Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Tukang Antar Makanan


__ADS_3

Ilham memandang beberapa peralatan memasak, yang belum pernah tersentuh sejak mereka datang ke rumah ini. Ia melirik ke arah Ara, yang sedang menatapnya dengan sangat senang.


'Sok mau masak, padahal sama sekali gak bisa masak,' batin Ara yang gemas melihat lirikan mata Ilham yang sepertinya memang benar tidak bisa memasak.


"Bagaimana? Mau order aja?" tawar Ara, yang sedikit meledek Ilham, membuat Ilham menelan salivanya dengan kasar.


Ilham pun menyeringai ke arah Ara, menandakan bahwa dirinya setuju dengan tawaran Ara. Ilham pun mengangguk kecil, membuat Ara menggelengkan kepalanya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pengantar makanan pun tiba di kediaman mereka.


"Ting ... nong ...."


Ara memandang ke arah Ilham, "Biar aku aja yang buka--"


"Gak, biar aku aja," pangkas Ilham, yang masih khawatir dengan kondisi perut Ara.


Ara tersenyum, lalu Ilham pun segera keluar untuk mengambil makanan yang ia pesan.


"Cklekk ...."


Ilham membuka pintu rumahnya, dan terkejut melihat sang pengantar makanan.


"Kamu ...," pekik Ilham yang tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Pengantar makanan itu menatap Ilham dengan sangat sinis, membuat Ilham tak sadar menelan salivanya.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Ilham dengan sinis, membuat laki-laki itu mendelik.


"Di mana Ara?" tanyanya, membuat Ilham memasang tampang kesal padanya.


"Ada perlu apa mencari istri saya?" tanya Ilham, membuat Reza yang berada di hadapannya mendelik tak percaya dengan apa yang ia dengar.

__ADS_1


"Jadi benar, kalian sudah menikah?" tanya Reza, membuat Ilham memandangnya dengan sinis.


"Benar. Ada urusan apa kamu datang ke tempat ini? Darimana kamu tahu alamat rumah ini?" tanya Ilham dengan sangat detil, membuat Reza menyunggingkan senyumnya.


"Gak perlu tahu saya dapat darimana. Yang saya perlukan hanya bertemu Ara," bantah Reza membuat Ilham mengerenyitkan dahinya.


"Ra ... tolong ke sini sebentar, bantu saya bawa makanan," teriak Ilham dengan suara yang lantang, membuat Ara menghampirinya dengan cepat.


Ara mendelik, ketika ia melihat di hadapannya kini sudah ada Reza yang sedang memegang semua makanan yang ia pesan.


"Reza ... ada apa kamu ke sini?" tanya Ara tak percaya dengan kedatangan Reza yang mendadak.


"Ja-jadi benar, loe udah nikah sama dia, Ra?" tanya Reza yang tak percaya dengan keadaan.


"Iya, gue udah nikah sama Kak Ilham. Memangnya ... ada ucapan atau perkataan gue yang main-main, selama ini?" ucap Ara dengan tegas, membuat Reza mendelik tak percaya mendengarnya.


"Huft ...."


Reza menghela napasnya dengan panjang, karena merasa sudah tidak ada harapan lagi untuknya.


"Hah? Jangan ngaco, deh!" bentak Ara, "emangnya, loe mau minta apa?" tanya Ara yang agak penasaran dengan permintaan terakhir Reza padanya.


Reza memandang Ara dengan dalam, "Gue mau minta waktu loe seharian full buat nemenin gue ke mana pun gue mau pergi," jawab Reza membuat Ara dan Ilham mendelik tak percaya mendengarnya.


"Hah? Loe gila, Za?" tanya Ara dengan sinis, membuat Reza semakin mengepalkan tangannya dengan kencang.


"Kenapa, Ra? Loe gak mau ngasih gue sehari aja dari waktu yang loe punya?" tanya Reza membuat Ara melirik ke arah Ilham.


