
Morgan sudah sampai di dalam mobilnya saat ini. Ia duduk sambil mengatur napasnya yang masih tersengal.
Aku tidak ingin perasaan kesalku menjadi tidak terkendali, saat bertemu dengan teman-teman Ara nanti, pikir Morgan.
Ya, walaupun Morgan sudah sedikit berubah dari sebelumnya, tapi tak bisa dipungkiri, sikap kasarnya masih ada padanya. Ia juga masih belum bisa menahan perasaan kesalnya.
Morgan memandang ke arah kemudi, “gila, kenapa saya bisa ketemu sama orang saiko kayak dia, sih?” lirih Morgan dengan kesal.
“Braaaakkk ....”
Morgan menggebrak stir kemudinya.
Aku sangat kesal ketika mengingat kejadian malam itu, yang membuatku mengabaikan keselamatan Ara. Aku muak jika dipaksa mengingat hal-hal yang meyangkut tentang dirinya, pikir Morgan yang sudah ******* dalam kekesalannya.
“Tok ... tok ....”
Seseorang mengetuk kaca mobil Morgan, membuat rasa kesalnya buyar seketika. Morgan melihat siapa yang sedang berdiri dari arah kiri mobil.
“Ckreekk ....”
“Brakk ....”
Belum habis Morgan memperhatikan siapa yang berdiri di depan pintu, orang itu sudah masuk dan duduk di sebelahnya. Morgan yang melihatnya, sangat kaget bukan kepalang.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Morgan dengan nada yang sangat sinis.
Ia baru selesai membereskan tasnya dan memandang ke arah Morgan.
“Kamu bisa gak sih, sedikit aja perhatiin aku?” tanyanya dengan nada sinis.
Morgan menghela napas dengan panjang, ketika mendengar ucapannya itu.
Morgan mendelik, tidak terpikir sama sekali untukku memberikan satu perhatian kecil padanya. Aku sama sekali tidak menaruh hati padanya. Aku hanya mencintai kakaknya, bukan dirinya. Meskipun, dia nampak lebih cantik dari pada Putri, aku tetap tidak peduli dengan keberadaannya, pikir Morgan.
Morgan menyipitkan pandangannya ke arah Farha, “jangan banyak bermimpi,” jawab Morgan dengan nada seperti meremehkan dia.
Ia terlihat seperti tidak bisa menerima dengan yang Morgan ucapkan tadi. Ia tiba-tiba mendekat ke arah Morgan.
Spontan, Morgan pun segera bergerak mundur karena risih dengan kelakuannya itu.
“Mau ngapain kamu?!” tanya Morgan dengan sinis.
“Cuppppsss ....”
Ia berhasil mendaratkan satu ciuman di bibir Morgan, membuat Morgan mendelik tak percaya.
Aku sama sekali tidak menyangka, ternyata seperti ini rasanya keterpaksaan. Aku dipaksa menerima suatu hal tabu yang tidak ingin aku rasakan. Jadi, inilah yang Ara rasakan selama ini, ketika ia tidak menginginkanku, pikir Morgan yang sudah mulai mengerti rasanya keterpaksaan.
__ADS_1
‘Sepertinya aku terkena karma. Ironi sekali,’ batin Morgan.
Sedikit terlihat sesuatu seperti bayangan yang sedang berdiri menghadap ke arah Morgan dari arah hadapannya.
Morgan berusaha melihat bayangan itu. Ternyata, seseorang telah melihat ke arah mereka.
“Brukkk ....”
Spontan Morgan langsung melepaskan diri dari Farha, sampai ia terpental dan menabrak pintu mobilnya lumayan keras.
“Awssss ....”
Morgan merintih kesakitan, karena benturan itu tak sengaja membuat kepalanya menjadi sakit kembali.
Terlihat Farha yang sedang tersenyum jahat ke arah Morgan. Morgan merasa kesal dengan apa yang gadis itu lakukan tadi.
Morgan menatapnya dengan sinis, jika dia laki-laki, mungkin sudah aku hajar habis-habisan kelakuan buruknya itu, pikir Morgan yang sudah terlanjur kesal dengan kelakuan Farha.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Arash sangat khawatir dengan Jess di bar itu. Arash sama sekali tidak diizinkan untuk pergi, membuatnya harus kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Jess, gadis pujaan hatinya.
