
Ara menahan kesal, sambil sesekali memandangnya dengan tatapan sinis, karena ia sudah mengacaukan suasana yang canggung ini.
Ara harusnya berterimakasih padanya, tapi di sisi lain, Ara kesal sekali karena rasa penasarannya yang masih belum tersampaikan.
“Haiiissshhhh ....” Ara sudah keburu geram, dan akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan dua manusia tersebut.
Selalu seperti ini.
Di penghujung cerita, selalu Ara yang meninggalkan Morgan.
Ya ... memang alurnya sudah seperti ini.
Jangan demo author-nya ya, hiks ....
Itu lebih baik daripada harus Ara yang ditinggalkan. Seperti Bisma yang meninggalkannya, waktu itu.
Tiba-tiba, Ara teringat dengan Bisma. Bagaimana kabarnya sekarang? Baru beberapa minggu saja, Ara sudah serindu ini dengannya. Padahal, dia juga baru saja mengirimkan pesan singkat kepadanya, tadi.
“Bisma ... apa kabarnya, ya?” lirih Ara memikirkan orang yang sudah jauh di sana.
“Kruuuukkkk ....”
Suara perut Ara yang tiba-tiba terdengar jelas, Ara benar-benar kelaparan kali ini.
“Duh ... laper beneran lagi,” gumam Ara sembari mengelus perutnya.
Apa yang bisa ia makan, sekarang?
“Kore tabetai?” tanya seseorang yang ternyata sudah ada di belakang Ara.
Ara terkejut, dan membalikkan tubuhnya ke arahnya.
Suaranya terdengar halus sekali. Tapi, Ara sama sekali tidak mengerti ucapannya.
Saat Ara membalikkan tubuhnya ke belakang, terlihat ia yang sedang menyodorkan snack penunda lapar kesukaan Ara.
Kenapa Ara bisa menyukainya?
Karena kalorinya sedikit, dan tidak membuat berat badannya melonjak naik.
Ara melirik ke arah wajahnya. Terlihat wajah yang sangat asing baginya.
Pandangan pertama Ara melihatnya, wajahnya tampan sekali dan memiliki kulit putih, matanya pun sipit, khas seperti orang yang berasal dari Negara Sakura.
“Ehh ....” Ara terkejut melihatnya.
Jujur saja, Ara tidak mengerti bahasanya.
“I am sorry. I don't understand what you speak. Can you speak English?” tanya Ara dengan gugup.
Pasalnya, Ara pun belum terlalu gapah mengucapkan kata dengan Bahasa Inggris. Karena Ara tidak pernah mengasah pengetahuan Bahasa Asingnya.
“Tidak, tidak. Aku bisa Bahasa Indonesia, kok,” jawabnya, membuat Ara menghela napas lega.
Akhirnya, Ara tidak harus memakai Bahasa Inggris, kan?
“Oh. Btw, tadi ngomong apa, ya?” tanya Ara yang tiba-tiba teringat dengan yang ia ucapkan tadi.
Ia tertawa kecil, mendengar Ara bertanya demikian.
__ADS_1
Ara mengerenyitkan dahinya, “apa yang lucu?” tanya Ara, yang masih tak paham.
“It's means, mau makan ini?”
“Ohh …,” Ara hanya ber-oh-ria saja.
Dia memandang Ara dengan lekat, “aku gak cuma basa-basi. Apa kamu mau ini?” tawarnya lagi.
Ara bingung, kenapa ia sangat peduli pada Ara? Ara baru saja mengenalnya tadi. Apa dia harus menerima pemberian orang yang baru saja ia kenal?
“Emm ... maaf, tapi gue--”
“Krrruuuukkkkk ....”
Mata Ara membulat, suara perutnya terdengar kembali, membuat Ara malu setengah mati dengannya.
Ara menyeringai tak enak, padanya yang sedang mentertawakan Ara.
‘Duh … ini perut gak bisa diajak kompromi apa yah?’ batin Ara kesal.
“Sudah. Ambil saja,” ucapnya, sembari memberi paksa snack penunda lapar itu.
Ara terkejut, dan tiba-tiba saja, snack itu sudah ada di tangannya sekarang.
“Matane …,” ucapnya sembari berlalu pergi meninggalkan Ara, tapi mata Ara malah mendelik, tak percaya dengan apa yang ia lihat ini.
Apa katanya? Apa dia sedang mencelaku? Apa ada yang salah dengan mataku? Apa ada kotoran mata di sela-selanya? Pikir Ara.
Buru-buru Ara melihat cermin yang berada di sampingnya. Ara memperhatikan secara seksama bola-bola matanya itu. Namun, tidak ada yang aneh dari matanya.
“Gue kena tipu, ya? Dia bilang mata gue kenapa?” tanya Ara yang masih bingung dengan ucapan laki-laki itu tadi.
***
Ara sudah di dalam kelas sekarang. Mereka sedang asyik berkumpul, karena kali ini jam pelajaran sedang kosong, tak ada dosen yang masuk ke kelasnya.
“Eh, Ra,” pekik Fla, sembari menyenggol pelan lengan Ara.
Ara yang sedang mencorat-coret buku latihannya, menjadi buyar setelah ia melancarkan aksinya untuk menjahili Ara.
