Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kepoanisme Arasha 3


__ADS_3

Hari sudah semakin malam. Langit pun sudah berubah menjadi gelap. Matahari sudah terbenam di ufuk barat. Namun, Morgan masih tetap setia menemani Ara.


Ara memandang Morgan yang tengah asyik bermain handphone. Padahal, ia tidak sadar kalau ia sedang ditonton dengan televisi.


“Kamu gak mandi?” tanya Ara.


Morgan masih saja memandang layar handphone-nya.


“Iya. Sebentar lagi,” jawab Morgan dengan lirih, lalu ia meletakkan handphone-nya di atas sofa.


Morgan langsung bangkit dari tempat duduknya, dan merenggangkan ototnya yang pegal.


“Yaudah, saya mandi dulu, deh,” ucapnya.


Ara mengangguk, dan tersenyum ke arahnya.


Morgan mengacak-acak pelan rambut Ara, kemudian segera menuju ke arah pintu keluar, membuat Ara bingung sekali dibuatnya.


“Eh, eh ...,” pekik Ara, Morgan menghentikan langkahnya kemudian memandang ke arah Ara.


“Kenapa?” tanya Morgan dengan bingung.


“Kenapa ke sana?” tanya Ara sembari menunjuk ke arah pintu keluar, “kan, toiletnya ... ke sana ...,” lanjutnya, sembari menunjuk ke arah toilet.


Morgan menggeleng kecil.


“Saya ambil baju ganti dulu,” jelasnya dengan singkat.


Ara hanya ber-oh-ria saja, kemudian Morgan langsung pergi setelahnya.


Ara menunggu Morgan sembari memakan camilan yang ada di atas meja, sembari mengganti channel TV, mencari saluran yang sesuai dengan yang ia sukai.


“Tring ....”


Satu notifikasi masuk ke handphone Morgan, namun Ara tidak menghiraukannya. Ara masih mengganti channel TV untuk mencari program yang seru.


“Tring ....”


“Tring ....”


“Tring ….”


Beberapa notifikasi masuk secara bersamaan. Ara sampai penasaran, siapa yang mengirim pesan beberapa kali kepada Morgan.


Layar handphone-nya terus menyala, membuat Ara semakin penasaran dengan isi dari pesannya itu.

__ADS_1


‘Siapa sih yang ngirim pesan banyak banget?’ batin Ara, yang merasa penasaran.


Ara yang penasaran, melirik ke arah handphone Morgan yang berada di sebelahnya.


‘Buka enggak ya?’ batin Ara bimbang.


‘Tapi, gue harus yakin dong sama dia. Gak boleh kayak anak-anak gini. Masa gara-gara gini doang gue jadi hilang kepercayaan sih?’ batin Ara yang satunya membantah.


Ara semakin bingung dan penasaran dibuatnya. Ia menghela napas panjang.


‘Buka aja deh!’ Ara menetapkan pilihan.


Ia tidak ingin terus merasa badthink pada Morgan. Ara melihat ke segala arah untuk memastikan keadaan. Setelah di rasa aman, ia kembali mempersiapkan dirinya untuk melancarkan aksinya.


Ara berusaha mengambil handphone Morgan. Tapi, tiba-tiba saja Ara melihat Morgan yang sudah hampir sampai ke tempatnya duduk. Ara gelagapan dan tidak jadi mengambil handphone Morgan.


Ara kembali pada sikapnya yang sempurna, agar tidak membuat Morgan curiga padanya.


“Saya mandi dulu, ya?” ucap Morgan, Ara mengangguk kecil ke arahnya.


Kemudian, Morgan pun berlalu meninggalkan Ara di sini. Ara yang masih penasaran, langsung saja membuka handphone-nya itu.


Bodohnya, Morgan sudah tidak mengunci layar handphone-nya lagi, membuat Ara dengan mudahnya membaca seluruh isi handphone.


Ara penasaran dengan isi handphone Morgan.


Foto Ara dan Morgan waktu menonton bioskop bersama, dan juga foto-foto lainnya di album lain, mengenai pekerjaannya.


Kemudian, Ara melanjutkan memeriksa isi whatsapp-nya. Ara tahu dan yakin, banyak sekali wanita yang mengirimi Morgan pesan singkat.