‘Mudah-mudahan gak terjadi apa pun sama Jessline,’ batin Arash, yang sedari tadi hanya memperhatikan layar handphone-nya saja.
“Kak Arash …,” pekik Ares, yang saat ini sedang tertidur.
Sejak kejadian pagi tadi, Ares belum kunjung sadar dari tidurnya, membuatnya sangat khawatir dengan keadaan Ares.
Saking tidak ingin ditinggal pergi oleh Arash, sejak Ares tertidur tadi, ia selalu bersandar di bahu Arash. Itulah yang menyebabkan Arash tidak jadi pergi menemui Jessline malam ini.
“Kakak di sini, Res,” lirih Arash, yang sesekali mengelus rambut Ares.
Arash menatapnya dengan tatapan sendu, “ternyata ngigau ya,” lirih Arash, yang memastikan keadaan adiknya itu.
“Tok … tok … tok ….”
Seseorang mengetuk pintu kamar hotel Arash, membuat Arash menoleh ke arah pintu kamarnya.
“Masuk,” lirih Arash, yang tidak ingin membangunkan Ares yang ada di dalam pelukannya.
Seorang wanita yang sangat cantik masuk ke dalam kamar Arash. Siapa lagi kalau bukan Bunga, sang pujaan hati Arash pada zaman itu.
Bunga datang dengan membawa sepiring makanan untuk Arash, karena Arash yang sejak pagi tadi sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, karena bahunya yang dipakai Ares untuk bersandar. Arash sama sekali belum memakan sesuatu sejak pagi tadi.
Bunga pun berdiri menghadap Arash, membuat Arash melihat ke arahnya.
“Saya bawain kamu makanan,” lirih Bunga, membuat Arash membuang pandangannya darinya.
__ADS_1
“Tinggalin aja di meja,” ketus Arash, membuat Bunga sendu melihat sikap Arash yang acuh.
Bunga tidak bisa melakukan apa-apa, karena ia sama sekali tidak bisa menimpali sikap Arash yang kasar padanya. Biar bagaimanapun juga, ini adalah kesalahan Bunga.
Bunga menghela napasnya, kemudian segera meletakkan makanan itu di atas meja yang berada di dekat Arash.
“Saya sudah letakkan makanannya di atas meja,” ucap Bunga dengan sendu, tapi Arash masih saja tidak mau menoleh ke arahnya.
Bunga menunduk sendu, karena apa pun yang ia lakukan, tidak pernah berharga di mata Arash.
“Saya permisi ke kamar dulu,” lirih Bunga, Arash masih tidak mau melihatnya.
Bunga berbalik dengan keadaan sendu, mencoba menerima semua yang Arash lakukan padanya.
“Terima kasih,” lirih Arash, membuat langkah Bunga terhenti.
Bunga pun tersenyum ketika mendengar Arash mengatakan demikian.
“Duarrr!!”
“Mama!!” teriak Ares yang tiba-tiba saja bangun dari tidurnya, karena mendengar suara petir yang sangat kencang.
Bunga mendelik, dan segera menoleh ke arah Ares.
“Mama di sini,” lirih Bunga.
Tanpa pikir panjang, Bunga pun naik ke atas ranjang tidur, dan duduk di sebelah kiri Arash. Ares yang sedang ketakutan, segera berpindah posisi menjadi di tengah-tengah mereka, memeluk Arash dan juga Bunga, membuat Arash mendelik karenanya.
Ares mememeluk mereka dengan erat, membuat Arash tak tega untuk membangunkannya.
“Srakk ….”
Hujan mulai turun, membuat suasana malam makin mencekam.
Arash menoleh ke arah Bunga yang sepertinya juga ketakutan setelah mendengar petir yang sangat besar tadi.
Arash menghela napasnya panjang, terpaksa ia harus membatalkan niatnya untuk bertemu dengan Jess malam ini.
Arash membuka handphone-nya, dan segera mengirimkan pesan singkat kepada rekannya.
“Tolong jaga Jessline, jangan sampai pulang sendiri. Sebelumnya, thanks ya, Ham,” pesan singkat yang Arash kirimkan kepada rekannya yang bernama Ilham.
Matanya berat sekali, membuat Arash memejamkan matanya karena sudah tidak bisa menahan kantuk lagi.
Mereka tidur di dalam satu pelukan yang hangat, yaitu dalam pelukan Arash.
...***...
__ADS_1