgan mengajarinya untuk berbicara Bahasa Indonesia. Begitu pun sebaliknya, Morgan yang mempelajari Bahasa Jepang.
Morgan mulai nyaman dengannya saat itu. Morgan hanya beberapa kali menciumnya, tanpa melakukan hal-hal di luar itu, walaupun gadis itu terus-menerus membuat Morgan ingin melakukannya, tapi Morgan tidak mau terjebak dengannya.
Kebohongan yang sudah dipendam dengan dalam, lama-lama pasti akan tercium juga. Saat itu, Morgan mengetahui kalau preman yang pada waktu itu menggodanya, adalah orang suruhannya agar Morgan bisa menjadi miliknya. Mengetahui hal itu, lantas membuat Morgan sangat kesal.
__ADS_1
Morgan tidak menyukai, kalau orang yang ia percaya, tiba-tiba membohonginya seperti itu.
Terlebih lagi, Morgan juga memergokinya sedang bersama dengan pria lain di dalam kamar. Yang membuat Morgan bertambah murka, adalah laki-laki itu yang tidak lebih tampan dari Morgan.
‘Harusnya kalau mau selingkuh, ya lihat-lihat orang, dong! Itu mah masih kalah jauh,’ batin Morgan.
Akhirnya, Morgan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Ia mulai fokus kembali untuk mencari pekerjaan, untuk menghidupi kembali dirinya sendiri.
Morgan mencoba pindah dari daerah itu, dan melamar di salah satu bar terbaik di kota yang saat itu Morgan sambani.
Ia mengenal beberapa teman wanita, yang tak lain adalah partner bekerjanya di sana. Morgan melepaskan rasa penatnya, dan mulai menghambur-hamburkan uang kembali, yang tak lain adalah untuk membeli shochu.
Hidup seperti itu, rupanya tidak membuat Morgan tenang, karena gadis yang bernama Meygumi itu yang terus-menerus menerornya, hingga membuatnya terlihat seperti buron.
Setelah beberapa bulan Morgan di tempat ini, ia mulai berpikir bagaimana cara
supaya dirinya bisa lari dari kejaran Meygumi, dan para pengawalnya itu. Karena, setiap saat mereka selalu datang untuk mengejar dan menangkap Morgan.
Ia sendiri pun tidak mengerti permasalahannya. Morgan sudah seperti buronan di sini.
Waktu demi waktu berlalu, tibalah waktunya ia mendapatkan gelar S-2. Dengan selalu hidup menjadi buronan sepanjang waktu, akhirnya Morgan memberanikan diri untuk menemui Meygumi.
Morgan datang langsung ke rumahnya, untuk sekadar meminta maaf, dan berpamitan padanya.
Mey mungkin sangat terpukul, karena kehadiran Morgan yang tiba-tiba, setelah lama menghilang dari hadapannya. Apa lagi, saat itu Morgan menemuinya berniat untuk berpamitan.
Mey menceritakan pada Morgan kalau keluarganya membangun sebuah hotel di Indonesia, yang rencananya akan dikelola bersama dengan Morgan, saat ia menyelesaikan study.
Tapi, Morgan sudah keburu muak dengan semua hal yang menyangkut tentang Meygumi.
Akhirnya dengan perjuangan ekstra, dan dengan keadaan yang sangat sulit, Morgan pun keluar dari rumah Meygumi, untuk langsung terbang menuju ke Indonesia, hari itu juga.
__ADS_1
...-FLASH BACK MORGAN OFF-...