“Apa …,” tanya Ara dengan nada yang malas.
“Kita kan … udah lama temenan kan, ya?” tanya Fla, membuat Ara mendelik ke arahnya karena tak mengerti dengan yang ia ucapkan.
“Ya. Terus. Bisa jadi,” ucap Ara yang menirukan gaya kuis yang ada di televisi.
Terlihat Fla yang sepertinya menjadi berubah mood karena candaan Ara.
“Ish, udahlah, gak jadi!”
Benar saja. Ia ternyata sudah berubah mood kali ini. Ara tertawa kecil karena melihat Fla yang merajuk di hadapannya.
“Ish, gitu aja ngambek. Kenapa si?” tanya Ara yang berusaha untuk merayunya kembali.
“Gue mau tau rumah loe, nih. Boleh gak, gue, Ray, sama Rafa main ke rumah loe?” tanya Fla, yang sedang duduk di atas meja Ara sekarang, tak ketinggalan juga Rafa dan Ray.
Entah sejak kapan mereka menjadi sering bersama.
Ya, ternyata, tak ada salahnya juga berteman dengan mereka. Mereka cukup baik untuk saat ini, pikir Ara.
__ADS_1
Fla sering membantu Ara mengerjakan PR. Ray sering membantunya mengambilkan sesuatu yang jauh, atau yang tidak bisa Ara jangkau. Kalau Rafa, dia selalu menemani Ara, saat Ara perlu membeli apa pun itu, atau sekedar jalan-jalan saja di mall. Ara jadi tidak perlu lagi berjalan kaki sendiri, seperti saat dia berjalan kaki karena diminta untuk belanja bulanan oleh kakaknya.
Ara sangat menyukai mereka. Sepertinya, mereka tidak hanya mau berteman karena kekayaan Ara saja, tapi benar-benar tulus ingin berteman dengannya.
Tidak seperti teman-teman SMA-nya dulu, yang hanya mau berteman saat Ara berjaya.
Pernah suatu waktu, Ara dan kakaknya berada di titik terendah. Perusahaan mereka mengalami gagal tender, padahal Arash sudah mengeluarkan modal besar-besaran untuk mempersiapkannya.
Nahas, semua gagal karena perusahaan saingannya, yaitu kantor ayah dari teman Ara yang selalu ada untuknya. Tapi hanya saat ia butuh saja.
Ara tidak bisa menolak permintaan dia karena Arash menyuruhnya untuk akur dengannya, agar alur menuju keberhasilan tender bisa berjalan dengan mulus.
Ara tidak mengerti hubungan antara kakak dengan ayah dari temannya itu seperti apa. Arash hanya mengatakan, bahwa dia harus baik kepadanya.
“Ra ....”
“Ra ....”
Ara tersadar dari lamunannya.
Terlihat Fla yang mungkin sejak tadi melambaikan tangannya ke arah wajahnya. Mereka semua terlihat seperti heran sekali.
“Kenapa bengong, hey?” tanya Rafa.
Ara mendadak tertawa, karena membayangkan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan saat zaman Sekolah Menengah Atas, tiga tahun silam.
“Lah ... malah ketawa.”
Mereka semua mungkin bingung dengan sikapnya saat ini.
Ara tersenyum dan memeluk mereka bertiga, secara tiba-tiba. Terjadilah adegan berpelukan seperti Teletubbies.
Ara sangat senang mengenal mereka. Bagaimana cara memberi tahu mereka dengan perkataan yang tidak terkesan sepele?
“Aaaaaaaah so sweet ...,” ucap mereka dengan kompak.
Tak berapa lama kemudian, mereka melepaskan pelukan satu sama lain. Mereka semua nampak bingung dengan sikap Ara.
“Ada apa sih, Ra?” tanya Fla dengan raut wajah penuh keheranan.
Ara tersenyum simpul ke arahnya.
“Iya, tumben amat meluk gini?” Rafael membenarkan perkataan Fla.
“Tau nih … biasanya, kepala gue dijitak mulu ama ini anak,” sambar Ray yang tak terima dengan perlakuan Ara padanya.
Ara semakin cengengesan, mendengar mereka semua bertanya sampai mengeluarkan uneg-uneg yang mereka pendam.
“Terima kasih,” lirih Ara.
Satu kalimat berjuta makna. Mereka semua seperti mengerti ucapan Ara, dan membuat suasana menjadi mellow sekali saat itu.
Bahagia, karena bisa mempunyai mereka. Awalnya, Ara tidak ingin masuk ke dalam kehidupan mereka, bahkan Ara tidak ingin mengenal mereka.
Tapi, semua menjadi lebih indah sekarang. Walaupun, Ara tidak terlalu menguasai materi beberapa mata kuliah sih … tapi, ada Fla yang langsung mengajarkannya, jika Ara mengalami kesulitan dalam pelajaran. Saat Ara sedang tidak bergairah, dia bahkan memberikan contoh soal yang sudah ia buat.
“Gimana nih? Boleh gak kita main ke rumah loe?” tanya Fla.
Ara hanya mengangguk, karena senang sekali, mereka sangat antusias untuk lebih mengenalnya lebih dalam lagi.
__ADS_1
***