Ilham hanya bisa terdiam pasrah dengan permintaan Reza. Ia tidak bisa melarang Ara, kalau Ara senang melakukannya.


"Saya tidak melarang, tetapi juga tidak memperbolehkan," gumam Ilham yang membuat Ara mendelik heran dengan jawabannya.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Ara yang tak mengerti dengan apa yang Ilham katakan.


"Semua keputusan ada di tangan kamu," jawab Ilham dengan sendu, membuat Ara mendelik tak percaya mendengarnya.


Ara pun kembali memandang ke arah Reza yang terlihat sangat kesal karenanya.


"Gue sayang banget sama loe, Ra! Kenapa loe tega mengambil keputusan besar begini, sih?" tanya Reza yang kesal dengan keputusan yang sudah Ara ambil.


Ara memandang Reza dengan tatapan yang tidak paham, "Hah? Bukannya loe yang udah tega ambil keputusan besar, di hari ultah loe, ya? Kenapa sekarang tiba-tiba loe muncul, dan menyalahkan gue?" bantah Ara, yang langsung menyerang balik ke arah Reza membuat Reza tak bisa menerimanya.


"Gue ngelakuin ini untuk loe, Ra! Supaya loe gak beban mikirin hidup gue yang udah tinggal menghitung hari--"


"Sampe loe lupa tentang dampak yang akan gue terima?" pangkas Ara, membuat Reza terdiam tercengang mendengarnya.


"Apa?" tanya Reza tak percaya dengan apa yang Ara katakan.


"Apa yang loe dapet, hah? Gue selama beberapa bulan ke belakang, selalu berusaha buat ngelupain loe! Berbagai cara udah gue lakuin, sampai akhirnya gue trauma sama yang namanya cinta. Akhirnya, gue mulai nyari bantalan untuk pelampiasan rasa kecewa gue, dan akhirnya gue nerima Bisma jadi pacar gue!" ucap Ara yang sudah tak tahan dengan amarahnya yang ia pendam selama ini.


Reza mendelik, "Apa? Jadi, loe nerima Bisma cuma buat jadi bantalan rasa kecewa loe aja sama gue?" tanya Reza yang baru mengetahui tentang itu.


Ara menatap Reza dengan mantap, "Tadinya begitu. Di sisi lain, gue juga kesel karena Morgan yang selalu deketin gue. Makanya gue deketin Bisma. Ternyata, Bisma sama aja kayak laki-laki hidung belang kayak loe!"


"Tapi gue gak seperti yang loe pikir--"


"Pada masa itu!" pangkas Ara, membuat Reza kembali mendelik.


"Pada masa itu, gue mikir kalau loe adalah cowok hidung belang. Bisma juga gak lebih dari sekadar pria brengsek yang pernah gue kenal! Beruntung Morgan nyelametin gue, tapi pada akhirnya dia juga yang udah dorong gue ke dalam permasalahan yang harusnya gue lakuin dengan Bisma waktu itu," ucap Ara menjelaskan, membuat Ilham dan Reza mendelik tak percaya mendengarnya.


Ilham seketika menjadi lemas mendengar ucapan Ara yang terlalu berterus-terang. Ia terlalu sakit mendengar kebenarannya langsung dari mulut Ara, padahal Ilham sudah tahu kalau Ara mengandung pun, karena Morgan.


"Jadi gue mohon sama loe, jangan pernah muncul lagi di hadapan gue! Gue udah punya suami yang sayang banget sama gue, dan nerima gue apa adanya. Gue gak akan sekalipun ngecewain dia, bahkan kalau gue mau pun, gue gak akan pernah ngelakuin itu, karena gue hormat sama suami gue!" gumam Ara, membuat Reza seketika mendelik, dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Ilham seketika mendadak menjadi lega karenanya. Akhirnya, Ilham menang kali ini.


Ara mengambil makanan yang Reza bawa, "Jangan pernah loe injak rumah ini lagi!" bentak Ara dengan kasar, dan langsung meninggalkan mereka di sana.


__ADS_2