
Akhirnya Morgan berhasil membuka pagar rumah Ara, dan segera memasuk ke dalamnya.
Ara melontarkan senyuman ke arah Ilham.
Ilham tiba-tiba saja memperhatikan wajah Ara. Gejolak di hatinya mendadak menggelora, ia tiba-tiba saja ingin mengecup kening Ara.
'Apa boleh?' batin Ilham yang tidak kuasa menahan gejolak di dalam hatinya yang terus-menerus bergejolak.
Tatapan Ilham itu, membuat Ara mendadak salah tingkah dibuatnya.
"Lho kenapa, Kak?" tanya Ara yang bingung dengan reaksi Ilham yang sedari tadi hanya memperhatikannya saja.
Ilham pun tersadar dari lamunannya, "Sorry, Ra. Bisa diam sebentar nggak? Sepertinya ada sesuatu di kening kamu," ucapnya, membuat Ara khawatir dengan sesuatu yang Ilham lihat.
"Ih ... ada apa, Kak?" tanya Ara dengan panik.
Ilham pun mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ara. Tangannya tidak tinggal diam, ia mulai menyentuh pipi Ara.
"Tunggu sebentar ya, Ra. Diam dan jangan gerak," ucap Ilham memberi aba-aba.
Ara tidak merespon ucapan Ilham, karena sudah terlalu takut dengan hal aneh yang sedang Ilham lihat. Padahal, Ara tidak tahu apa yang Ilham maksudkan.
Melihat wajah Ara dari dekat seperti ini, membuat Ilham semakin tak sanggup menahan perasaannya.
'Andai kamu milik saya, Ra,' batin Ilham yang berandai-andai kalau saja Ara adalah miliknya, pasti ia sudah mengecup keningnya dengan lembut sejak tadi.
"Tseet ...."
Morgan pun datang dari arah pintu masuk, dan mendelik seketika, karena melihat Ara yang dari arah Morgan memandang, seperti sedang bercumbu mesra dengan laki-laki yang Morgan temui pagi itu.
Inilah batas kesabaran Morgan.
"Bajingan!" Morgan berteriak dari arah belakang Ilham, membuat Ara terkejut dan segera melihat siapa yang yang sedang berbuat ulah malam-malam seperti ini.
Morgan seketika menarik kerah kemeja Ilham dengan kasar, sampai Ilham tersungkur ke lantai.
"Brukk ...."
Ara mendelik kaget, karena melihat Morgan yang tiba-tiba saja menyerang Ilham.
__ADS_1
"Morgan!" pekik Ara, yang tentu saja diindahkan oleh Morgan.
Morgan yang sangat kesal, wajahnya kini terlihat berwarna merah padam. Morgan segera menindih Ilham dengan cepat, membuat Ara menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Ara mendelik, kenapa Morgan bisa ada di sini? Kenapa dia tiba-tiba saja menyerang Ilham seperti itu? Pikir Ara yang tak tahu harus berkata apa lagi.
"Apa-apaan nih?" tanya Ilham seperti hendak melawan Morgan, tetapi ia tidak bisa karena Morgan yang mendominasi keadaan saat ini.
"Bukkk ... bukkk ...."
Tanpa basa-basi, Morgan lantas menghajar Ilham habis-habisan, tak memedulikan keadaan sekelilingnya. Yang ia tahu saat ini, adalah bagaimana caranya ia menghabisi orang yang sudah menyentuh kekasihnya.
Ara hanya diam, tidak tahu harus berbuat apa. Ara sangat khawatir dengan keselamatan Ilham. Tapi ia takut dengan kondisi Morgan yang kini emosinya sedang meluap-luap.
Kejadian kekerasan di dapur ini, mengingatkan Ara dengan kejadian ayah dan ibunya. Ara memandang mereka dengan deraian air mata.
"Bajingan! Seenaknya berbuat mesum sama cewek orang!" teriak Morgan, yang lalu melanjutkan menghajar Ilham habis-habisan.
Ara sangat kaget dengan pernyataan yang baru saja diucapkan Morgan.
Apa katanya? Berbuat mesum dengan siapa? Pikir Ara yang kebingungan dengan yang Morgan ucapkan.
Melihat Ilham yang sudah tidak bisa membalikkan keadaan, membuat Ara semakin terdorong untuk menolong Ilham.