Tapi, Ara berusaha untuk menenangkan dirinya sebelum melihat isi pesan laknat dari para wanita itu.


“Oke, tenang. Gue cuma pengen tahu isinya aja. Gue gak mau permasalahin hal sepele karena gua tau, dia itu ganteng. Wajar dong kalo banyak yang ngejar-ngejar. Yang gak wajar itu, kalau dia yang ngejar-ngejar cewe lain,” lirih Ara sembari mengatur napasnya dan mempersiapkan dirinya.


Dengan ragu, Ara membuka beberapa pesan yang ternyata dari Prof. Handoko, selaku Kaprodi di kampusnya.


Ya! Dia yang mempunyai rambut yang nyaris botak itu, yang telah menghukum Ara untuk menjalani skors selama satu minggu ke depan.


Ara pun mulai membaca isi dari pesannya itu.


“Selamat malam, Pak Morgan. Sehubungan dengan rapat kegiatan ekstra kurikuler yang diselenggarakan tadi sore, hasil rapat sepakat mengundang beberapa tenaga kerja baru untuk bergabung di kampus ini. Sebagaimana, mereka dibutuhkan dalam beberapa bidang ekstra kulikuler. Dimohon kesediaannya untuk menjadi tour guide untuk memperkenalkan beberapa tempat di kampus kita yang berhubungan dengan penempatan tempat ekstra kurikuler. Bisa dilakukan pada hari : Selasa, 20 Desember,” isi pesan dari Prof. Handoko.


Ara membaca lirih pesan dari Prof. Handoko itu, membuatnya mengerti dengan ucapan Morgan waktu itu, yang katanya ingin menghadiri acara rapat kampus.


Jadi, besok mulai diadakan tour guide keliling kampus? Bagus. Terus aku tidak ada di sana ketika mereka semua mungkin saja menggoda Morgan, pikir Ara kesal.

__ADS_1


Ara mulai membaca pesan berikutnya. Hanya membaca dari luar, tanpa membuka isi pesannya. Banyak sekali wanita yang mungkin tergila-gila dengan Morgan.


Bukan mungkin, tapi memang benar!


Banyak sekali nomor baru yang mengirimi Morgan pesan singkat. Tapi, tak ada satu pun yang ia baca. Bahkan, dilihat saja pun tidak.


Setelah beberapa saat, Ara pikir sudah terlalu lama ia melihat-lihat isi pesan dari handphone milik Morgan.


Ara mulai bosan dan mulai kehilangan kesabaran membaca pesan dari semua wanita yang terlalu mendominasi ini.


Ara meletakkan handphone Morgan di posisi semula. Ia sudah bosan melihat isi pesan singkat dari para maniak itu.


Ara mengambil handphone-nya, kemudian mulai membuka grup chat-nya.


Terlihat pesan yang menumpuk terlalu banyak. Ia membacanya satu per satu.


Isinya, Ray dan Rafael mungkin saja sedang bertaruh untuk mendapatkan Farha. Kalau tidak, mereka tidak akan sebising ini di grup, pikir Ara.


Ada 369 chat dan 4 panggilan tak terjawab. Ara membukanya satu per satu dan membacanya dengan lirih.


“Yah, besok gak ada Ara deh,” Rafa.


“Iya, biasanya ada Ara,” Ray.


“Ih lagian pake segala diskors,” Rafael.


“Pokoknya tetep semangat buat kita dan Ara. Walaupun gue belum terlalu kenal sama kalian, tapi gue yakin kok kalian adalah teman yang nantinya bakal nemenin gue,” Farha.


Ara terkesima membaca pesannya itu.


“Makasih semangatnya, cantik,” Ray.


“Dih PD banget loe. Semangatnya buat gue kan, ya?” Rafael.


Ara tertawa kecil membaca pesan konyolnya itu.


“Eh udah-udah, kenapa pada ribut sih?” Farha.


“Hihi, abisan dia begitu banget sih, jadi orang ngiri aja,” Ray.


“Apa sih? Siapa yang ngiri. Jadi kesel!” Rafa.


“Btw, Fla mana, ya? Gak ada kabar sih?”


Ara tertawa kecil sembari memandang handphone-nya.

__ADS_1


“Tset ….”


Ara terkejut saat sepasang lengan melingkar di lehernya dari arah belakang.


__ADS_2