"Gan, cukup Gan!" bentak Ara, membuat Morgan menoleh ke arahnya.
"Diam kamu!" Spontan Morgan langsung membentak Ara dengan sangat keras.
Terlihat matanya yang kini sudah berubah menjadi sangat merah, dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Degg ...."
Hati Ara terasa kacau sekali, saat Morgan membentaknya dengan sangat kencang seperti itu tadi. Tubuh Ara seketika bergetar, ia tidak mampu lagi untuk berjalan ke arahnya, bahkan untuk berdiri saja Ara sudah tidak mampu.
Morgan kembali menoleh ke arah Ilham yang sudah hampir tak sadarkan diri. Morgan kembali menghajar Ilham dengan cara membabi buta.
"Brukkkk ...."
Ara sudah tidak mampu untuk berdiri lagi. Tubuhnya sudah lemas, tak berdaya melihat Ilham yang terbaring lemah karena dihajar habis-habisan oleh Morgan. Tapi biar bagaimana pun juga, itu bukan sepenuhnya kesalahan Ilham.
__ADS_1
"Berhenti, Gan. Aku mohon," gumam Ara dengan sangat lirih, yang bahkan sudah tidak mampu untuk berbicara lagi.
Rasa takutnya membuatnya tanpa sadar mengeluarkan air mata dengan derasnya. Ara tidak tahu, ia menangis karena Ilham atau karena sikap kasar Morgan terhadapnya tadi. Semua sudah tercampur menjadi satu.
Melihat Ilham yang sudah lemas terkulai, dan juga ia sudah merasa kalau temannya benar-benar sudah melewati batas, Dicky pun segera turun tangan.
"Gan, udah cukup!" Dicky berusaha melerai Ilham dan Morgan.
Dicky menarik paksa tubuh Morgan, namun tidak semudah itu Morgan yang buas, melepaskan mangsanya.
"Lepasin gue!" teriak Morgan, yang spontan menarik kembali tangannya yang sempat dibelenggu oleh Dicky.
"Brakk ...."
Dicky terpental beberapa meter ke belakang, karena tenaga Morgan yang terlalu kuat, sehingga ia tidak bisa menahannya.
Melihat Dicky yang terpental seperti itu, Ara pun tidak bisa berbuat apa pun lagi. Ia hanya bisa menonton tragedi, yang sebenarnya hanyalah kesalahpahaman belaka.
Tak menyerah, Dicky berusaha kembali melerai Morgan. Kali ini mungkin Dicky menyiapkan tenaga lebih daripada yang tadi.
"Udah, Gan!" bentak Dicky, yang secara paksa melerai mereka hingga akhirnya dia berhasil memisahkan Morgan dari Ilham yang sudah tak berdaya itu.
"Udah Gan, cukup! Loe udah keterlaluan!" bentak Dicky sembari tetap memegangi kedua lengan Morgan.
Tangan Morgan kini sudah terbelenggu sepenuhnya oleh Dicky. Karena sudah menggunakan banyak tenaganya tadi, kini Morgan sudah tidak bisa melepaskan tangannya lagi dari cengkeraman Dicky.
"Dia yang udah keterlaluan! Seenaknya berbuat mesum sama cewek orang!"
Emosi Morgan masih saja memuncak. Baginya, apa yang baru saja ia lihat tadi, sudah cukup jelas baginya. Ilham sudah berbuat mesum dengan kekasihnya.
"Loe belum tahu kejelasannya, Gan. Enggak usah menangin emosi loe! Gue tau jiwa Loe lagi terusik sekarang," ucap Dicky berusaha menenangkan Morgan, tetapi Morgan tidak bisa mencerna perkataannya.
Apa yang Morgan dengar dari Dicky, hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan.
Morgan mendelik, "Gak usah sok nasehatin gue! Apa yang gue lihat sekarang sudah cukup jelas, dan nggak ada yang perlu dibicarakan lagi," bantah Morgan dengan kesal.
Ilham kini sudah tidak bergerak, dan keadaan Ara saat ini sudah menangis dan tertunduk lemas. Tapi, itu semua belum cukup untuk membuat emosi Morgan reda.
"Ini nggak seperti yang kamu bayangin, Gan," gumam Ara lirih sembari tetap menunduk.
__ADS_1